
Silaunya langit siang ini membuat cuaca di pantai Indrayanti terasa sangat terik. Dua orang cewek tampak enggan keluar dari sebuah gazebo yang berdiri tepat di tepi pantai dan menghadap langsung ke arah samudera biru yang luas.
“Gila ini pantai. Panasnya minta ampun! Perasaan Bali nggak sepanas ini ya, Al,” keluh Nadia yang sudah menghabiskan banyak sun blok untuk melindungi kulit putihnya dari sengatan sinar mentari.
“Gue juga nggak nyangka, Nad, kalau pantainya bakal sepanas ini. Tadi sih kata si Alvin pantainya adem karena banyak pohonnya.”
Alika memandangi sekelilingnya, yang ada hanya hamparan pasir putih dan bebatuan karang yang menjulang tinggi di sisi kanan kiri pantai.
“Ah… lo, Al, gampang banget dikibulin anak kecil.”
Nadia diam sejenak, melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Jarum jam sudah menunjukan pukul 14.00 WIB, dengan kata lain harusnya matahari sudah tidak sepanas ini, karena sudah lewat tengah hari.
__ADS_1
“Pulang wae yuk, Al. Males banget gue kalau nggak ada Dony disini.”
“Salah sendiri lo ngajak gue ke sini. Tadi cowok lo juga nawarin buat jalan kan? Ngapain coba lo nggak mau ikut. Malah maksa buat ke pantai. Mana si Lian juga nggak lo ajak. Gabut gue klo cuma berduaan sama lo kayak gini,” Alika tidak menggubris sahabatnya yang semakin manyun. Dia malah merebahkan diri dan memandang lautan lepas.
Laut benar-benar terlihat mempesona jika airnya berwarna biru jernih. Senada dengan langit yang terhampar luas di atasnya, saat Alika memandangi keduanya dengan saksama, ia merasa kalau kedua ciptaan Tuhan itu seperti ingin menelannya.
“Al, bisa tolong beliin kelapa muda? Tadi pas kita jalan ke sini gue lihat ada yang jualan es kelapa di depan parkiran,” Nadia memerintah Alika layaknya seorang majikan sambil cengingisan memandangi tabletnya.
“Enak lo ya maen perintah-perintah gue. Di sini gue tuan rumahnya ya…”
“Ya udah… Ya udah… dari pada gue perang mulut sama lo, mending gue iya-in ajah mau lo, Nad.”
__ADS_1
Nadia merasa menang karena bisa membuat Alika tidak membantah perintahnya. Dan sekali lagi ada yang aneh pada Nadia. Sekarang cewek yang baru saja merubah style rambutnya itu hobby banget cengingisan dengan tabletnya.
“Lo kenapa, Nad, dari tadi cengar cengir mulu. Haayooo… chatting sama siapa? Lo selingkuh Nad???”
“Ngarang ajah lo! Udah sana beli esnya. Keburu habis.”
Alika beranjak dari tempatnya, menyusuri pinggiran pantai diiringi matahari yang luar biasa panasnya. Dan mendadak langkahnya melemah saat melihat kerumunan orang yang mengantri di depan penjual es kelapa yang dimaksud Nadia.
Alika celingukan mencari tempat lain yang menjual minuman sejenis, tapi hanya itu satu-satunya penjual minuman di pantai Indrayanti.
Hari ini pantai yang juga disebut Pantai Pulang Syawal itu memang sedang sepi pengunjung. Mungkin karena hari ini bukan hari libur, jadi hanya ada beberapa pedagang yang membuka lapak mereka.
__ADS_1
Dan itu artinya kalau memang ada yang menjajakan sesuatu yang bisa melawan panas yang menyengat ini pastilah bakal dikeroyok pengunjung yang sudah kewalahan mengatasi dehidrasi mereka.
Contohnya ya si penjual es kelapa muda ini. Bahkan penjualnya yang mana saja sudah tidak kelihatan saking banyaknya pembeli yang berebutan mengantri.