
Sampai di depan rumah neneknya Alika mengerutkan dahi melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman tersebut, karena dilihat dari nomor polisinya mobil itu berasal dari Jakarta. Mercedes-Benz yang terlihat familiar di mata Alika dan samar-samar dia merasa mengenali mobil itu.
“Itu mobil Papa kamu, Al?”
“Bukan. Aku kira mobil tamu keluarga kamu,”
Setelah Alvin menghentikan motornya tepat di samping Mercedes-Benz itu, Alika bergegas masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu dia melihat Nadia beserta pacarnya, dan barulah Alika teringat kalau kendaraan roda empat itu memang milik Dony yang tak lain adalah pacar Nadia.
“Nadia???”
“Aaaaaa…… Alika!!! Gue kangen banget sama lo! Jahat lo nggak pernah kasih kabar ke gue. Lupa lo sama sahabat sendiri,” teriak Nadia sambil berlari memeluk Alika.
“Aduh!” Alika memekik ketika sahabatnya itu memeluknya terlalu erat. “Sorry, Say! Gue nggak sempet maenan HP. Gue baru belajar jadi petualang,” jawab Alika nyengir.
“Mmmm… Petualang cinta nih ceritanya,” goda Nadia sambil matanya mengerling ke arah Alvin yang berdiri tepat di belakang Alika.
“Heh?” Alika mengernyit. “Nggak usah mikir yang aneh-aneh, baru juga sampai,” kilah Alika
“Gue bawa hadiah special buat lo,” bisik Nadia di telinga Alika. “Tapi kayaknya yang gue bawa ini malah bikin lo tambah masalah deh…”
“Maksud lo?”
Belum sempat Nadia menjawab Mamanya Alika sudah menyela, “Al, temennya di ajak duduk sini lho… Nggak sopan ngobrol sambil berdiri gitu.”
__ADS_1
Alika dan Nadia hanya terkekeh mendengar teguran Mamanya setelah sadar kalau banyak orang yang lebih tua di ruangan tersebut.
“Lho? Teman kalian yang satunya lagi kemana?” tanya Papa, membuat Alika semakin bingung.
“Kalian ke sini sama siapa saja, Don?”
Dony hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kening Alika berkerut begitu menyadari ada sesuatu di balik senyum cowok itu.
“Hai, Al, Apa kabar?” tiba-tiba terdengar suara lain di balik punggung Alika. Seseorang muncul dari pintu depan.
Nadia mendadak berhenti cekikian. Jantung Alika serasa terhenti sejenak. Alika menoleh dan wajahnya langsung pucat melihat Lian berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
“Lian… Kok bisa sampai sini? Bukannya lo jadi ketua pensi di sekolah?”
“You have a big problem, Darling,” bisik Nadia sambil menepuk bahu Alika.
“Hah?!” Alika melongo. Emangnya Lian ada urusan apa di Yogya. Bukannya pensi sekolah ada di Jakarta. Oh My God…
“Kalau ada waktu gue mau ngomong sama lo.” bisik Lian saat berjalan melewati Alika. Ternyata cowok itu tidak bermaksud menghampirinya, dia hanya akan duduk di samping Dony.
“Kalau ada teman yang datang dikenalin dong, Al.”
Alika tercekat. Suara yang tak lagi asing di telinganya belakangan ini terdengar jelas di dekatnya. Rupanya Alvin sejak tadi sudah duduk di samping Alika, dan cewek itu tidak menyadarinya. Alika merasakan suasana di ruangan itu benar-benar canggung.
__ADS_1
Nadia yang tak bosan-bosannya terkikik meledek Alika serta tatapan dari orang-orang yang tidak bisa dijelaskan satu per satu. Tapi di luar semua itu, pikiran Alika lebih kacau karena satu pertanyaan yang mengganggu benaknya : Apa yang mau Lian bicarakan dengan dirinya? Apakah itu menyangkut hubungan mereka?
“Woi, Al!! Kok malah bengong! Mau dikenalin nggak ini…”
“Ehh…” Alika tergagap, “Ini… sahabat gue, namanya Nadia. Yang pakai kaos biru itu pacarnya, namanya Dony. Dan yang itu… namanya Lian,”
“Pacar kamu?”
“Hush! Alvin nggak sopan tanya begitu!” bentak Budhe Har
“Nggak sopannya dimana, Ma? Alvin kan cuma nanya dia itu pacar Alika apa bukan,”
“Tetap saja kamu nggak boleh tanya seperti itu.”
“Sudah-sudah… Sekarang kalian istirahat dulu. Kalian baru sampai kan dari Jakarta. Kamu Alvin sama Alika juga, kalian siapkan kamar buat tamu-tamu kita ini. Ayo sana!”
Tak disangka kalau penolong Alika kali ini justru neneknya sendiri. Alika berhutang terima kasih pada sang Nenek yang sudah membebaskannya dari keadaan yang menghimpit hati dan pikirannya.
“Nad, lo tidur sama gue,”
“Ok, Say. Dan gue butuh banyak penjelasan dari lo tentang yang terjadi barusan.” bisik Nadia
Alika menggeleng, “Gue juga perlu penjelasan lo kenapa Lian bisa sampai ada di sini.” Alika mencubit lengan Nadia kuat-kuat.
__ADS_1
Sementara Nadia meringis kesakitan sambil berjalan mengikuti Alika ke dalam kamar.