Lost Memory

Lost Memory
Duapuluh Dua


__ADS_3

Dalam opera pertunjukan yang tengah berlangsung Grey sama sekali tidak memperhatikan, justru ia tengah melamun. Pikirannya terbayang dengan sosok pria yang beberapa waktu lalu berkenalan dengannya.


Sorot mata pria itu seperti tak asing, tapi yang membuat Grey tak enak hati ketika ia meyakini jika tatapan pria itu kecewa terhadapnya.


Grey mencoba memaksakan untuk mengingat dan mengulang-ulang nama Darrel dalam pikirannya, namun hal itu justru membuatnya sangat pusing dan tanpa sadar ia berdesis sebab tiba-tiba sakit di kepalanya mendadak muncul, tak tahan untuk mengungkit segala ingatan yang hilang begitu saja semenjak satu tahun terakhir.


"Kamu kenapa?" tanya Reyno yang menyadari sikap Grey nampak menahan sakit sebab wanita di sebelahnya kini tengah memegangi kepala.


Grey menggeleng masih dengan mata terpejam, ia mencoba menepis sakit di kepalanya tapi mustahil. "Kepalaku agak sedikit pusing."


Reyno memeriksa keadaan Grey dan dengan perasaan khawatir ia membujuk agar segera keluar dari bangku penonton pertunjukan opera. "Kita keluar sekarang, kamu masih kuat kan berjalan atau aku gendong saja."


"Aku jalan saja, kamu bantu papah."


Reyno sigap merangkul Grey untuk dibawa keluar dari acara yang masih berlangsung melewati barisan kursi penonton.

__ADS_1


Setelah berhasil keluar dari gedung pertunjukan opera, mengamati wajah Grey yang pucat dan mencoba memeriksa kondisi, kini Reyno menawarkan untuk pergi ke Rumah Sakit.


"Aku antar periksa ya?"


"Tidak Rey, lebih baik kita pulang saja," pinta Grey lemah.


"Kamu sakit Ren, lebih baik ke dokter biar tahu apa penyebab sakitmu."


Grey menggeleng menolak. "Cuma sedikit pusing, untuk tiduran akan lebih baik."


"Aku tinggal di rumah obatnya. Ayo lebih baik pulang," sahut Grey bersikeras meminta untuk pulang.


Reyno pun tak lagi membantah dan menuruti Grey untuk segera pergi mengambil mobilnya.


Selama dalam perjalanan pulang Grey terus memejamkan mata bersandar pada jok kursi yang diduduki. Keadaan ini memang bukanlah sekali dua kali, melainkan sering terjadi. Apalagi ketika sekelibatan ingatan muncul di kepala, pasti mengakibatkan kepalanya pusing. Bahkan lebih parahnya ketika ia memaksakan untuk mengulang-ulang sekelibat ingatan samar yang muncul justru perasaan mual disertai dengan pernapasan menghimpit menyiksanya.

__ADS_1


Dan ketika Reyno tahu tentang keadaan yang menimpanya dengan rutin ia diwajibkan untuk meminum butiran obat sebagai pereda sakit yang dialaminya. Memang berangsur sakitnya hilang tapi kelamaan dengan rutinnya ia meminum obat sekelibat ingatan yang muncul itu jadi jarang terjadi padanya.


Ketika awal ia baru tiba di negara yang ditinggali sekarang ini kejadian ingatannya yang muncul sering terjadi namun berangsurnya Grey yang rutin meminum obat yang diberi oleh Reyno, ia seakan jadi lupa tentang masa lalunya.


Bahkan sadar atau tidaknya ia yang berkewajiban meminum butiran-butiran obat itu justru mengakibatkannya jadi ketergantungan. Siapa pun pasti paham jika terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan akan berefek buruk pada kesehatan dan ketika ia menyampaikan keluhan itu kepada Reyno beserta Lisa, jawaban yang didapatkan dari mereka justru sama-sama menyebut jika semua adalah kebaikan untuk Grey. Tujuannya hanya agar ia sembuh dan tak lagi merasa kesakitan.


Kini Grey yang sudah sampai apartemen langsung dibaringkan oleh Reyno di dalam kamar untuk beristirahat. Lisa juga berada di antara mereka dan sempat menanyakan keadaan Grey yang pulang dalam keadaan sakit.


Tapi Reyno kini justru memerintahkan Lisa agar mengambil segelas air hangat, sementara lelaki itu sekarang membuka laci nakas mengambil butiran obat untuk diberikan kepada Grey.


"Minum obatmu dulu sebelum istirahat," ucap Reyno bersamaan dengan Lisa yang datang menyerahkan air hangat yang tadi diminta.


Grey pun menurut. Dengan dibantu oleh Reyno, ia sejenak duduk menerima uluran beberapa butir obat juga meneguk air hangat dari dalam gelas, kemudian ia kembali berbaring untuk tidur. Berusaha tak mengindahkan orang di sekitar sambil memejamkan matanya rapat.


Detik yang berlalu, dalam mata yang terpejam dan suara yang tertangkap di telinga jika Reyno dan Lisa menginggalkan kamar hingga menutup pintu, Grey perlahan membuka mata juga mulutnya guna mengeluarkan butiran obat yang sengaja ia selipkan di sela gigi gerahamnya. Sebab ia sudah bertekad untuk tak lagi meminum obat yang baginya justru menghambat ingatan masa lalunya.

__ADS_1


__ADS_2