
Alika merasa ingin pingsan saat ini juga. Kesejukan seketika menyeruak ke dalam relung hatinya. Penantiannya selama ini terjawab sudah. Cintanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Cowok yang selama ini menggantungkan perasaannya, saat ini telah memeluknya dengan penuh cinta.
Mungkin memang benar hati Alika saat ini masih diselimuti kebimbangan, tapi paling tidak kabut kebimbangan itu telah memudar dan menunjukkannya cahaya yang selama ini tidak pernah ia lihat.
Lian yang setiap malam hanya menyambanginya lewat mimpi, mulai sekarang dia akan selalu ada kapan pun Alika membuka matanya.
“Udah kali, Yan. Nggak bakal lari lagi dia. Apa lo nggak kepanasan siang-siang gini pelukan kayak gitu,” goda Dony sambil menonjok bahu sahabatnya itu.
Lian melepaskan pelukannya, dan berganti mengenggam tangan Alika lalu menyeretnya pergi.
“Woi… mau dibawa kemana sahabat gue!!” teriak Nadia yang tak henti-hentinya tertawa bahagia melihat kedua sahabatnya dimabuk asmara.
“Sorry, Nad, gue nggak ijin dulu. Tapi sahabat lo ini mau gue bawa ke pelaminan!!!” sahut Lian sambil terus berlari membawa Alika ke parkiran kendaraan dan memaksa cewek itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
Alika bingung harus berkata apa lagi. Yang pasti hatinya saat ini sedang dipenuhi kebahagiaan yang bahkan sudah tidak bisa ditampung lagi sampai rasanya akan meledak saat itu juga. Wajahya bersemu merah, air matanya menetes perlahan dari mata indahnya. Dan kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan yang tidak bisa lagi ia tahan.
“Kok lo malah nangis, Al?” tanya Lian sambil mengusap air mata yang semakin deras membanjiri pipi Alika.
“Gue nggak nangis! Cuma kelilipan ajah,”
Cupp !!!
Lian kembali mencium Alika untuk membuatnya berhenti menangis. Walaupun hanya sekejap, ciuman itu membuat hati Alika berdesir juga.
“Diem juga kan kalau udah dicium. Pokoknya mulai sekarang kalau lo nangis gue bakalan langsung cium lo nggak peduli kita lagi ada dimana. Dan gue bakalan terus cium lo sampai lo berhenti nangis. Ngerti sayang?”
DEGGG !!!
__ADS_1
Jantung Alika serasa melompat keluar dari rusuknya saat mendengar Lian mengucapkan kata itu. Kata yang selama ini hanya ia dengar dari orang yang dicintainya.
Dan setelah sekian lama tidak mendengar kata itu, akhirnya sekarang ia bisa mendengan panggilan romantis itu lagi. Dan sekarang pun panggilan itu keluar dari mulut orang yang dicintainya.
“Kok malah bengong, Al? Lo dengerin gue ngomong nggak?”
“Iya… gue denger.”
“Kalau denger sekarang senyum dong!”
Tak perlu menunggu lama senyuman paling manis segera terlihat menghiasi wajah ayu Alika. Tak ingin lagi merasa jauh dari Lian, Alika buru-buru melingkarkan tangannya di lengan kiri Lian yang sedang memegang kemudi dan dia bergelayut manja di sana.
Bukan hanya Alika yang tidak bisa menahan kebahagiaannya, Lian pun merasakan hal yang sama. Dan tak ada sesuatupun yang bisa melukiskan kebahagian mereka berdua saat ini.
“Kita mau kemana, Yan?”
“Gue serius, Yan…”
“Iya sayang… nggak usah ngambek gitu juga. Kita mau ke Pantai Kesirat. Udah pernah ke sana?”
“Belum. Kemarin si Alvin ngajakin ke sana, tapi gue males jalan sama dia. Soalnya…”
Belum selesai Alika dengan ucapannya, Lian langsung memotongnya begitu mendengar nama Alvin dibawa-bawa.
“Bukannya lo malah happy kalau sama dia. Buktinya ajah pas gue datang lo juga baru pulang jalan kan sama dia. Orang rumah lo ajah sampai kelabakan nyariin lo berdua.”
Terdengar ada nada cemburu dari kata-kata Lian dan hal itu membuat Alika ingin terus menggodanya.
__ADS_1
“Kemaren itu bukan kemauan gue. Dia yang maksa gue buat ikut.”
“Kalau gitu, kenapa lo bisa pulang sepagi itu sama dia. Harusnya kalau nggak suka, lo udah pasti langsung ngajakin pulang. Lo mana mau dipaksa-paksa gitu,”
“Awalnya gue emang marah diculik paksa gitu, tapi yah… mau gimana lagi. Dia bawa gue ke tempat yang bagus banget. Udah gitu dia juga nyanyiin lagu favorit gue. Dan…”
“Dan apa lagi?!”
“Apa ya, Yan. Gue kok bisa lupa sama momen penting kayak gitu.”
CCIIITTT …
Terdengan suara rem yang mendadak diinjak kaki Lian. Mobil mendadak berhenti dan menghempaskan badan Alika ke depan sampai kepalanya membentur dasboard mobil.
“Lo nggak bisa hati-hati bawa mobil ya! Kepala gue kejedug nih…” Alika mengusap-usap dahinya yang sedikit benjol. “Lo ngapain sih berhenti mendadak?! Lo nabrak ya???”
“Gimana nggak mau berhenti, kita udah sampai!!”
Lian masih kesal mendengar cerita Alika dan hasilnya kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar ketus.
“Oohhh… Bilang dong dari tadi.”
“Gimana gue mau ngomong, dari tadi lo nyerocos ajah nyeritain sepupu lo yang masih ingusan itu!”
Lian melepaskan seatbelt dan ketika hendak membuka pintu mobil Alika menahan tangannya, “Lo cemburu ya?”
“Menurut lo?!”
__ADS_1
“Gue nggak tau. Kan lo orangnya susah ditebak.” Alika mulai memasang tampang innocent nya.