
Grey kepayahan untuk berdiri normal, ditambah dengan kaki yang sudah begitu kebas dan ngilu karena berdiri begitu lama. Dan mudah saja badannya roboh setiap saat jikalau tak ada lengan kokoh Darrel yang melingkar di pinggangnya.
******* napas keduanya yang saling terengah dalam panasnya gairah memenuhi ruang temaram di dalam kamar. Darrel begitu banyak memegang kendali, sentuhannya mewakili segenap perasaannya untuk memiliki.
Sepenuhnya dan hanya untuknya seorang, jiwa dan raga wanita dalam dekapannya harus lah menjadi satu-satunya miiknya. Maka kali ini Darrel yang sudah berada di bukit gairah menggunakan tangannya yang bebas bergerak untuk membelai punggung wanita dalam dekapannya dan perlahan menurunkan resleting pakaian yang dikenakan.
Grey yang menyadari tindakan Darrel seketika terkesiap, dalam deru tarikan napasnya sekuat tenaga tangannya dipergunakan untuk mencengkeram dan berusaha mendorong bahu Darrel yang nyatanya tak berhasil.
"Kumohon jangan lakukan ini," ucap Grey menggeleng berusaha menolak dengan suara teramat lirih.
__ADS_1
"Kamu berusaha menolak setelah sukses membuat juniorku menegang?" Darrel melirik dan mendapati sorot ekspresi asing yang tak ditemuinya selama bersama Grey, yang justru perbedaan itu kini menggelitikinya karena wanita di depannya bersikap seolah-olah lugu dan polos.
Bibir Darrel berseringai, makin menambah aura kharismatiknya yang jelas mampu membuat wanita mudah bertekuk lutut padanya.
"Kali ini aku yang akan membuatmu menyesali kata-katamu," bisik Darrel usai menunduk menyapukan bibirnya pada daun telinga Grey. Membuat wanita itu terkesiap dan salah tingkah.
Dan usai mengatakannya, Darrel dengan gerak secepat kilat mendorong badan Grey hingga terhimpit ke dinding. Sampai ketika Darrel tiba-tiba menggerakkan lututnya untuk membelah tungkai Grey dan mendesaknya untuk masuk menyentuh bagian intim dari tubuh Grey, serta merta keterkejutan bercampur panasnya gairah itu muncul. Tanpa menunggu lebih lama lagi dengan kasar tangan Darrel menyentak bahkan hampir merobek baju yang dipakai Grey.
"Sebut namaku, Grey," bisik Darrel dengan mulai menggerakkan lututnya menggesek pada bagian inti tubuh Grey yang mulai tersiksa akan gairah.
__ADS_1
"Darrel.... Jangan..." Grey berusaha memohon agar Darrel menghentikannya, dengan mata yang mulai berair ia juga makin kuat mencengkram pundak Darrel dengan kuku-kukunya.
Darrel puas dan terkekeh. Dengan sekali sentakan ia merubah posisi, mengangkat badan Grey begitu mudahnya untuk berpindah tempat, merebahkan tubuh Grey di atas ranjang mengungkungnya tak boleh pergi.
Darrel tak sedikit pun mengijinkan Grey mengeluarkan sepatah kata sebab kini ia memagut bibir indah itu dengan gairah yang lebih sensual, sementara tangannya juga bergerak begitu tak sabaran melucuti pakaiannya sendiri untuk kemudian menarik pakaian yang digunakan oleh Grey dengan mudahnya.
Dalam keadaan polos Darrel sudah siap melampiaskan perasaan rindu yang menggebu-gebu dan lewat tiap sentuhan intim nan lembut yang disalurkannya menjadi bukti kalau lelaki itu tengah menikmati momen panjang malam ini.
Sementara di bawah Kungkungan Darrel, tubuh Grey jadi sedemikian lemah. Batinnya menyerukan, mengapa ia jadi menerimanya dengan mudah.
__ADS_1
Lewat cahaya lampu luar yang membias masuk dari arah jendela, kontur wajah Darrel tersoroti dengan jelas. Nampak lelaki itu begitu menginginkannya, dan tak berselang hanya dalam hitungan detik ia terpekik dan tak menduga jika bagian inti tubuhnya yang sudah sedemikian basah terlolosi dengan mudahnya.