Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 19


__ADS_3

    “Lo nggak perlu diet. Gue lebih suka lo yang apa adanya,”


Tanggapan Lian yang singkat itu sedikit mengusik ketenangan hati Alika. Namun setelah diperhatikan dengan seksama, nampaknya Lian tidak benar-benar serius mengucapkan kata ‘suka’ itu.


Alika tak habis pikir, kenapa dia selalu terbawa suasana setiap kali cowok itu bertingkah sedikit ramah pada dirinya. Padahal Alika sering mendapatkan perlakuan yang lebih spesial dari itu, tapi tetap biasa-biasa saja. Sekarang apa bedanya dengan Lian.


    “Al, lo nggak mau minum wine nya?”


    “Hah?! Apa??? Sorry… lo tanya apa barusan?”


    “Lo boleh kekenyangan, tapi jangan sampai ketiduran juga,”


    “Gue cuma lagi kepikiran sesuatu ajah. Nggak sampai ketiduran!”


    “Terserah lo! Sekarang lo mau kemana? Pulang apa gue anter ke rumah cowok lo itu?!”


Dengan kesal Lian meraih gelas wine yang ada di tangan Alika dan meminumnya dengan sekali tegukkan.

__ADS_1


    “Kok lo nyerobot minuman gue!”


    “Habisnya lo bengong ajah dari tadi. Kepikiran cowok lo ya?!” tanya Lian sambil mengusap sudut mulut Alika yang belepotan cream keju.


    “Gue nggak lagi mikirin dia! Kita pulang ajah. Males gue jalan sama cowok jutek kayak lo!”


Serta merta Alika bangkit dari duduknya dan bergegas meninggalkan Lian, sampai cowok itu menariknya kembali hingga Alika terjebak dalam pelukan cowok itu.


    “Lo boleh ngambek, tapi hati-hati kalau jalan.” Lian melepaskan pelukannya dan menatap lembut ke wajah Alika, “Nggak lihat apa kalau ada orang lewat”.


Alika menoleh dan melihat seorang pelayan berdiri mematung sambil membawa sebuah nampan ditangannya. Pelayan itu tampak tersipu melihat adegan drama yang diperagakan Lian dan Alika.


Sebuah suara dentuman cukup keras terdengar. Bukan... Itu bukan suara erupsi atau sejenisnya. Itu hanya suara detak jantung seseorang -atau mungkin dua orang- yang berpacu lebih cepat dari biasanya.


Dan akibat dari cara kerjanya yang tidak biasa itu, aliran darah yang naik ke pipi Alika menjadi lebih banyak. Hingga menciptakan semburat merah yang membuat wajah Alika tampak merona.


    “Sorry, gue…”

__ADS_1


    “Ya udah, nggak papa. Sekarang kita pulang ajah,”


Lian meletakkan tangannya di pinggang Alika sembari membimbing cewek itu berjalan melewati sekumpulan orang yang sedari tadi ternyata menaruh perhatian pada mereka. Rasa senang sekaligus malu tidak bisa disembunyikan dari wajah Alika. Sampai-sampai dia harus berjalan dengan menundukkan kepala.


Dinner malam ini bisa dikatakan berjalan sukses tanpa hambatan. Walau sempat ada sedikit perang mulut, namun tidak sampai menimbulkan kekacauan seperti biasanya.


Hubungan Alika dan Lian juga mulai membaik. Tetap dengan cara bicara yang jutek dan saling sindir, tapi tidak ada lagi tatapan tajam yang bisa memicu emosi keduanya. Meskipun belum bisa tertawa bersama, tapi setidaknya perkembangan yang ada saat ini sudah jauh lebih baik jika dibandingkan awal pertemuan mereka.


Selesai makan malam, Alika dan Lian tidak langsung pulang ke rumah. Mereka berhenti sejenak di taman kota sampai waktu menunjukkan pukul 11 malam.


    “Makasih udah nganterin gue pulang.” Ucap Alika sesampainya mereka di depan rumah.


    “Itu emang udah tugas gue. Karena gue yang bawa lo keluar.”


Alika menghirup napas dalam-dalam untuk meredam kekesalannya kepada Lian. Gila ini cowok! Kayaknya sentimen banget sama gue!


    “Gue masuk dulu.”

__ADS_1


Setelah Alika menutup pintu, mobil Lian langsung melesat meninggalkan rumah Alika tanpa si pengemudi mengatakan sepatah kata pun.


__ADS_2