
Nadia yang sudah berjalan lebih dulu bersama Dony kembali menoleh mendengar pertanyaan Lian yang tak kunjung mendapat jawaban dari Alika.
Cewek itu kembali berjalan menghampiri Alika saat merasa ada sesuatu yang aneh dengan sahabatnya itu.
“Alika, lo kenapa? Kok tiba-tiba lo pucet?” tanya Nadia bingung.
“Iya, Al. Lo sakit?” tambah Dony
“Buseet dah! Lo ngomong dong. Lo mabok atau kenapa?”
Tepat saat itu terlihat air mata mengalir dari kedua mata Alika. Hal itu membuat ketiga sahabatnya semakin bingung.
“Gue pernah ngalami moment ini sama David,” jawab Alika dengan suara bergetar sambil menahan isak tangisnya.
__ADS_1
Nadia seperti disambar petir di siang bolong mendengar nama itu kembali disebut dari mulut Alika. “Maksud lo apa, Al?”
“Ini seperti déjà vu buat gue. Pertanyaan yang barusan Lian bilang sama dengan yang David tanyain saat gue sama dia terakhir liburan ke Bali. Dia juga nanya seperti itu, suasana dan tempatnya juga sama. Bahkan tanggal dan harinya pun sama,”
Alika tidak kuasa lagi menahan air matanya untuk tidak mengalir. Semua kenangannya bersama David kembali menggelayuti hatinya. Hati yang perlahan mulai terbuka untuk menerima sosok Lian kini kembali terluka hanya karena satu pertanyaan yang mengingatkannya pada David. Cowok yang paling ia cintai, cowok yang selalu menjadi penjaga hatinya.
“Gue minta maaf, Al. Gue nggak tau kalau lo punya banyak kenangan sama David di sini,” kata Lian dengan rasa bersalah.
“Ya udah, Al, lo nggak usah sedih lagi kayak gini. Kita ke sini kan buat seneng-seneng. Kenapa lo malah jadi cengeng. Gue yakin David pasti nggak mau kalau lo murung lagi kayak gini.” kata Nadia sambil memeluk Alika dengan lembut.
Sejujurnya, Alika masih teringat dengan semua kenangannya bersama David. Tapi yang diucapkan Nadia benar. David pasti sedih kalau melihat dirinya mengeluarkan air mata lagi.
“Sorry, gue jadi kebawa suasana,”
__ADS_1
“Nggak papa, Al. Gue ngerti banget kok perasaan lo.”
“Ya udah kita langsung ke cottage ajah. Kita istirahat sebentar baru kita mulai petualangan kita,” kata Dony mencoba kembali membuat suasana menjadi semangat.
Alika menghapus air matanya dan merapikan kembali suasana hatinya yang sesaat sempat berantakan. Setelah itu ia bergegas mengikuti Nadia dan Dony yang sedang kerepotan membawa koper-koper mereka menuju taksi yang sudah mengunggu di depan bandara.
Alika yang biasanya cerewet kali ini memilih untuk lebih banyak diam di sepanjang perjalanan menuju penginapan. Ia hanya menonton Nadia yang sedang bergelayut manja di bahu Dony. Emang dasar dua sahabatnya itu kalau sedang kasmaran nggak pernah liat tempat.
Di sisi lain, diam-diam Lian sedang memperhatikan Alika yang masih tak bisa menutupi wajah murungnya. Meskipun cewek itu mencoba untuk tersenyum, tapi matanya tak bisa berbohong. Jelas-jelas Alika masih menahan air matanya. Dan hal itu membuat Lian semakin bersalah.
Ia memang tidak bermaksud untuk membangkitkan kembali memori Alika tentang David. Tapi gara-gara Lian juga Alika jadi seperti sekarang. Ia tidak menyangka kalau ucapan yang sepele dari mulutnya akan membuat cewek itu kembali membuka luka hatinya.
Andaikan ada yang bisa ia lakukan untuk membuat sahabatnya itu tersenyum pasti sudah ia lakukan.
__ADS_1