
Malam harinya, Alika tidak sempat tidur lantaran dipaksa Nadia untuk menceritakan semua yang sudah dilewatinya beberapa hari ini di Yogya.
Awalnya Alika menolak, tapi karena dia juga penasaran dengan alasan Lian datang mencarinya, akhirnya Alika bercerita panjang lebar pada sahabatnya itu, mulai dari Alvin yang selalu menggodanya, Alvin yang membuatnya menangis di Taman Sari, sampai lagu romantis yang dinyanyikan Alvin untuknya di Bukit Bintang.
Tapi tentu saja Alika tidak menceritakan insiden penambakan terhadap dirinya yang berakhir kelam itu. Bisa-bisa Nadia syok mendadak mendengar cerita yang satu itu. Sepanjang malam Alika terus mengutarakan betapa mengesankannya pengalaman selama di Yogya.
“Wow!” seru Nadia setelah Alika mengakhiri ceritanya.
Cewek itu mengerjap dengan ekspresi geli dan berusaha untuk tidak tertawa ngakak karena hari sudah larut malam. Tentunya baik Alika maupun Nadia tidak ada yang mau ditimpuki orang satu kampung lantaran ketawa mereka yang urakan.
“Aduh! Hobby banget sih lo nyubitin gue!” Nadia mengaduh saat Alika mencubitnya tepat di bagian paha.
“Karena gue tau apa yang sedang lo pikirin!”
“Hahaha… Lo tuh ya, bisa-bisanya kesengsem sama brondong? Sepupu sendiri pula. Udah nyerah lo buat cari cowok?”
__ADS_1
“Sembarangan! Gue nggak kesengsem sama dia, Nad… Malahan gue sebel banget sama dia,” kilah Alika
“Halah… sebel kok mau diboncengin sampai Bukit Bintang. Dinyanyiin lagu segala. Kayak film India ajah lo! Dan lo dari mana juga pas gue sampai sini kok baru pulang?”
“Gue tadi liat matahari di Mangunan.”
“Tempat apaan tuh?”
“Ya sejenis bukit yang ada gardu pandangnya buat lihat sunrise…”
“Terserah omongan lo deh, Nad!” Alika celingukan ke sekelilingnya, memastikan kalau pembicaraan mereka dalam radius aman tanpa ada oknum-okunum yang menguping pembicaraan mereka.
“Sekarang giliran lo jujur sama gue kenapa Lian bisa ikut sama lo ke sini?!”
“Gue berasa lagi diintrogasi,”
__ADS_1
“Nggak usah banyak ngeles! Buruan certain sebelum lo gue seret buat tidur di luar!”
“Emang kita masih mau tidur? Sebentar lagi kan subuh, Neng,”
Serta merta Alika kembali mencubit sahabatnya yang mulai membuatnya gemas itu.
“Aaww!!! Iya-iya gue ceritain. Jadi, kemarin pas gue sama Dony ngobrolin rencana buat nyusul lo ke sini si Lian itu datang nyariin cowok gue buat pinjem catatan susunan pengurus pensi. Walhasil dia denger semuanya, terus dia minta buat dibolehin ikut, katanya ada yang mau dia omongin sama lo.”
“Kira-kira lo tau nggak apa yang mau di omongin Lian?”
Nadia menggeleng pasrah, “Dia nggak cerita apa-apa sama gue. Sama Dony juga,”
Alika menghela napas dalam-dalam. Dia memang tidak bisa menyalahkan Nadia, apalagi meskipun tidak mau mengakuinya, dalam hati Alika sangat kegirangan karena tau Lian rela meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ketua pensi hanya untuk menyusulnya ke Yogya.
Selesai mendengar cerita dari kedua belah pihak, Alika dan Nadia memutuskan untuk tidak lagi membahas para cowok, baik itu Lian, Alvin maupun Dony pacar Nadia. Sisa malam itu mereka lewatkan dengan membicarakan rencana perjalanan mereka selama di Yogya.
__ADS_1
Wisata apa saja yang akan mereka kunjungi, serta kuliner apa saja yang ingin mereka cicipi. Dan rencanya besok mereka akan menyambangi Pantai Indrayanti, salah satu pantai dari jajaran pantai berpasir putih di wilayah Gunung Kidul Yogyakarta.