
Usai sudah liburan Alika dan ketiga sahabatnya di Pulau Bali. Kini mereka harus kembali disibukan dengan serderet aktifitas sekolah yang menjemuhkan. Mereka kembali di hadapkan dengan buku-buku pelajaran yang membosankan beserta para pengajarnya yang kebanyakan hanya memberi tugas tanpa memikirkan kapasitas otak para siswanya.
Alika berjalan gontai menuju kamarnya. Rasa lelah di sekujur tubuhnya, membuat dia ingin segera merebahkan diri di tempat tidur kesayangannya.
“Mbok, bikinin Alika susu coklat panas. Alika capek banget. Pengen tidur,” teriak Alika setelah berhasil menyeret tubuhnya ke dalam kamar yang berada di ujung lorong lantai atas rumahnya.
Tidak ada sahutan. Yang terdengar hanya suara nyaring dentang jam yang menunjukan saat ini sudah pukul 12 siang. Alika mengernyitkan dahinya. Dia bingung kenapa rumahnya terasa begitu sepi. Dia bahkan baru tersadar kalau semenjak tiba di rumah, belum seorang pun yang dia lihat di rumah itu. Biasanya ada pembantu selalu terlihat berseliweran di setiap sudut rumah.
Alika kemudian merogoh ponsel dari saku celananya. Jari lentiknya menekan beberapa nomor dilayar ponsel itu.
“Halo. . . Mamah ada di mana? Kok rumah nggak ada orang?”
“Mamah sama Papah sedang mengantar Mbok Min pulang kampung. Kasihan kan Mbok Min udah lama ga nengokin rumah. Sekalian Mamah mau silaturhmi sama keluarganya Mbok Min.”
Suara Mamahnya terdengar kurang begitu jelas. Mungkin jaringan seluller di desa belum begitu bagus.
“Terus Alika tidur sama siapa? Alika kan takut sendirian di rumah!”
“Aduh,,, Maafin Mamah sayang! Mamah lupa kalau hari ini kamu pulang dari Bali.”
“Terus Alika gimana?!”
“Kamu tidur di rumah Nadia... dulu... ya., “ Suara Mamahnya terdengar semakin tidak jelas dan akhirnya telepon terputus.
Alika hanya bisa menghela napas. Dia merasa kesal karena dia ditinggal oleh kedua orang tuanya, tapi di sisi lain hatinya juga berbunga-bunga mengingat kenangan-kenangannya selama liburan di Bali. Apalagi kalau bukan kenangannya bersama Lian.
Meskipun hanya singkat-singkat, tapi setiap moment yang Alika lewatkan bersama Lian selalu terasa istimewa. Tidak bisa dipungkiri kalau saat ini hatinya benar-benar telah terbuka untuk menerima cinta yang baru. Dan cinta itu adalah Lian.
Memang betul bayang-bayang David masih terus menggelayuti pikirannya, tapi Lian juga memiliki tempat tersendiri di lubuk hati Alika. Dalam sekejap cewek itu melupakan statusnya sebagai pacar Radit.
__ADS_1
Yang ada di benaknya saat ini hanya sikap lembut dan perhatian yang diberikan cowok yang belakangan semakin care dengannya. Dia tidak peduli kalau dia dianggap berselingkuh dari Radit. Toh, dia juga tidak pernah suka pada cowok itu.
Dia terpaksa menjalin hubungan dengan Radit karena perjodohan orang tua mereka. Tapi untuk saat ini Alika siap melepas Radit asalkan dia bisa memiliki orang yang dia sayang.
Drrtt. . . Drrttt. . . !!!
Ada whatsapp masuk.
Alika langsung terlonjak saat membuka pesan yang ternyata dari Lian.
Lian ✔
Udah sampai rumah? 🙂
Alika menekan beberapa huruf di layar HPnya untuk membalas pesan tersebut.
Nenek Sihir ✔
Lian ✔
Udah mandi belom?
Terus udah makan?
Alika cengar-cengir membaca balasan dari Lian. Ternyata sahabat yang selalu membuatnya darah tinggi itu diam-diam perhatian juga. Kenapa tidak dari dulu?
Nenek Sihir ✔
Belom.
__ADS_1
Di rumah ga ada orang. Ga ada yg masak.
Tilulit Tiluliit..!! Tiluliit Tiluliit. . . !!!
Ada nama Lian tertera dalam layar ponsel Alika. Jantung Alika seketika berlomba memacu adrenalin nya yang membuatnya menjadi gugup tak karuan.
“Hallo! Ada apa, Yan?”
“Emang orang rumah lo pada ke mana? Kok lo sendirian di rumah.”
Alika ternganga mendengar pertanyaan Lian.
“Hah? Lo telpon gue cuma buat nanyain itu?”
“Lo itu balas pesan kayak ngetik naskah. Gue keburu ketiduran nungguin balasan lo!”
“Ya lo tinggal tidur ajah. Susah amat!”
“Kenapa lo jadi nyolot ke gue? Lo kan tinggal jawab pertanyaan gue!”
Dalam hati Alika ngedumel mendengar ucapan Lian. Bisa-bisanya cowok itu memutar balikan fakta. Karena kenyataannya dia duluan yang bersikap nyolot pada Alika. Memang benar yang dibilang Mamahnya, untuk menghadapi orang seperti Lian harus membutuhkan hati seluas samudra.
“Bokap sama nyokap ngaterin Mbok Min pulang kampung. Sekalian mau silaturahmi katanya,”
“Mmm. . . Ya udah lo hati-hati ajah di rumah.”
Pip !
Lian semena-mena memutuskan percakapan sebelum Alika sempat menjawab kalimat terakhirnya.
__ADS_1
“Gila nih cowok! Maen matiin telpon sembarangan! Ngapain juga telpon cuma buat hal nggak jelas kayak gini?”
Namun dalam sekejap kekesalan Alika sirna seketika saat dia kembali teringat sikap Lian yang manis dan penuh perhatian selama liburan kemarin. Cewek itu kembali merebahkan diri di atas tempat tidur dan langsung tertidur pulas begitu angin sejuk keluar dari AC di dalam kamarnya.