Lost Memory

Lost Memory
Sepuluh


__ADS_3

Grey meluruskan kakinya yang terasa linu. Di masa perawatan yang sudah hampir setahun ini telah memberikan dampak yang baik untuk kakinya. Dua bulan lalu ia sudah tak lagi bergantung pada kursi roda, sementara untuk berjalan ia mengandalkan dua tongkat kruk untuk menyangga keseimbangan.


Dokter menyarankan agar ia sesering mungkin latihan untuk berjalan dan kali ini ia mencoba untuk berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya.


Meski sudah hampir setahun rasanya tetap saja asing, perbedaan bahasa dan budaya menjadikannya sulit beradaptasi apalagi geraknya hanya terbatas.


Reyno selalu menyempatkan waktu untuk datang dan juga menepati janji dalam memenuhi semua kebutuhan serta menjamin sampai ia benar-benar bisa disembuhkan.


Grey mendesah panjang, mengamati dedaunan yang jatuh berserakan di sekitarnya. Hidupnya terasa sangat monoton, ia mulai jenuh dan bosan dengan kondisinya. Ingatan yang tak kunjung kembali juga seakan benar-benar menyiksanya.


"Rena... Kamu disitu rupanya."


Grey menoleh saat seseorang berteriak memanggilnya, Reyno datang dengan berlari kecil dan kini mengambil duduk di sampingnya mengatur napas yang terengah-engah.


"Kamu tidak menghubungiku kalau ingin keluar."


"Aku cuma ingin berjalan-jalan. Ada apa kamu mencariku?"


"Tadi aku ke apartemen dan tidak menemukanmu disana, jadi aku inisiatif keluar mencarimu. Kenapa tidak memanggil Lisa untuk menemanimu?"


Grey menggeleng. "Hanya hal sepele jadi aku tak harus selalu merepotkannya."


"Apa dia keberatan saat kamu meminta bantuan?" tanya Reyno memasang tatapan curiga.

__ADS_1


"Bukan, maksudku bukan begitu Rey. Lisa sangat baik, dia selalu membantuku. Tapi ada saatnya juga aku ingin bersendiri. Lagian ini juga tak jauh dengan apartemen."


Reyno mengangguk. "Tapi kedatanganku tak mengganggumu kan?"


Di saat Grey menoleh didapati Reyno tengah melebarkan senyum seraya menatapnya. Namun Grey masih mempertahankan raut wajahnya yang datar.


"Kenapa kamu terus menatapku?" ucap Reyno.


"Kebetulan karena kamu disini, aku ingin menyampaikan sesuatu."


"Apa itu?" tanya Reyno yang tak sabaran.


"Aku jenuh."


Grey menggeleng. "Aku ingin pulang."


"Pulang?"


"Iya, kembali ke negara asalku."


"Rena, kakimu belum sembuh sepenuhnya."


"Aku tak bisa terus hidup disini dan bergantung padamu, Rey. Semakin kamu baik kepadaku, aku berfikir aku tak bisa untuk membalas semua kebaikanmu."

__ADS_1


"Jangan berfikir yang macam-macam, aku tulus dan ini sudah jadi tanggungjawabku," tegas Reyno.


"Semakin kamu berbicara tanggungjawab, sebenarnya aku merasa curiga. Apa ada yang sebenarnya kamu sembunyikan?" ucap Grey penuh selidik.


Ditatap oleh Grey dengan curiga, Reyno jadi salah tingkah. "Tak ada apapun, sudah kubilang kita ini sepupu. Orangtuamu meninggal jadi aku berinisiatif mengambil hak wali untukmu."


"Sebenarnya aku hanya menunggu waktu supaya kamu mengatakannya secara langsung."


"Apa maksudmu?"


Grey menarik sudut bibirnya tersenyum mengejek tetap menatap lurus Reyno. "Kamu tak pintar menyembunyikan kebohongan."


"Aku tak berbohong," ucap Reyno bersikukuh.


"Aku sudah tahu sejak awal."


"Apa ingatanmu sudah kembali?"


"Belum," ucap Grey menggeleng.


"Lalu kenapa kamu bicara omong kosong?" sahut Reyno mencairkan keadaan dengan tawa.


"Karena saat itu memang aku tak punya pilihan. Dan kamu yang terus memberi keyakinan mengusahakanku agar bisa sembuh, itulah yang membuatku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Kamu merasa bersalah kan dengan keadaanku? Atau kamu yang membuatku jadi seperti ini, sehingga kamu ngotot bilang kalau aku orang yang perlu kamu pertanggungjawabi?" ucap Grey penuh penekanan.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2