
Alika yang sedang enak-enakan tidur di pojokan kelas, membuka sedikit kelopak matanya setelah mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Atau lebih tepatnya lagi berbisik. Karena suara tersebut terdengar begitu hangat di samping telinganya. Matanya menyipit sejenak.
Mata Alika yang masih belum terbuka sepenuhnya memandang cowok yang duduk di hadapannya dengan tidak berselera. Tapi Alika terpaksa menegakkan tubuhnya karena sedetik kemudian dia baru menyadari kalau cowok yang sedang memandanginya saat ini adalah Lian.
Alika melirik tajam ke arah Lian. Entah dari mana datangnya, ada nada curiga pada ucapannya. “Ngapain lo jongkok-jongkok di depan gue?”
“Gue ngebangunin lo karena ada yang mau gue omongin sama lo!” ketus Lian lalu menjitak pelan kepala Alika.
Sisa kantuk yang masih menggelayut di pelupuk mata Alika langsung hilang seketika.
“Heh, jangan sembarangan mukul kepala orang!”
“Salah sendiri jadi cewek tukang tidur!”
“Sebodo amat! Mata mata gue, kenapa lo yang nyolot!”
“Ya tapi kelakuan lo ini ngerusak pemandangan kelas!”
“Kalau lo nggak mau pemandangan lo itu rusak, lo jauh-jauh ajah dari gue! Liat sono Pak Maman yang lagi motongin rumput di taman. Sekalian minta tolong buat motongin lidah lo biar nggak sembarangan ngatain orang!” bentak Alika sambil mengucek-ngucek kedua matanya.
__ADS_1
“Arrggghhh! Kayak anak kecil aja!” Lian mengibaskan tangannya. Ia memandang Alika sebentar.
Kalau dipikir-pikir capek juga terus-terusan ribut sama cewek manja kayak gini.
Alika bangkit dari duduknya. Dia paling tidak suka ada orang yang mengganggu ketenangannya. Apalagi saat ini dia benar-benar sedang mengantuk berat dan sangat ingin memejamkan mata.
“Yang tadi pagi nganter sekolah itu cowok lo?”
“Kalo iya kenapa?” tanya Alika yang tidak bisa menyembunyikan rasa kesal karena Lian mengganggu tidurnya.
“Nanya aja. Nggak boleh?”
“Nggak biasanya lo mau tau urusan orang.”
“Boleh tau namanya nggak?” tanya Lian dengan tampang yang susah banget diartikan. Bagaimana bisa ada cowok yang tersipu malu saat menanyakan nama cowok lain. Lian masih normal kan?
“Buat apa lo tau nama cowok gue?” tanya Alika penuh selidik.
“Masak gue nggak boleh tau nama pacar sahabat gue sendiri?”
__ADS_1
Mata Alika langsung membulat. Nggak salah dengerkan? pikir Alika heran. Barusan Lian bilang kalau mereka itu sahabatan. Sejak kapan mereka punya hubungan sedekat itu?
“Yan, lo nggak panas kan? Gue udah bangun kan??”
“Maksud lo apaan, Al?”
“Sejak kapan gue jadi sahabat lo???”
Lian menelan ludah. Dia merasa bersalah karena sudah beranggapan sejauh itu tentang dirinya sendiri. Tidak seharusnya dia membuat hubungan yang kelewat baik dengan Alika. Seharusnya dia masih merasakan sakit hati terhadap Alika.
Bagaimana bisa dia lepas kontrol terhadap perasaannya sendiri?
Mungkin karena dia mulai merasa nyaman dengan keberadaan Alika. Hari-harinya yang selalu diliputi penyesalan atas kematian sepupunya, sekarang mulai terasa berbeda sejak ia berteman dengan Alika. Tanpa sadar, Alika membawa kebahagiaan yang selama ini hilang dari hidup Lian.
“Kok bengong?”
Pertanyaan Alika membuyarkan lamunan Lian. Cowok itu menghela napas. Panjang dan dalam.
“Gue salah ngomong. Ya udah lupain ajah pertanyaan gue!” Lian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1