
Seketika Alika menghentikan langkahnya. Dia ragu apakah harus terus mengikuti Alvin atau berbalik arah dan kembali pulang dengan meminta pertolongan siapapun yang akan ia temui di jalan.
“Kamu mau sampai kapan berdiri di situ? Nggak takut kalau tiba-tiba ada yang nyeret kamu dari belakang,”
Oh tidak! Itu terdengar lebih menyeramkan. Akan lebih baik kalau Alika mengikuti Alvin sekarang dan mencoba untuk membujuknya nanti. Siapa tahu Alvin akan dengan berbesar hati memaafkan kesalahannya.
Alika menghela napas dalam-dalam, apa yang akan terjadi dengannya sekarang. Begitu banyak kesialan yang sudah dia terima akhir-akhir ini. Kenapa pula kesialan itu tidak bosan mengikutinya terus.
“Bisa berhenti sebentar? Kaki aku kesemutan,” benar-benar jawaban yang bodoh dari mulut Alika.
Mana mungkin seorang remaja yang usianya belum sampai 20 tahun sudah merasakan kaki kesemutan disaat ia baru berjalan tidak lebih dari 500 meter.
Mendadak rasa ketakutan Alika semakin membuncah melihat Alvin berlari ke arahnya. Sepotong adegan film horor yang biasa ia tonton seketika menghantui pikirannya.
Berada di gunung yang sangat sunyi. Jauh dari pemukiman penduduk. Sangat cocok untuk memperagakan sebuah adegan pembantaian. Bahkan sekarang pun angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Alika bisa merasakan hembusannya menusuk hingga ke dalam tulang.
__ADS_1
Ya Tuhan... Mungkin inilah saat terakhir untuk hidupnya. Alika sangat menyesal karena belum sempat meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Ia bahkan masih belum ikhlas karena Lian menolak cintanya. Sepertinya ia akan menjadi hantu penasaran kalau semua yang ia bayangkan benar-benar terjadi.
Seketika mata cewek itu terpejam rapat saat merasakan Alvin mengangkat tubuhnya. Hatinya dicekam rasa was-was yang teramat sangat, apa yang akan dilakukan Alvin? Mungkinkan cowok gila itu akan membuangnya ke dalam jurang?
Setelah beberapa saat menanti takdir yang tak kunjung datang itu, perlahan Alika mulai berani membuka matanya. Dan dia terkejut mendapati Alvin sedang menggendongnya menaiki anak tangga yang ada di bukit itu. Ternyata Alvin tidak akan membuangnya ke dalam jurang, justru ia membantu Alika yang mengaku kakinya kesemutan.
“Aku tahu kamu dari tadi merasa ketakutan.”
“Nggak! Siapa yang…”
“Kamu itu…”
“Dan aku juga tahu kalau kamu sebenarnya masih ngerasa canggung buat deket sama aku.”
Oke! Sekarang semua rasa bersalah Alika perlahan menghilang setelah melihat sifat tengil Alvin sudah kembali pada tempatnya. Sia-sia saja selama ini Alika merasa tersiksa dengan rasa bersalahnya yang tidak masuk akal. Dan bukankah seharusnya Alvin yang merasakan perasaan itu, harusnya cowok itu yang mengemis-ngemis maaf padanya. Tapi kenapa malah Alika yang merasa ketakutan sekarang.
__ADS_1
“Turunkan aku sekarang!”
“Iya, Tuan Putri... Sebentar lagi kita sampai,”
“Nggak perlu…”
Alika urung melanjutkan kata-katanya ketika melihat banyaknya orang yang berada di tempat tersebut. Tidak seperti dugaan Alika, di puncak Kebun Buah Mangunan ternyata jauh lebih ramai pengunjung meskipun hari masih sangat pagi. Ada yang datang bersama rombongan, ada juga yang datang hanya berdua dengan pasangannya. Seperti Alika dan Alvin misalnya.
“Kok diam? Jadi diturunin nggak?”
“I… Iya… Turunin aku sekarang!” jawab Alika gelagapan
“Sekarang masih takut kalau aku bakal macem-macem sama kamu?” sindir Alvin sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara yang segarnya bisa membuat siapapun betah untuk berlama-lama di tempat ini.
Alika tidak lagi menggubris ocehan Alvin. Dia masih tertegun menikmati suguhan pemandangan yang luar biasa.
__ADS_1