
Di hari ketiga liburannya di Yogyakarta, Alika lebih memilih untuk berdiam diri di rumah. Di samping dia malas mengikuti kedua orang tuanya yang tampak sedang menikmati honeymoon kedua mereka -jalan-jalan berdua, makan berdua, berenang berdua, belanja berdua- Alika juga masih bad mood lantaran kejadian tempo hari bersama Alvin.
Sejak pagi Alika menghabiskan waktu di kebun salak milik neneknya, membantu Budhe Har memanen salak. Sampai mengorbankan kulit mulusnya menjadi korban keganasan duri pohon salak.
Mengganggu Mbok Min yang sedang belajar menganyam rotan. Kalau yang satu ini bisa dibilang lumayan menyenangkan. Akhirnya ada juga yang membuat suara tawa Alika keluar.
Dan saat sore menjelang Alika menikmati waktu bersantai sambil bercengkerama dengan sang nenek.
Semua itu dia lakukan untuk menghindari pembicaraan dengan Alvin yang sedari tadi terus saja mencari kesempatan untuk bisa ngobrol denganya. Namun terus saja Alika berhasil menghindarinya dengan berbagai motif yang dia buat.
Hingga malam tiba, saat Alika sedang sibuk berkutat dengan smartphone kesayangannya tiba-tiba seseorang mengetuk jendela kamarnya.
Alika membuka jendela dan mencari siapa yang ada di luar kamar. Matanya melebar saat bertatapan dengan sepasang mata tepat di depan jendela kamarnya.
__ADS_1
“Kamu??” pekik Alika heran “Ngapain kamu berdiri di depan jendela kayak gini?”
“Ikut aku sebentar, Al.” Kata si pemilik mata itu yang tak lain adalah Alvin sambil menawarkan tangannya pada Alika
“Mau kemana malam-malam gini? Nggak takut diomelin…”
“Sssttt… Tenang saja!” Alvin memotong kalimat Alika “Pokoknya kamu percaya sama aku.”
Alika tampak ragu sekaligus takut kemana Alvin akan membawanya di jam 10 malam seperti ini. Apa mungkin ini hanya candaan Alvin seperti di Taman Sari kemarin? Kalau benar seperti itu, Alika nggak akan tinggal diam dan dia bertekad tidak akan pernah memaafkan Alvin.
“Nggak bakalan. Ayo buruan!”
Alika berkali-kali memikirkan ajakan itu, namun tanpa disadari tangannya sudah meraih uluran tangan Alvin. Alika keluar melewati jendela kamarnya, setelah itu Alvin langsung menariknya naik ke atas motor dan semenit kemudian mereka sudah melaju melewati jalanan malam Kota Yogya.
__ADS_1
Alika semakin bingung kemana Alvin akan membawanya pergi, bukan mengarah ke pusat kota Yogya, cowok itu justru memacu sepeda motornya ke arah Solo yang jelas-jelas berlawanan arah dengan apa yang ada di pikiran Alika.
“Kita mau kemana, Vin?! Awas saja kalau kamu mainin aku lagi. Nggak bakal aku maafin kamu!!” Alika bertanya sekali lagi.
“Kamu itu terlalu banyak mikir, Al. Santailah… nikmati saja liburan kamu.”
Alika merengut mendengar ucapan Alvin. Bisa-bisanya cowok itu tidak merasa bersalah sedikitpun setelah menculiknya tanpa memikirkan bagaimana kondisi Alika saat ini.
Yah, Alika hanya mengenakan setelan piyama tidur yang tipisnya minta ampun. Tanpa jaket ataupun alas kaki yang lebih pantas untuk dibawa hang out.
Alika enggan berkomentar tentang style nya saat ini. Alika merasa cowok yang saat ini sedang dipeluknya, dalam artian karena Alika membonceng di motor Alvin, sudah kehilangan setengah kewarasannya.
Alika mulai ketakutan saat Alvin membawanya ke jalan yang lebih gelap dan jalanan itu berupa tanjakan. Alika sudah bersiaga andaikan Alvin berbuat macam-macam, dia sudah siap untuk melompat sewaktu-waktu tanpa menghiraukan apakah dia akan mendarat dengan selamat atau tidak.
__ADS_1