
Semilir angin berhembus menyebabkan debu pasir beterbangan ke udara dan beberapa mampir ke dalam mata Alika. Cewek itu melangkahkan kakinya menuju sebuah pohon yang terletak beberapa meter di bibir pantai. Begitu sampai cewek itu duduk di bawah pohon yang rindang tersebut. Walaupun si pohon masih kecil namun cukup untuk melindungi dari terik matahari siang.
“Dari segini banyak pedagang kenapa juga cuma ada satu penjual es kelapa. Antrinya ajah udah kayak bagi sembako gratis. Sial amat gue,“ gumam Alika sambil memunguti bebatuan di sekitar dengan malas, dan melemparnya ke arah mana saja.
Angin berhembus kencang, menerbangkan helaian rambut panjang cewek yang saat ini sedang termangu menatap lautan sambil memikirkan seseorang yang selalu menghantui pikirannya.
Alika masih merasakan dadanya sesak dan perih. Dia berpikir apa semua yang menimpa dirinya itu karena dia belum sepenuhnya ikhlas melepas kepergian David.
Andai saja waktu itu dia tidak membiarkan David pergi. Andai saja mereka tidak menghabiskan malam sampai selarut itu. Andai saja malam itu mereka tidak bertemu. Andai saja…
Memikirkan semua kata ‘Andai’ itu membuat Alika merasa semakin tersiksa. Cewek itu melipat kakinya dan membenamkan kepala diantara kedua lututnya. Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya. Kesedihan yang selama ini dia pendam, akhirnya tidak lagi bisa diterima oleh hatinya.
“Tiga tahun sudah waktu yang cukup lama untuk menyesalinya, Al. Udah saatnya sekarang lo ikhlasin dia,” celetuk seseorang, Alika mendongak sedikit melebarkan matanya.
Seorang cowok berdiri tepat di depan Alika. Sosoknya terpantul sinar matahari membuat siluet dirinya semakin terlihat menarik. Lesung pipinya yang sangat menawan, ditambah rahang kokoh membungkus ketampanannya.
__ADS_1
Dialah cowok yang selama ini membolak-balikkan perasaannya. Yah dialah Lian. Alika tersadar sesaat ketika dia menyodorkan minuman dingin dalam kaleng. Alika menerimanya dengan canggung.
“Ngapain lo di sini?” tanya Alika menatap wajah Lian yang ikut duduk di sampingnya.
“Nyariin lo,” jawab Lian singkat
Alika mengerutkan dahinya, “Nyari gue? Ada urusan apa? Bukannya lo tadi pergi sama Dony ya?”
“Bosen maen sama cowok mulu. Sekali-kali pengen juga gue maen sama cewek cantik,” Lian mengerlingkan matanya. Membuat kedua pipi Alika bersemu merah.
Lian tertawa geli melihat bibir Alika yang manyun, membuat wajahnya terlihat semakin manis. “Sekarang dia lagi sama Nadia. Kalau lo mau, kita bisa nyusul mereka.”
“Ogah ah… Gue bisa di damprat kalo balik nggak bawa pesenan si Nadia. Tuh dia minta dibeliin es kelapa.” Alika menunjuk si abang penjual es yang masih laris manis saja ditungguin banyak orang.
“Abangnya ganteng kali ya sampai orang-orang betah ngerumunin dia.”
__ADS_1
“Hahaha… lo cemburu ya sama abang penjual es?”
“Gila ajah… Gue cemburunya cuma sama lo…” Alika buru-buru mengutuk dirinya yang keceplosan tentang isi hatinya.
Lian memandangi Alika dengan senyuman yang sulit ditebak, “Al, lurusin kaki lo dong!”
“Emang kenapa?”
Lian tidak menggubris pertanyaan Alika dan malah menarik kaki cewek itu. Serta merta Lian menghempaskan kepalanya di atas paha Alika. Cowok itu langsung memejamkan matanya dan menikmati semilir angin yang membelai wajahnya.
Alika cukup kaget dengan sikap Lian, tapi dia juga tidak menolak meminjamkan kakinya untuk alas tidur cowok itu. Alika memandangi wajah Lian yang tampak santai dan tanpa beban.
Bagaimana mungkin cowok itu bisa dengan santainya memberikan perlakukan semacam ini kepada Alika yang tak lain adalah cewek yang dia tolak pernyataan cintanya.
Perlahan Alika mengusap rambut Lian, membuat cowok itu tersenyum penuh kemenangan. Dia seperti menikmati betapa nyamannya belaian tangan Alika yang penuh kelembutan.
__ADS_1
“Lo masih sayang sama David?” tanya Lian tiba-tiba, membuat cewek itu tersentak kaget.