Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 29


__ADS_3

    “Lo manis juga kalau nggak banyak tingkah kayak gini. Gimana bisa gue lama-lama benci sama lo?” gumam Lian sambil menyeka ujung rambut yang menutupi wajah Alika.


Tanpa sepengetahuan Lian, ternyata cewek yang kelihatannya sedang tertidur pulas itu sudah bangun sejak tadi dan hanya enggan untuk membuka matanya. Alika bisa merasakan kalau ada tangan yang membelai kepalanya. Dan dia tersentak saat merasakan ada hembusan napas yang mendekat ke arahnya.


Seketika mata cewek itu terbuka lebar tepat saat bibir Lian sudah sangat dekat dengan bibirnya. Hanya tinggal beberapa centi jarak yang memisahkan bibir mereka untuk tidak bertautan. Hal itu membuat Lian terkejut dan salah tingkah. Cowok itu hendak menarik wajahnya, tapi Alika malah kembali menutup matanya.


Semburat merah menjalar di kedua pipi cewek itu. Dahinya sedikit berkerut, entah karena ketakutan atau terkejut melihat wajah Lian yang begitu dekat dengan wajahnya. Bibir Alika merekah seolah menggoda Lian untuk segera menciumnya. Dalam hati Lian tertawa geli melihat sikap Alika yang menurutnya manis.


Terbelsit di benak Lian untuk bermain-main dengan cewek itu. Bukannya mencium atau semacamnya, Lian justru hanya diam menatap Alika yang masih menutup mata di hadapannya. Perlahan-lahan Alika membuka matanya yang terlihat heran melihat Lian hanya diam sambil tersenyum menatapnya. Alika mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan Lian saat ini.


Lian semakin geli melihat wajah Alika yang kebingungan. Cowok itu lalu kembali mendekatkan wajahnya ke hadapan Alika. Dan sekali lagi Alika menutup matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Pipinya yang selalu terlihat merona kini tampak semakin memerah.


Hal itu membuat Lian semakin bersemangat untuk meneruskan rencananya. Tapi cowok itu tidak benar-benar berniat untuk mencium Alika. Tidak di bibirnya. Karena tiba-tiba saja Lian mengarahkan ciumannya ke kelopak mata Alika yang menutup tanpa celah.


    “Lo ngapain nutup mata? Masih ngantuk?” bisik Lian di telinga Alika.


Desiran napas Lian yang lembut membuat sekujur tubuh Alika mengejang bagaikan mendapat sengatan listrik. Perasaannya menjadi hangat. Sekarang Alika semakin yakin kalau ada perasaan lain di dalam hatinya untuk Lian.

__ADS_1


Mata Alika masih tertutup. Dia tidak berani melihat wajah Lian secara langsung, setidaknya dengan wajahnya yang sedang merah padam karena menahan malu. Berbeda dengan Lian yang malah semakin gemas melihat Alika tidak kunjung membuka matanya.


Cup !


Cowok itu kembali mencium Alika. Tapi kali ini dia memberikan ciumannya di kening Alika.


Karena tidak tahan dengan ulah Lian, akhirnya Alika membuka mata. Dia semakin terkejut karena wajah Lian masih terpampang tepat di atas wajahnya


    “Lo ngapain cium-cium gue?!”


    “Lo pikir wajah gue tempat buat iseng?” Alika serta merta mendorong Lian kembali ke kursinya.


    “Lo nggak perlu ngambek. Lo itu manis.” Kata Lian sambil menahan lengan Alika yang hendak membuka pintu mobil.


    “Maksud lo?”


    “Itu alasan gue. Dan gue nggak cuma iseng, karena gue emang bener-bener mau cium lo.”

__ADS_1


Alika seperti tersihir mendengar kata-kata Lian. Dia bahkan kebigungan mengeluarkan suara untuk mendebat omongan sahabatnya itu. Alika hanya sanggup mengerjap saat mendengar suara ketukan dari luar kaca mobil.


    “Lo udah bangun, Al?” tanya Nadia saat Lian sudah membukakan pintu mobil.


    “Iya barusan. Lo habis dari mana?”


    “Gue sama Doni jalan-jalan ke danau. Tadinya gue mau ngajakin lo, tapi kayaknya lo capek banget jadi gue nggak tega bangunin. Lo nggak marah kan?”


    “Tenang ajah, Nad. Berkat lo Alika jadi tambah pulas tidurnya. Bahkan bisa sampai mimpi indah,” sahut Lian sambil mengerlingkan matanya ke arah Alika sebelum cewek itu menjawab pertanyaan Nadia.


    “Tau dari mana kalau si Alika mimpi indah?” tanya Doni keheranan. Dia curiga ada sesuatu yang terjadi diantara Alika dan Lian.


    “Nggak usah didengerin omongannya Lian. Dia emang agak konslet kalau lagi kelaperan.”


Lian hanya tersenyum menahan tawa melihat usaha Alika untuk menutupi kejadian yang barusaja mereka lewatkan.


Tanpa banyak berdebat lagi, Alika beserta rombongan segera menjalankan mobil untuk kembali ke cottaget karena hari sudah semakin larut dan mereka belum mengisi perut sejak mereka tiba di bandara.

__ADS_1


__ADS_2