
Berada di ketinggihan 150 – 200 Mdpl Kebun Buah Mangunan memberikan daya tarik yang kuat sehingga orang-orang akan rela bangun di kala subuh dan menyusuri jalanan yang sepi untuk mencapai tempat itu.
Suasana pegunungan yang hijau, lembah sungai yang berkelok-kelok, dan hamparan kabut tebal yang membuat Alika merasa sedang berdiri di negeri atas awan -Itulah yang menjadi alasan Kebun Buah Mangunan terkenal dengan julukan Negeri Atas Awan-.
Kata kebanyakan orang, kalau malam hari turun hujan deras, maka keesokan harinya tempat ini akan dipenuhi kabut tebal. Beruntungnya Alika yang bisa menikmati pemandangan langka tersebut. Pagi ini mendung masih menutupi langit, tetapi para pengunjung sudah sibuk dengan lensa kamera masing-masing. Bersiap menanti bangunnya matahari.
“Vin, kamu bawa kamera nggak? Pinjem dong…”
“Boleh saja. Hadap sini dulu!”
Saat Alika memalingkan wajahnya, Alvin tidak lagi menyia-nyiakan waktu untuk mengabadikan potret cewek yang dia sayang.
__ADS_1
CEKREEK !!! CEKREEKK !!!
“Kamu tergolong cantik untuk ukuran cewek tanpa make-up, Al.” puji Alvin, kali ini pujian itu benar-benar tulus. Tidak ada nada mengejek seperti biasanya.
“Sembarangan! Siapa yang kasih ijin kamu buat foto anak orang. Sini kameranya!” serta merta Alika merebut alat foto itu dari tangan Alvin.
Alika membolak balik hasil bidikan cowok yang saat ini sedang mencoba merubah gaya berpakaiannya agar terlihat lebih dewasa. Jika biasanya Alvin selalu mengenakan pakaian kebanggaannya –celana kolor dan kaos oblong- kali ini cowok itu mengenakan celana jeans ¾ serta kaus hitam dibalut kemeja warna khaki tanpa mengaitkan kancingnya.
Bukannya menjawab cowok itu malah menghambur kea rah Alika seraya memutar tubuh cewek itu untuk menghadap sisi timur yang mulai menyembulkan semburat warna emas.
“Dari pada banyak komentar, mending kamu foto yang di sana itu,”
__ADS_1
Alika terpana melihat matahari yang perlahan muncul dari ufuk timur dengan sinar keemasannya. Sementara itu lagit yang perlahan kehilangan mendungnya memberikan efek biru yang menawan. Mengingatkan cewek itu pada sunrise yang pernah ia temui sebelumnya.
Tapi kali ini sedikit berbeda. Hijaunya deretan pegunungan dan dipadu dengan efek putih kabut pagi memberikan perpaduan yang sejuk dan fresh. Tidak salah jika tempat seindah ini disebut Amazon-nya Jogja. Seperti tengah berlomba, suara jepretan kamera mulai terdengar bersautan. Begitu juga dengan Alika yang tidak mau ketinggalan untuk mengabadikan panorama alam itu.
Puas menikmati wisata alam yang jarang ditemui di kota-kota besar, Alika dan Alvin beranjak dari puncak Mangunan untuk kembali ke rumah.
Hari ini Alika bersyukur bisa mengawali harinya dengan sesuatu yang baik –tidak seperti hari-hari biasanya yang sering ia lewati dengan ketidakberuntungan-, karena suasana pagi biasanya menjadi salah satu faktor penentu mood seseorang selama seharian penuh. Jika pagi hari sudah dilewati dengan sempurna, delapan puluh persen hari itu juga akan berjalan menyenangkan.
Setelah melewati pagi dengan sesuatu yang fresh, Alika menikmati perjalanan pulangnya dengan diiringi canda tawa bersama sepupunya. Kekakuan di antara mereka perlahan mencair. Alika bisa kembali menemukan sisi kekonyolan dalam diri Alvin seperti saat mereka pertama bertemu.
Tidak ada lagi yang tertekan dengan kejadaan malam itu. Alika dan Alvin bisa kembali bercanda layaknya saudara. Dan semua candaan itu membuat mereka tidak sadar kalau sepeda motor yang mereka tumpangi sudah mengantarkan mereka ke tempat tujuan.
__ADS_1