
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumssalam. Eeeh… Lula! Bener ini kamu? Kok bisa kamu sampai sini?”
seorang wanita paruh baya berlari menghambur kepelukan Mama. Alika mencoba mengingat siapa wanita yang saat ini sedang berpelukan dan melepas kangen dengan Mamanya. Sepertinya dia yang dimaksud Mama dengan Budhe Har.
“Mbak, gimana kabar keluarga Yogya?” kali ini Papa yang berjabat tangan dengan wanita itu.
“Alhamdulillah sehat, Dik. Gimana kabar keluargamu?”
“Alhamdulillah Mbak… kita semua sehat.”
“Syukurlah. Buk… Ibuk… ini lho ada tamu agung dari Jakarta. Lula dan keluarganya, Buk.” teriak wanita yang saat ini membimbing Alika dan keluarganya untuk masuk ke dalam rumah.
“Sopo?? Lula??” kali ini Alika melihat seorang nenek berpakaian khas jawa dengan jarik dan kebaya.
Meskipun sudah memasuki usia senja, tapi tubuh tegap dan paras cantiknya membuat Nenek ini terlihat lebih muda dari usianya. Kalau Alika menebak, mungkin usia Nenek ini baru menginjak 60-an atau mungkin 70-an.
“Ibuk… Pripun kabare??? Ibuk sehat tho??” Mama berlari menghampiri sang Nenek dan langsung memeluknya dengan erat sembari meneteskan air mata sebagai tanda kalau ia sudah menahan rasa rindu yang teramat lama.
__ADS_1
“Owalah… Ibuk sehat, Nduk. Piye kabarmu Cah Ayu?”
“Saya sehat, Buk.”
Mama kemudian membimbing sang Nenek ke arah Alika yang sedari tadi hanya berperan sebagai figuran dan menyaksikan adegan pertemuan dua keluarga yang sudah lama tidak berjumpa. Rasa-ranya seperti melihat adegan dalam film di salah satu koleksinya.
“Ini lho, Buk, anak saya. Sudah besar dia sekarang.”
Alika meraih tangan Neneknya dan mencium punggung tangannya. “Saya Alika, Nek. Nenek apa kabar?”
“Kamu ini Alika??? Sudah besar sekarang… Tambah ayu. Nenek jadi pangling, Nduk.” Kata Nenek sambil menciumi kedua pipi Alika bergantian.
“Iya, Nek. Nenek juga tambah cantik kok,” goda Alika
“Alika sekarang kelas 3, Nek. Bulan depan sudah mulai ujian.”
“Ya semoga bisa cepat selesai sekolahmu, terus bisa neruske kuliah di Yogya dan menemani Nenekmu ini.”
Alika hanya tertawa mendengar celotehan sang Nenek yang memintanya untuk melanjutkan kuliah di kota kelahiran Mamanya ini.
__ADS_1
“Mari-mari kita duduk dulu. Mari Mbok Min duduk sini. Gimana Mbok Kabarnya? Lama nggak main ke Yogya ya…”
Wanita paruh baya yang sedari tadi sibuk menjamu para tamu dari Jakarta, ternyata memang benar saudara Mamanya. Lebih tepatnya Kakak tertua Mama.
“Nggih, Buk. Masih belum berani kalau saya ke Yogya sendirian. Takut kesasar,”
“Hahaha… Kok nggak ngajak si Alika. Ini keponakan Budhe juga nggak pernah nongol lagi di Yogya semenjak masuk SMA. Sibuk belajar apa sibuk sama pacarnya…”
“Hahaha… Budhe bisa ajah. Alika nggak sibuk pacaran kok, ini malah Mama yang sibuk nyariin Alika pacar.”
“Lho kok malah Mamanya yang nyariin pacar? Apa ponakan Budhe yang cantik ini nggak bisa cari pacar sendiri?”
“Bukannya gitu Budhe, Mama ajah yang mau cari repot buat ikut milihin Alika pacar. Padahal Alika juga belum tentu suka sama pilihan Mama.”
“Mama disindir ajah terus, Al.” Mama mulai kesal gara-gara selalu menjadi bahan sindiran Alika.
“Hahaha… Mama sensi.” goda Alika yang semakin senang melihat tampang bête Mamanya.
Tak lama berselang, dua orang wanita yang kurang lebih seumuran dengan Mbok Min keluar sambil membawa nampan berisi gelas-gelas minuman dan beberapa makanan khas kota Yogya. Bakpia dan geplak.
__ADS_1
Makanan khas Yogya yang terbuat dari kelapa dan rasanya sangat manis dengan berbagai varian warna. Bagi yang menderita diabetes, disarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan ini karena mengandung kadal gula yang tinggi.
Satu per satu gelas-gelas dipindahkan dari nampan. Tercium aroma herbal yang keluar dari minuman yang berwarna kecoklatan layaknya seduhan teh itu.