
Selama di perjalanan tidak henti-hentinya mereka saling curi-curi pandang. Tidak berani mengungkapkan komentar satu sama lain. Hanya suasana canggung yang tercipta di antara mereka.
“Lo kenapa pakai baju kayak gitu?” tanya Lian pada akhirnya. Tidak terdengar nada ketus dari pertanyaan itu.
“Emang kenapa? Aneh ya?” kata Alika sambil memperhatikan penampilannya dari kaca.
Lian tertawa geli melihat tingkah Alika yang menurutnya sedikit cute.
“Nggak juga,”
“Lo sendiri juga kenapa jadi sok formal gitu?”
“Soalnya gue tau tempat buat dinner malam ini restoran formal.”
Alika manggut-manggut mendengar jawaban Lian. Dia tidak berminat untuk memulai kontroversi dengan cowok yang saat ini sedang serius menyetir.
__ADS_1
Di samping tidak mau mempertaruhkan nyawanya di jalan, Alika merasa obrolan itu menjadi pembuka yang cukup menyenangkan, mengingat hubungan nya dengan Lian selama ini tidak pernah akur.
Setengah jam kemudian mobil yang dikendarai Alika dan Lian berhenti di depan sebuah restoran eropa mewah bergaya klasik. Alika merasa sedikit lega karena dia mengenakan pakaian yang tepat.
“Kok gue tiba-tiba jadi nervous ya? Nggak biasa gue makan di tempat kayak gini,”
“Tenang ajah. Yang penting lo jaga sikap dan jangan malu-maluin gue,” sahut Lian yang langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Alika.
Lian lalu mengulurkan tangannya pada Alika untuk membantu cewek itu keluar dari mobil.
“Jangan kaku gitu dong! Santai ajah. Lo kelihatan norak kalau sikap lo kayak gitu,” bisik Lian di telinga Alika.
“Gue juga nggak senorak itu. Gue bukannya nggak pernah makan di tempat kayak gini, gue cuma bilang nggak terbiasa.” balas Alika tajam.
Lian tidak menghiraukan protes Alika. Dia menggenggam telapak tangan Alika yang terasa halus sekaligus dingin dan menggandengnya masuk ke dalam restoran dengan nama bahasa asing itu.
__ADS_1
Di meja resepsionist Lian mengonfirmasikan reservasi yang dibuat Mamah nya kemudian seorang pelayan mengantar mereka ke sebuah meja di lantai dua. Tepatnya di balkon tanpa atap yang menghadap langsung ke arah jalan raya di depan restoran.
Karena tempat itu tidak tertutup atap, otomatis angin yang bertiup lebih kencang dan membuat badan Alika sedikit menggigil. Lian yang tanggap dengan situasi itu langsung berbalik kembali ke mobil dan mengambil jas yang sengaja ia tinggalkan di bagasi.
Awalnya jas itu satu paket dengan kemeja yang dia pakai, tapi karena ingin terlihat lebih santai Lian memutuskan untuk mencampakkan jas itu begitu saja.
Belum juga Lian melangkah meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Alika menarik ujung bajunya. “Eh, lo mau kemana?”
“Tunggu sebentar,”
Alika mengumpat kesal karena ditinggal Lian sendirian. Namun tak lama kemudian dia merasa senang melihat Lian kembali menghampirinya.
“Lo pakai ini biar nggak kedinginan.” kata Lian sambil menyelimutkan jasnya ke pundak Alika.
“Thank’s,”
__ADS_1
Alika lalu duduk setelah Lian menarikkan kursi untuknya. Tepat seperti yang dikatakan Mamahnya, restoran ini benar-benar tempat makan yang mewah.
Karena dari sekian banyak nama yang ada di daftar menu tidak satupun nama makanan itu yang terdengar lokal. Alika merasa, dia dan Lian seperti pasangan jutawan muda yang menghabiskan uangnya hanya untuk sebuah candlelight dinner.