
Lian menatap lekat ke wajah Alika, dia nampak serius saat mengucapkan pertanyaannya. Cewek itu tidak menjawab, namun Lian terus menatap mata yang saat ini tepat berada di atas wajahnya itu untuk mencari penjelasan.
“Gue nggak tau, Yan. Gue masih nggak ngerti sama perasaan gue sendiri,” jawab Alika seraya memalingkan wajahnya dari tatapan Lian.
Cowok itu menyentuh tangan Alika dengan lembut, bisa dirasakan ada sesuatu yang bisa memberikan ketegaran dari tangan itu.
“Gue bisa bantuin lo, Al. Gue nggak minta lo buat lupain David tapi seenggaknya lo bisa buka hati buat seseorang yang akan mengisi masa depan lo,” ucapnya penuh keyakinan. Tidak sedikitpun tersirat keraguan dari ucapan itu.
Alika seperti mendapat pukulan yang keras pada hatinya saat mendengar kata-kata Lian. Mungkin selama ini dia sudah terlalu bodoh dengan terus menyesali kepergian David. Dan hal itulah yang selama ini menyiksa dirinya sendiri.
“Gue pengen sendiri dulu, Yan.” Alika meminta Lian untuk menyingkir dari kakinya.
__ADS_1
Saat dia hendak melangkah pergi tiba-tiba Lian menariknya dan langsung memberikan kecupan lembut pada bibirnya.
Alika membeku dan membelalak dengan wajah pucat. Itu memang bukan ciuman pertama mereka. Sebelum ini mereka pernah melakukannya saat liburan di Bali, dan satu lagi entah kapan itu.
Tapi Lian yang sekarang menciumnya di siang bolong, benar-benar membuatnya tak bisa berkutik. Alika merasakan banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Dia yakin, saat ini dirinya dan Lian pasti sudah menjadi tontonan layaknya di drama Korea yang sering dia lihat.
Sejujurnya Alika ingin meronta melepaskan ciuman itu, tapi hatinya menahan dan malah membuat cewek itu melingkarkan lengannya pada leher Lian untuk mencari penopang, karena saat ini kakinya benar-benar terasa lemas untuk berpijak.
“Ini second kiss kita, Yan,” kata Alika setengah sadar. Dia masih tidak percaya kalau orang yang dengan sangat jelas menolak untuk jadi pacarnya itu, tak ragu-ragu memberikan ciuman untuk kesekian kalinya.
“Lo salah. Ini yang ketiga, Al. Karena yang pertama udah gue ambil di pesta ulang tahun lo. Dan mulai sekarang gue nggak akan pernah lagi menghitung seberapa banyak gue ambil ciuman itu dari lo.”
__ADS_1
Selesai mengucapkan semua itu, Lian tak ragu lagi untuk kembali memanjakan Alika dengan kecupan lembut darinya.
Kali ini Alika tak kuasa untuk menahan dorongan dari hatinya. Dan tanpa berpikir lama, kali ini Alika lebih berani membalas ciuman itu. Alika berharap ada seseorang yang datang untuk menghentikan semua kegilaan ini. Dan semua itu terkabul saat Alika mendengar suara jepretan camera.
“Gila lo, Al. Udah kayak drama ajah ciuman dipinggir pantai. Nggak malu sama matahari yang masih terik di atas kepala lo. Belum ‘waktunya’, Al.” goda Nadia sambil berjalan menghampiri mereka.
Alika spontan mendorong Lian, “Lo bener-bener nyebelin, Yan…” ucapnya kesal. Alika memutar badannya dan berniat kabur.
Tapi terlambat, Lian menariknya dan membuat Alika kembali berbalik hingga dia menubruk dada bidangnya. Wajah Alika memerah.
“Lo bener, Al, gue emang nyebelin. Tapi kali ini, lo jangan kabur lagi… Please? Lo nggak tau apa yang gue rasain selama lo pergi. Gue kangen banget sama lo, Al. Pengen rasanya gue terus meluk lo kayak gini. Gue sayang sama lo, Al.” ucap Lian pada akhirnya.
__ADS_1