Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 34


__ADS_3

Belum sempat Alika menjawab, Lian sudah memacu motornya dengan kencang laksana macan mengejar mangsanya. Meski awalnya Alika menjerit-jerit ketakutan, dalam sekejap jeritan itu sudah berubah menjadi canda tawa yang mengiringi perjalan mereka menuju Pantai Sanur.


Apalagi dengan kecepatan motor yang luar biasa itu, mau tak mau Alika harus berpegangan erat pada pinggang Lian. Dan tentu saja itu membuatnya kegirangan. Kapan lagi ada kesempatan untuk memeluk Lian sedekat itu. Meskipun sebagai sahabat pelukan bukan lagi hal yang aneh buat mereka, tapi di saat hati sudah ditumbuhi cinta akan menjadi berbeda ceritanya.


Di sepanjang perjalanan tak henti-hentinya mereka bersendau gurau. Saling mengejek dan mencela sifat masing-masing. Bahkan tak jarang keduanya meributkan hal-hal yang tidak penting. Seperti kenapa di Ubut lebih banyak ditanami padi dari pada kedelai. Kenapa masyarakat Ubut lebih suka bercocok tanam dari pada menjadi busnissman. Semua itu seperti mencairkan kekerasan kepala satu sama lain.


Tak terasa setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, Alika dan Lian sampai di Pantai Sanur. Karena masih sangat pagi, pantai tersebut tampak sepi dari berbagai macam aktivitas. Segera setelah turun dari motor Alika langsung berlari menuju bibir pantai. 


    “Seger banget ya udaranya? Beda jauh sama Jakarta.” Alika meregangkan badannya sambil menarik napas panjang untuk menghirup udara pagi yang sejuk.


    “Jelas aja, Al. Jakarta penuh polusi gitu.” Jawab Lian sambil lalu dan mulai berlari-lari kecil di tepian pantai berpasir putih itu.


Alika menggulung celananya dan berjalan pelan menyusuri hamparan pasir putih bersih yang memijat lembut telapak kakinya.


Pantai Sanur memiliki panjang kurang lebih 3 kilometer dengan garis pantai menghadap ke timur sehingga membuat pantai ini menjadi primadona para wisatawan untuk menikmati matahari terbit yang sayang untuk dilewatkan saat berlibur ke Bali.


    “Yan, gue boleh nanya sesuatu nggak?” tanya Alika saat Lian menyejajarkan langkah di sampingnya.

__ADS_1


Lian mengangguk, “Boleh ajah. Asal nggak nanya hal-hal yang privasi.”


Alika tampak ragu-ragu untuk mengutarakan pertanyaannya. Dia takut kalau pertanyaan itu akan menyinggung Lian dan malah memancing emosinya.


    “Katanya mau nanya, kok malah diem?” tanya Lian heran.


    “Mmm... Gue kan udah lumayan lama sahabatan sama lo, tapi kok lo nggak pernah cerita soal cewek yang lagi deket sama lo ya?”


Alika menunggu beberapa saat, tetapi tidak ada respon apapun dari Lian. Alika tidak berani menatap mata Lian langsung. Pikirannya was-was, takut kalau Lian tersinggung dengan pertanyaannya. 


    “Gila! Dalem banget omongan lo. Udah kayak orang tua ajah.” Alika tertawa sebentar lalu kembali melanjutkan ucapannya, “Tapi masak lo nggak pernah punya rasa yang spesial sama cewek? Suka misalnya.”


    “Pernah. Gue pernah naksir sama cewek, tapi gue nggak berani ngomonginnya.”


    “Kenapa? Lo takut di tolak?”


    “Bukan itu alasannya. Cewek yang gue suka itu udah punya pacar. Ya walaupun mereka pacaran karena paksaan orang tua.”

__ADS_1


    “Dijodohin gitu maksud lo?”


    “Kurang lebih gitu. Tapi gue tau betul kalau cewek yang gue suka itu nggak pernah cinta sama pacaranya meskipun udah jalan 3 tahun.”


    “Kok gue ngerasa nggak asing sama cerita lo, Yan? Lo nyindir gue ya?”


    “Gue bukannya nyindir, tapi kurang lebih nasibnya sesial kisah cinta lo sama Radit itu,” Lian terkekeh sambil menikmati wajah sahabatnya yang sedang manyun itu.


    “Sialan lo ngatain kisah cinta gue sial! Asal lo tau ajah, ini semua nggak bakal kejadian kalau cowok idiot itu mau menolak perjodohan orang tua gue.”


    “Ya udalah, Al. Lo nikmati ajah. Toh dia setia sama lo kan?” tanya Lian mencoba memancing pembicaraan dengan Alika. Dia ingin membuktikan ucapan Dony tempo hari benar atau hanya dugaannya saja.


    “Gue nggak yakin sama Radit, Yan. Maksud gue soal kesetiaannya itu.”


    “Emang dia pernah ketahuan jalan sama cewek lain?”


    “Nggak tau juga gue. Peduli apa gue ngurusin hidupnya dia.”

__ADS_1


__ADS_2