Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 48


__ADS_3

kriiiing... kriiiiing... kriiing...


Suara berisik itu berulang-ulang mengejutkan seorang anak gadis yang tengah terbuai dengan mimpinya. Alika meraih jam beker itu dan menekan tombol off alarmnya. Cewek itu benar-benar kesal mendengar suara jam beker yang selalu meneriakinya setiap pagi. Kenapa harus dibuat jam beker yang begitu berisik, apakah terlalu sulit membuat alarm dengan suara yang merdu?


Baru saja Alika memulai mimpi indahnya bertemu dengan Lian yang saat ini mungkin juga sedang tertidur lelap di ibukota sana, tiba-tiba harus dibangunkan hanya untuk mematikan sebuah alarm.


    “Hhoooaaammm…… “


Alika masih malas membuka matanya. Udara kota Yogya yang sejuk tapi lumayan membuat menggigil, akan membuat siapapun memilih belama-lama di atas tempat tidur. Alika memang bukan manusia kutub, tapi cewek itu selalu bersahabat dengan hawa dingin layaknya seekor penguin yang tidak akan betah dipanggang teriknya sinar matahari.


    “Alika… Mau sampai kapan tidurnya?! Ini sudah jam 11 siang!”


Teriakan yang menggelegar bagaikan halilintar itu akhirnya mampu menyeret Alika kembali ke alam nyata. Karena masih belum sepenuhnya sadar dan teriakan mamanya itu bagaikan peluit seorang pelatih lari, dalam sekejap Alika langsung melesat ke luar menuju sumber suara itu.


    “Ada apa, Ma??? Kebakaran ya???” Tanya Alika linglung.


    “Iya! Mama yang kebakaran karena anak perawan Mama jam segini masih tidur pulas di kamar!” teriak Mama sambil menjewer terlinga anak kesayangannya.


    “Aduhh…! Sakit, Ma… Iya ini Alika juga udah bangun. Baru juga jam 11 udah diributin. Biasanya kalau libur Alika juga tengah hari baru bangun,”


Mama semakin melotot mendengar jawaban dari anaknya yang sekarang mulai kelewat manja.


    “Kamu kapan dewasanya sih, Al. Ampun deh Mama punya anak kayak kamu! Alvin saja yang cowok sudah bangun dari subuh tadi. Lha kamu yang anak perempuan malah enak-enakan tidur sampai siang bolong begini.”

__ADS_1


    “Iya Mama sayang… Alika salah! Puaskan?? Udah ya Alika mandi dulu…”


    “Mau mandi apa balik tidur lagi, Al?”


Papa yang sedang sibuk dengan pekerjaan di laptopnya ikut menyela pembicaraan ibu dan anak itu.


    “Udah deh, Pa. Nggak usah ikut-ikutan. Alika udah kenyang pagi-pagi dapat ‘sarapan’ dari Mama.”


Cewek itu tidak lagi menghiraukan omelan kedua orang tuanya dan memilih mengundurkan diri dari area perang keluarga. Saat melenggang menuju kamarnya, Alika menangkap basah seorang cowok yang dari tadi terus saja memperhatikan gerak-geriknya.


Cowok itu memang berada di dalam kamar, tapi kamar itu menghadap tepat ke ruang keluarga yang sedari tadi menjadi setting ‘drama bangun tidur’nya. Dan tak pelak semua adegan Alika diomeli Mamanya menjadi tontonan gratis untuk cowok itu.


Entah apa yang Alika mimpikan semalam sampa-sampai harinya di awali dengan berbagai hal yang tidak menyenangkan. Berawal dari omelan Mamanya dan sekarang berakhir dengan cengiran mengejek dari sepupunya yang diam-diam selalu menatapnya dengan penasaran.


Alika sekarang baru menyesali keputusannya ikut ke kota kelahiran Mamanya ini. Andai saja ia memilih tinggal di rumah, pasti harinya akan di awali gelak tawa bersama teman-temannya. Sepertinya Alika mulai terkena syndrome Home Sick, karena tanpa alasan yang jelas ia mulai merindukan kicauan cerewet Nadia, keisengan pacar sahabatnya itu, dan senyuman Lian.


Untuk yang satu itu Alika benar-benar merindukannya. Rindu yang akan membuat dadanya meledak saking tidak kuat menahan rasa yang tidak pernah tersampaikan. Kenapa persahabatannya dengan cowok itu harus berakhir tragis seperti ini?


Mungkin semua ini kesalahan Alika yang tanpa pikir panjang langsugng menyatakan perasaannya kepada Lian. Dan hasilnya bukan hubungan cinta yang didapat, malah persahabatan mereka yang rusak. Kebodohan memang datangnya tidak bisa disangka-sangka.


    “Bengong ajah, Mbak? Ntar kesambet lho…”


Desiran napas yang hangat membuyarkan semua lamunan Alika. Napas itu begitu dekat dengan telinganya, bahkan aroma pasta gigi dari orang itupun bisa tercium oleh hidung Alika. Seketika Alika tersentak dan membalikkan badannya ke belakang.

__ADS_1


    “Ngapain kamu?! Bikin kaget ajah!!”


    “Salah siapa ngelamun di depan kamar orang,”


Alika baru tersadar kalau sejak tadi dia hanya mematung tanpa melakukan sesuatu yang jelas. Betapa malunya Alika setelah ketahuan memperlihatkan tampang bloonnya di depan kakak sepupunya.


    “Lha biar… emang ada tulisan dilarang mikir di depan pintu?! Yang ada dilarang parkir di depan pintu…”


Alvin tidak bisa menahan tawanya mendengar jawaban Alika yang menurutnya nyleneh.


    “Hahaha… Emang terserah kamu mau mikir dimana ajah. Tapi cewek cantik kayak kamu lebih pantes mikirnya sambil duduk jadi nggak kelihatan bloonnya,” goda Alvin sambil memegang lembut dagu Alika.


    “Apa kamu bilang?! Bloon?!!” desis Alika yang tak menyangka akan mendengar kata itu dari mulut cowok yang baru sehari bertemu dengannya.


    “Nggak usah marah gitu… Ntar cantiknya hilang lho…” Alvin semakin bersemangat menggoda Alika yang mulai tampak bête namun menurut Alvin itu yang membuat Alika terlihat menggemaskan.


    “Udah buruan mandi, ntar aku anterin kamu keliling Yogya.” Sebelum berlalu meninggalkan Alika, cowok itu menyempatkan diri untuk mengacak pelan kepala Alika.


Selama beberapa detik Alika terdiam. Dia memandangi Alvin yang sedang memanasi motor kesayangannya. Entah kenapa hatinya terasa bergetar saat itu. Terasa nyaman dengan perlakuan Alvin. Hal itu membuatnya kembali teringat dengan Lian.


Aaahh!! Sudahlah! Lupakan Lian.


Cowok yang bahkan tidak pernah sedikitpun memikirkan hatinya harus secepat mungkin dihapus dari memori ingatannya. Bahkan kalau diingat lagi, sampai detik ini belum sekalipun cowok itu menghubunginya untuk sekedar menanyakan kabar Alika. Sepertinya dimana-mana semua cowok sama saja. Hanya sebatas memberi harapan palsu –alias PHP- tanpa berniat untuk serius.

__ADS_1


__ADS_2