
Perjalanan dari Jakarta menuju bandara Adi Soetjipto di Yogyakarta membutuhkan waktu yang cukup singkat, jadi Alika tidak perlu repot-repot menyiapkan sesuatu untuk mengusir kebosanannya.
“Pesawat akan segera mendarat di Bandara Adi Soetjipto Yogyakarta. Diharapkan semua penumpang berada pada posisi dan menggunakan sabuk pengaman.”
Tak lama kemudian, pesawat mendarat dengan aman di Bandara Adi Soetjipto Yogyakarta. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Mama segera memanggil taxi dan membawa Alika beserta rombongan ke rumah keluarganya yang berada di Desa Beji Kabupaten Bantul.
Sesampainya di Desa Beji Kabupaten Bantul Alika langsung disuguhkan dengan pemandangan khas pedesaan yang dipenuhi dengan hamparan sawah-sawah hijau dan sapaan ramah dari penduduk yang menempati desa tersebut.
Sangat kontras dengan lingkungan yang selama ini ia tempati, di desa ini Alika bisa merasakan bagaimana kerukunan dan kenyamanan terjalin erat diantara para penduduk yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan pembuat kerajinan khas daerah tersebut.
Sangat jarang ditemui hiruk pikuk kendaraan bermotor, yang ada hanya pejalan kaki yang mengendong hasil panen mereka dan beberapa pengendara sepeda tua yang kalau di sini biasa disebut onthel. Tidak ada asap kenalpot yang menebarkan polusi. Udara di sini masih sangat sejuk, tidak sedikitpun tercium bau nitrogen.
__ADS_1
Dan yang lebih membuat Alika jatuh hati, pemandangan yang luar biasa indah terbentang di depan matanya seakan-akan ia melihat kanvas alam ciptaan Yang Maha Kuasa.
Semua beban dan masalah yang membuat penat kepalanya seolah hilang seketika. Tidak ada kata Radit maupun Lian. Semua itu seketika terkunci rapat di laci otaknya. Tak puas-puasnya Alika mengurai senyum dan kekaguman dengan pemandangan yang ia lihat. Papa dan Mama juga terlihat senang melihat senyum putrinya kembali menghiasi paras ayunya.
“Seneng kamu, Al? Nggak nyeselkan ikut Papa ke Yogya?”
“Iya-iya, Pa. Alika ngaku kalah.” Seru Alika sambil memeluk Papanya. “Habis ini kita mau kemana, Pa?”
“Ogah ah, Pa. Masak jauh-jauh kesini mainnya ke Mall juga. Alika mau cari suasana yang baru.”
Papanya hanya tertawa melihat tingkah anaknya yang kegirangan.
__ADS_1
“Kalau gitu nanti kamu jalan sama anaknya Budhe Har. Kamu bisa minta dia buat nganter jalan-jalan keliling Yogya.” usul Mama.
“Yang bener, Ma? Boleh deh kalau gitu.”
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah rumah yang bisa dibilang megah. Dengan bangunan khas Yogya nya, rumah itu tidak sebanding dengan rumah milik keluarga Alika yang ada di Jakarta.
Rumah yang memiliki atap joglo itu, dibangun dengan menggunakan bilah-bilah kayu jati yang membuatnya terkesan mewah dan elegan. Pintu utamanya juga terbuat dari kayu yang digadang-gadang sebagai kayu kualitas terbaik di negeri ini, dengan ukiran-ukiran yang artistik sudah cukup menggambarkan kalau pemilik rumah adalah seseorang yang paham betul tentang seni.
Memang kebanyakan orang Yogya memiliki jiwa seni yang tinggi, terbukti setiap sudut rumah memiliki pilar-pilar yang dipenuhi dengan berbagai ukiran yang hanya bisa ditemui di kota yang terkenal dengan adat jawanya ini.
Selain bangunan yang besar dan mewah, halaman yang sangat luas juga menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari setiap rumah yang ada di desa ini. Halaman yang dipenuhi pepohonan yang rindang mengingatkan Alika tentang program reboisasi yang saat ini tengah gencar-gencarnya di lakukan di Ibukota.
__ADS_1
Seharunya kota Jakarta ditanami pohon-pohon rindang seperti ini jika memang ingin menciptakan lingkungan yang asri dan bebas polusi. Bukannya malah menambah jalan tol dan gedung pencakar langit.