
Sebenarnya Alika merasa sangat keberatan untuk menemui cowok itu. Mengingat sifat arogan yang selalu dia tunjukkan di hadapan Alika, membuat semua pandangan positif cewek itu terhadap Lian sirna sudah. Hanya image negatif yang tersisa di mata Alika.
“Ya udah lo temuin ajah, Al. Siapa tau dia mau minta maaf sama lo. Mungkin dia udah sadar kalau dia cuma salah paham sama lo.”
“Salah paham apa?”
“Ya selama ini kan Lian mikir kalau kecelakaan David itu penyebabnya adalah lo. Soalnya dia terakhir pergi sama lo,”
“Gimana bisa dia mikir gitu? David kecelakaan setelah nganter gue pulang, Nad.”
“Iya gue ngerti. Tapi kan tidak seperti itu anggapan Lian.”
Alika membisu. Dia tidak bereaksi apa-apa dengan kesimpulan sepihak yang dibuat oleh sahabatnya. Pikirannya sedang tidak terfokus. Pesan singkat dari Lian kini sedang mengusik pikirannya.
__ADS_1
Tidak bisa dibohongi, hati kecil Alika juga penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Lian. Apakah seperti dugaan Nadia, tentang permintaan maaf? Atau ada hal yang tidak penting lainnya yang hanya akan membuat emosinya meledak?
Setelah mempertimbangkan cukup lama, akhirnya kaki Alika melangkah juga menuju lapangan basket. Tempat biasa cowok yang ingin bertemu dengannya itu nongkrong. Lian memang tidak menyebutkan dimana tempat mereka akan bertemu, tapi firasat Alika mengatakan kalau cowok itu saat ini sedang ada di lapangan basket.
Tidak seperti perkiraan Alika yang menduga kalau hanya akan ada satu cowok di tempat itu. Orang yang akan ia temui memang ada di tempat itu, tapi ternyata anak-anak tim basket juga ada disana. Mereka sedang berlatih bersama. Mungkin akan ada pertandingan dalam waktu dekat.
Sengatan sinar matahari siang itu benar-benar membakar kulit. Tapi Alika dengan cueknya berjalan ke tengah-tengah lapangan basket sambil menatap lurus ke arah cowok yang sedang asik mendribel bola basket.
Dan begitu Alika sampai di tengah-tengah kerumunan yang notabene semuanya adalah kaum adam, Alika langsung menjadi pusat perhatian. Mungkin sebuah pemandangan langka ada seorang cewek -yang tampaknya ogah banget panas-panasan- sedang berdiri dengan muka jutek di hadapan mereka.
“Ngapain lo malah bawa gue pergi? Bukannya lo yang minta gue buat datang?” tanya Alika mencoba memulai percakapan.
Lian tiba-tiba menghentikan langkahnya. Menatap Alika dengan tatapan dingin dan menusuk. “Gue emang minta lo buat nemuin gue, tapi nggak terang-terangan di tengah lapangan gitu!”
__ADS_1
Rahang Alika terkatup kaku. Tanda ia sedang menahan emosi yang membuncah di dalam hatinya. “Kalau lo cuma mau main-main sama gue, sorry ajah gue nggak ada waktu buat ngeladenin lo!”
Alika lalu mendorong dada Lian dengan kasar. Wajahnya merah padam. Alika cepat-cepat membalikkan badannya dan berlalu meninggalkan Lian yang masih menahan rasa kesalnya.
“Gue mau ngajakin lo dinner malam ini.” ucap Lian tiba-tiba sebelum Alika melenggang semakin jauh.
DEG!!!
Alika seketika tercengang. Jantungnya serasa akan meloncat keluar dari tempatnya. Kedua alis matanya terangkat. Apa telingannya tidak salah dengar? Lian mengajaknya makan malam. Sepertinya dunia mulai ikutan gila gara-gara efek global warming yang semakin merajalela.
“Apa lo bilang? Dinner? Gue sama lo?” tanya Alika sambil mengamati wajah Lian dengan seksama. Siapa tau cowok itu sedang berniat mempermainkannya.
“Gue jemput lo di rumah. Jam 8.”
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Lian langsung pergi tanpa memperdulikan Alika yang masih melongo kebingungan.