Lost Memory

Lost Memory
Enampuluh Satu


__ADS_3

Sejak Grey diantar pulang ke apartemen, lebih dari seminggu lamanya Darrel justru tak datang menyambanginya. Bahkan ia tak diberi kabar dan alasan apapun saat Grey menanyakan keberadaan Darrel.


Grey membanting ponselnya di atas ranjang. Seluruh pesannya tak ada yang dibuka satu pun dan membuatnya begitu kesal sampai ia mengutuk Darrel. "Awas saja, aku akan lebih mengabaikanmu nanti saat kita bertemu!"


Grey lantas menjatuhkan diri di kasur, beberapa hari terakhir ia sangat jenuh. Berada di kota yang pertama kali didatangi, tak ada teman yang menjadikannya hanya makan, tidur, bermain sosmed, nonton saluran TV sampai ia sendiri jadi bosan.


Ia belum memahami apa saja tugasnya dan mulai berfikir semembosankan ini. Tak berselang bunyi dari kode pin apartement terdengar, kepala Grey sontak berpaling ke arah sumber suara. Meyakini jika yang datang sudah pasti Darrel.


Lekas Grey beranjak, dari dinding kaca yang kebetulan keseluruhan gordennya tersibak nampak Darrel yang memasuki ruangan.


"Kesini gak kasih kabar? Pesanku juga satu pun gak kamu balas," ujar Grey berprotes mengecek ponselnya yang setelah diamati hanya dibaca saja oleh Darrel. "Oh ya, aku bosan disini. Kamu sendiri kan yang bilang kalau apa yang kamu mau sudah didapat. Kalau bisa aku ingin kembali saja ke kota tempat tinggalku, untuk masalah privasi jangan khawatir aku akan menjaganya sampai batas kontrak yang dijanjikan habis."

__ADS_1


"Sudah mulai berani mengaturku?" sahut Darrel menghentikan gerakannya yang melepas kancing lengan kemejanya.


"Tapi aku jenuh, satu minggu saja aku sudah seperti orang linglung apalagi kalau aku dua tahun tinggal disini. Bisa-bisa keluar dari sini aku jadi gila."


"Kamu tak harus berdiam disini kan? Aku tak melarangmu pergi."


"Pergi? Kemana? Aku gak ada temen disini. Kamu pun sekali saja gak pernah balas pesanku. Aku belum tahu jalan, dimana tujuanku pergi, dengan apa dan siapa yang bisa kuandalkan?"


Grey terkejut, iya ia menyadari begitu bodoh. Uang kan bisa mengantarkannya kemana pun, tapi sisa uang yang ada padanya tak seberapa. "Lagian kamu belum mengganti uangku. Perjalanan kesini sudah banyak uang yang kukeluarkan. Oh ya, dan aku belum bilang keluar dari club itu aku harus bayar denda," ucap Grey yang sebenarnya mengada-ada.


"Darrel, ganti uangku ya," ujar Grey merayu.

__ADS_1


"Semua tergantung dengan pelayananmu. Aku mandi dulu," sahut Darrel yang begitu saja berlalu menuju kamar mandi.


Sedangkan Grey yang ditinggalkan dadanya seketika berdentaman atas ucapan Darrel tadi. Jujur saja ia belum siap, apalagi ketika nyala kran air dan gemericik air yang mulai terdengar membuatnya jadi cemas.


Ia menoleh menatap arah pintu kamar mandi, menggeleng berat lalu menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Seusai mandi Darrel keluar hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang, Grey yang tahu dengan hal itu menjadi sangat tak nyaman. Tapi Grey jadi teringat sesuatu sebab Darrel tadi pulang dengan tangan kosong.


"Bukannya kamu pulang gak bawa baju? Kamu gak mungkin kan tinggal disini dengan keadaan tak pakai baju? Please, ini pertama kalinya aku tinggal bersama dengan laki-laki. Jangan bikin aku syok, kita jalani pelan-pelan aja ya. Minimal kita saling mengenal satu sama lain dulu," ujar Grey tapi tak dihiraukan Darrel sebab lelaki itu kini justru melangkah lebih dulu menuju almari tempat dimana ternyata tertumpuk beberapa baju.


Aissst, sial... batin Grey yang tertunduk merutuki malu. Ini kan apartment milik Darrel sudah pasti lelaki itu menyimpan barang kepunyaannya.

__ADS_1


__ADS_2