
Dentingan nada perlahan keluar saat Alika menekan tuts-tuts piano yang ada di hadapannya. Sebuah komposisi dari Beethoven berjudul Fur Elise ia mainkan malam itu untuk mencuruhkan suasana hatinya saat ini. Sedih dan terluka.
Kenangan menyakitkan setengah tahun yang lalu kembali berkelebat dalam benak Alika. Sebuah mimpi buruk yang merenggut nyawa orang yang ia cintai. Hingga membuat hidupnya tak pernah sama lagi seperti dulu.
Semua rasa menyesakkan itu kini kembali ia rasakan. Meskipun kejadiannya tidak sama –karena sekarang ia tidak sedikit pun mencintai Radit–, tapi rasa sakit yang cewek itu rasakan tidak berbeda dengan yang sebelumnya.
Saat alunan nada itu sampai pada puncaknya, bisa dirasakan air mata yang tadi menggenang sekarang mulai berjatuhan. Dan cewek itu menangis sejadi-jadinya.
Tok … Tok … Tok…
Alika terhenti dari permainan pianonya ketika tiba-tiba saja dia mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya.
__ADS_1
Alika tersentak saat pintu itu terbuka. Tidak ada yang akan menyangka kalau seseorang yang kini ada di hadapan Alika adalah mantan kekasihnya yang selama ini tidak berani menampakan batang hidungnya di mana pun ia berada. Yah, cowok itu adalah Radit.
“Masih berani lo muncul di hadapan gue?”
“Aku mau minta maaf sama kamu, Al,” ucap Radit lirih
PLAKKK !!!
“Kenapa lo tega perlakuin gue kayak gini, Dit?” suara Alika bergetar. Tersirat jelas ada luka yang menyakitkan di sana.
Radit merasa hatinya sakit. Pandangannya menunduk, menyiratkan rasa bersalah yang tak sanggup ia ucapkan di depan cewek itu.
__ADS_1
“Kenapa lo diem aja? Lo nggak punya penjelasan apapun untuk kejadian tempo hari? Atau lo emang mau mengakui kalau semua itu sengaja lo lakuin di depan hidung gue buat nyakitin perasaan gue? Gila lo, Dit! Gue benci sama lo! Lo pikir lo itu siapa berani ngelakuin semua ini ke gue?! Sekarang gue minta lo pergi dari hadapan gue!” Pekik Alika dengan mata berkilat-kilat.
Sialnya, tanpa memberi penjelasan apapun, cowok itu membalikkan badannya dan sesuai keinginan Alika ia beranjak pergi dari rumah itu. Alika hanya mampu menahan gejolak amarahnya melihat kepergian Radit, cowok yang saat ini hanya mendapatkan rasa benci yang teramat sangat dari Alika. Sedikitpun tidak terbelsit di hati cewek itu untuk memaafkan Radit, yang mulai saat ini akan disebut sebagai mantan kekasih oleh Alika.
Yah, apalagi yang bisa diharapkan cowok itu selain kata putus dari Alika. Dan untuk masalah orang tua, Alika akan mengurusnya belakangan. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara untuk meredam berbagai perasaan yang sedang berkecamuk jadi satu dalam hati cewek itu.
Penolakan dari Lian sudah cukup membuatnya kalang kabut dengan perasaannya, dan lebih parahnya sekarang dia harus menerima kenyataan pahit kalau Radit telah mempermainkan perasaannya.
Meskipun sebenarnya perselingkuhan itu bukan dakwaan utama pada Radit, tapi kepercayaan yang Alika berikan telah disalahgunakan, itulah yang akan menjadi tuntutan terbesar Alika andaikan ada persidangan untuk kasus perselingkuhan dua insan yang menjalin status pacaran.
Sayangnya hal semacam itu tidak akan mungkin pernah ada, terpaksa Alika sendiri yang harus memberikan hukuman pada cowok brengsek itu. Dan hukuman awal yang akan diterima Radit adalah mendapatkan gelar Jones sebelum ia memperoleh gelar sarjananya.
__ADS_1