Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 41


__ADS_3

Awalnya sempat terpikir, kalau Alika sudah sangat percaya pada Radit sebagai calon tunangannya. Sekalipun tidak pernah ada cinta yang tumbuh dalam hati Alika, tapi ia sudah sangat tahu kalau orang tuanya menginginkan hubungan yang serius antara Radit dan dirinya.


Tapi belakangan Alika merasakan ada hal-hal yang berbeda dalam hubungannya dengan Radit. Alika mulai meragukan ketulusan Radit. Ia mulai menangkap adanya perubahan pada sikap Radit.


Benar saja, semua prasangka yang selama ini mengganggu pikiran dan hati Alika siang itu benar-benar terjadi. Segala keraguannya terhadap Radit sekarang jelas-jelas terlihat di depan mata cewek itu. Tanpa harus diucapkan, siapa pun yang melihat adegan tersebut akan langsung tahu kalau mereka sedang menjalin hubungan khusus. Dan pastinya lebih dari sekedar teman.


    “Jadi begini kegiatan senat lo di kampus, heh?” tanya Alika dengan sinis.


    “Alika???”


    “Yah, kenapa? Lo kaget liat gue bisa ada di sini?”


    “Kamu sama siapa ke sini?”


    “Yang pasti gue nggak bawa SELINGKUHAN gue!”


    “Kamu jangan salah paham dulu, Al. Dia ini Chyntia temen aku pas masih SMA. Dan tadi kita nggak sengaja ketemu di Mall ini.”


    “Nope. Kalo emang dia cuma temen SMA lo kenapa muka lo jadi pucat gitu? Kayak orang ketahuan mesum ajah.” Alika berkata dingin yang membuat Radit semakin terlihat ciut.


Bahkan mungkin cowok itu sudah mulai berkeringat dingin, “Oh ya, kayaknya kalau kegiatan senat itu adanya di kampus bukan di depan café kayak gini. Jadi, saran gue mendingan lo buru-buru balik ke kampus deh dari pada dicariin sama dosen lo,” lanjutnya tanpa bisa menahan emosi lagi.

__ADS_1


    “Aku bisa jelasin semuanya kok, Al.” Radit menarik lengan Alika untuk menahannya pergi.


PLAAKKK !!!


Sebuah tamparan keras berhasil mendarat dengan mulus di atas pipi Radit. Tanpa bermaksud memperpanjang urusan, Alika bergegas meninggalkan Radit beserta cewek yang sampai sekarang hanya bisa membisu melihat kejadian yang ada di depan matanya.


Alika membatalkan acara nonton dengan dua sahabatnya. Dia Cuma mengirimkan pesan singkat pada Nadia tanpa memberikan penjelasan apapun.


Hati dan pikirannya saat ini serasa ingin meledak. Yang Alika inginkan hanya secepatnya sampai rumah dan melampiaskan semua emosi dan sakit hatinya dengan menangis sepuasnya di dalam kamar.


Di kamarnya, wajah Alika terlihat suram. Peristiwa siang tadi terus berputar-putar memehuni kepalanya. Rekaman kejadian itu masih teringat jelas oleh Alika, bagaimana Radit menggenggam tangan cewek itu, bagaimana Radit membelai pipi cewek itu, dan bagaimana bisa cewek itu malah bertingkah sok manja kepada Radit. Siapa sebenarnya cewek itu?


ARRRGGHHH ! PRAANG !!!


Emosinya langsung membuncah setiap kali mengingat kejadian yang rasanya tidak hanya menyakiti hatinya tapi juga matanya bahkan juga otaknya. Rasanya semua itu akan terpuaskan kalau Alika bisa menggoreskan beberapa cakaran di wajah cowok itu sebagai kenang-kenangan tentu saja.


Tak bisa ditahan lagi bulir bening dari air mata Alika mengalir membasahi pipinya. Hatinya sangat kecewa. Ia tidak menyangka kalau Radit akan setega ini padanya. Kalau tahu akhirnya akan jadi seperti ini, Alika tidak akan pernah sudi menerima cowok itu.


Alika sudah bersusah payah membuka hatinya untuk Radit, karena niatnya Alika ingin membuat orang tuanya bahagia dengan menuruti permintaan mereka. Tapi sekarang malah pengkhianatan yang ia dapat.


TULILIT TULILIT! TULILIT TULILIT!

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar HP berbunyi. Alika yang awalnya ingin memejamkan matanya langsung membatalkan niatnya itu. Ia mencari-cari handphonenya yang terus berdering dari bawah tumpukan bantal. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar HP tersebut.


    “Hallo? Ini siapa?”


    “Al, ini aku.” Terdengar suara Radit dari seberang.


    “Ngapain lo gangguin gue lagi?!”


    “Aku cuma mau minta maaf, Al. Dan kasih aku kesempatan buat jelasin masalah tadi siang.”


    “Nggak ada yang perlu lo jelasin dan gue nggak bakalan pernah sudi maafin cowok brengsek kayak lo!” Alika langsung mematikan HPnya. Dia benar-benar kecewa dengan sikap Radit.


Sementara itu, di sisi lain ada seorang cowok yang sedang menyesali kebodohan yang telah ia perbuat. Ada penyesalan yang terasa menyesakkan dada Radit. Kenapa ia begitu nekat melakukan hal bodoh itu sementara ia sendiri tahu Alika sudah mencoba mengubah perasaan untuknya. Tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terlanjur.


Siang tadi, dengan alasan ada kegiatan senat di kampusnya, Radit tega membatalkan janji makan siangnya dengan Alika. Radit tidak sanggup menolak tawaran Chyntia untuk pergi nonton di bioskop. Tapi siapa sangka, dari sekian banyak orang yang bisa Radit jumpai dia malah bertemu dengan seseorang yang seharusnya saat itu tidak muncul di hadapannya.


Yup, Radit bertemu dengan Alika. Dan yang semakin memperburuk keadaan, dia sedang bergandengan mesra dengan Chyntia. Shit, Radit kebingungan, apa yang harus ia lakukan sekarang. Melepaskan gandengan tangannya bersama Chyntia -tapi percuma saja Alika sudah terlanjur melihatnya-. Ataukah berlari menghindari Alika yang saat itu sedang berjalan lurus ke arahnya?


PLAAKKK !!!


Radit terlambat menghindari tamparan keras di pipinnya. Ia sempat melihat ada genangan air mata di sudut bawah mata Alika sebelum akhirnya cewek itu memutuskan untuk pergi.

__ADS_1


Dan sekarang hanya penyesalan yang bergelayut di hati Radit mengingat kebodohan yang ia lakukan siang tadi. Radit menyesal telah memenuhi ajakan Chyntia. Ia juga menyesal sudah membatalkan janji makan siang bersama kekasihnya. Dan yang paling ia sesalkan adalah mengikuti bisikan hatinya yang tolol untuk berselingkuh di belakang Alika.


__ADS_2