
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Andreas sambil menyodorkan berkas-berkas yang menyatakan bahwa Renata adalah Grey. "Di situ terdapat bukti jika hilangnya Grey berselang dengan kedatangan Renata di negara ini. Dia punya riwayat patah kaki dan hilang ingatan disebabkan karena kecelakaan."
Darrel menutup berkas di tangannya lalu bergegas beranjak mengambil kunci mobilnya.
"Mau kemana?" seru Andreas mendapati Darrel yang terburu-buru.
"Ke tempat tinggal Grey."
Senyum di bibir Andreas tersungging, sebab ia tak lagi mengomentari atau repot mengomeli karena bosnya itu sudah memiliki inisiatif sendiri untuk langsung menemui Grey. Ia berharap kerja kerasnya selama ini untuk Darrel membuahkan hasil, sebab ia yang sudah cukup lama mengenal sosok sahabat sekaligus bosnya itu begitu prihatin dengan nasib yang tak sebegitu beruntung bila dibanding dengannya.
Darrel dari kecil tak mendapat kasih sayang orangtua, terlebih setelah Ayahnya menikah lagi Darrel diabaikan. Darrel tumbuh menjadi pribadi yang kaku tapi sejak bertemu dengan sosok Grey, Andreas menilai kehidupan yang dijalani Darrel secercah memiliki harapan seperti orang lain pada umumnya.
"Kamu berhak bahagia Darrel," gumam Andreas menatap kepergian Darrel
__ADS_1
Darrel memacu kecepatan mobil yang dikendarainya di atas rata-rata, tujuannya hanya satu menemukan orang yang sudah sangat ia rindukan.
Tiba di apartemen Grey tinggal, Darrel beberapa kali menekan bel.
Sementara orang yang berada di balik pintu yang baru selesai mandi memanggil-manggil nama Lisa. Sedikit kesal karena yang dipanggil diyakini tak ada di apartemen, Grey bergegas cepat-cepat memakai bajunya. Dan dengan masih memakai handuk di kepala, Grey bergegas menuju arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
Tapi begitu terkejutnya Grey sebab yang berdiri di hadapannya adalah Darrel.
"Ada perlu apa?" Belum mendapat jawaban, Darrel justru masuk ke apartemen lalu menarik dan memeluknya erat. Ia tersentak dan belum sempat mengelak tapi kini dirasanya Darrel yang justru mengecup pundaknya yang kebetulan tak terbalut baju tanpa lengan.
"Sebentar saja. Aku merindukanmu," sahut Darrel yang kian mengeratkan pelukannya.
Grey berusaha meronta tapi pelukan Darrel juga aroma yang tercium di hidungnya terasa begitu familiar membuatnya tak bergerak sesaat. Seperti tak asing, batinnya.
__ADS_1
Menyadari Grey yang tak lagi melawan, kini Darrel mengendurkan pelukannya. Telapak tangannya menangkup wajah Grey dan mengamatinya begitu dalam.
"Kamu tak mengenaliku?"
Bola mata Grey bergerak membalas tatapan Darrel dan ia merasai ada sesuatu yang tak asing dengan sentuhan yang ia rasakan. Tatapan mata yang seolah mampu menenggelamkannya itu seperti pernah dilihatnya, dan degup di jantungnya sudah tak lagi terelakkan.
"Grey," panggil Darrel yang meyakinkannya bahwa lelaki di hadapannya memang tak asing membuat perasaannya jadi berdebar-debar. Tapi kali ini Grey spontan menggeleng yang justru membuat Darrel tak terima jika Grey menolak atau lebih parahnya tak ingat padanya.
Menyadari pintu yang masih terbuka, kini Darrel memutar langkah mendorong badan Grey lalu menghimpitnya di belakang pintu.
"Hentikan Darrel, jangan bertindak macam-macam. Apa yang kamu mau sebenarnya?" Dalam panik dan posisi terhimpit Grey berusaha melawan Darrel yang hendak berbuat macam-macam kepadanya.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Siapa kamu, aku dan juga statusmu," ucap Darrel yang sudah tak ada jarak lagi di antara keduanya.
__ADS_1
"Bukan begini caranya, kita bisa bicara baik-baik," sahut Grey menahan Darrel agar tak berlaku lebih, tapi terlambat sebab usahanya tak diindahkan oleh orang di hadapannya.