
"Astaga, kepalaku berat banget!" Desis wanita yang duduk di sisi kursi kemudi tempat Darrel berada.
"Berapa banyak minuman yang sudah kamu tegak?"
"Cuma dikit, gak sengaja ketelan." Dengan memejamkan mata sambil berdesis memegangi kepala wanita itu menyandarkan kepalanya di jok mobil.
Darrel menduga campuran obat dalam minuman yang tertelan punya kandungan kadar obat yang kuat. Buktinya wanita itu kini nampak kesakitan memegangi kepala.
Darrel kemudian memutar badan, meraih untuk mengambil jaketnya yang berada di jok kursi belakang untuk menyelimuti paha wanita itu yang terekspos akibat memakai baju yang cukup minim.
"Tidurlah lebih dulu biar kondisimu lebih baik."
Wanita itu kini membuka satu matanya. "Kamu gak berniat buruk kan?"
"Menurutmu?" sahut Darrel yang malah menanyakan pendapat dari wanita itu.
"Tak tahu, yang jelas ditempat itu aku gak bisa membedakan mana orang yang baik dan yang buruk," timpalnya bergumam bersamaan dengan matanya yang terpejam erat.
Darrel melirik sekilas, kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya untuk dikirim pada Andreas sebelum melajukan mobilnya pergi dari tempat parkir.
Beberapa jam berlalu, tepatnya di pagi hari Darrel yang semalaman memutuskan untuk tak keluar kemana pun, lebih tepatnya masih bertahan di mobilnya bersama wanita yang terlelap tidur itu kini sama-sama terbangun.
__ADS_1
"Semalam gak ada yang terjadi kan?"
Darrel masih meregangkan otot-ototnya, tidur semalaman di tempat sempit membuat seluruh badannya pegal. "Menurutmu?" sahut Darrel yang kemudian membuka kedua sisi jendela agar udara masuk ke mobilnya.
Dari ekor mata Darrel, wanita itu kini meneliti bagian tubuhnya kemudian menyibakkan baju milik Darrel yang semalam dipakai selimut olehnya. Dan kemudian wanita itu menggeleng ragu.
"Sudah tahu di tempat kemarin tak bisa membedakan mana orang yang baik dan yang buruk kenapa masih saja bertahan?" seloroh Darrel dan wanita itu justru membalas dengan tatapan bingung. "Semalam kamu sendiri yang mengatakannya, gak ingat?"
Lagi-lagi cuma dijawab dengan gelengan kepala.
"Sudah lama bekerja disana?"
"Belum, bahkan belum genap satu bulan."
"Baru Dua puluh. Semalam?" wanita itu mengingat-ingat sesuatu. "Apa kamu langsung membawaku pergi setelah keributan itu?"
Darrel menaikan satu alis, kemudian mengangguk.
"Sial, pasti orang-orang akan mencariku karena aku buat masalah. Bahkan aku gak bawa apa-apa, ponselku?" wanita itu terus saja menggerutu dan menyalahkan keadaan. "Pasti aku akan dipecat," imbuhnya kecewa.
"Kamu menyesal setelah aku membawamu pergi dari sana?"
__ADS_1
"Aku bakalan dipecat, bagaimana aku tak menyesal."
"Bila terjadi pelecehan seperti kemarin kamu juga akan terima?"
Wanita itu terdiam, dengan raut wajah ingin memprotes. "Tapi aku juga gak punya pilihan, karena gaji disana cukup besar."
"Siapa yang bilang?"
"Ada, temanku. Mereka minimal bisa dapat sepuluh juta dalam sebulan."
"Kamu yakin mendapatkan uang segitu dengan hanya mengantar minuman?"
"Tidak." Wanita itu menggeleng lalu menjelaskan pekerjaannya. "Selain mengantar minuman, pelanggan disana ada yang minta ditemani minum."
"Hanya minta ditemani?" tanya Darrel yang mulai memancing. "Tidak lebih?"
Tapi raut di wajah wanita di samping Darrel berubah masam. Lalu membuang napas kasar. "Ada juga yang kurang ajar. Awalnya minta ditemani duduk bersama, ngajakin buat temen ngobrol dan sesekali juga ditawari ikut mencicipi minuman. Tapi yang menjengkelkan saat tangan mereka mulai bergerak usil."
"Tapi kamu bertahankan walau diperlakukan seperti itu?"
Wanita itu kemudian membalas Darrel dengan tatapan marah dan jawaban ketus. "Gak ada pilihan."
__ADS_1
Darrel pun menarik sudut bibirnya dan berujar, "berarti semalam keputusanku telah salah mengajakmu pergi dari sana. Maaf, mungkin bila kamu masih tetap berada disana ada harapan kamu bisa pulang membawa uang seperti yang kamu harapkan."
"Apa aku nampak di matamu seperti wanita murahan?" sahut wanita di hadapan Darrel yang kini menyatakan ketidakterimaaanya.