Lost Memory

Lost Memory
Tigapuluh Enam


__ADS_3

"Setelah kejadian ini, apa kamu yakin Darrel akan bersedia kembali menerimamu? Jangankan dia, aku yakin orang lain saja pasti tak sudi mendekatimu," ujar Reyno yang dengan tenang mengancingkan kemeja pakaiannya setelah puas dan yakin Grey tak akan bisa lari dari hidupnya.


Sementara Grey yang begitu kacau tergolek lemah tak lagi berdaya, kalau saja ia bisa memilih ia menginginkan mati ketika Reyno mencekiknya tadi.


Tapi yang terjadi ia malah justru masih hidup dengan harus menerima perbuatan biadab Reyno yang dilakukan terhadapnya.


Sakit atas pukulan dan kekerasan yang diterimanya mungkin tidaklah seberapa dibanding dengan harga dirinya yang bahkan sudah tak ada lagi nilainya. Apa yang ia harapkan dari dirinya, hidupnya atau mungkin masa depannya? Nyatanya sudah tak ada.


Lalu dengan perkataan Reyno yang tadi mengatakan Darrel tak lagi menerimanya, Grey juga mengiyakan karena sudah jelas tidak ada harapan lagi yang tersisa. Sekarang, untuk mengakui dan melihat dirinya saja Grey merasa bahwa dirinya sudah sangat begitu hina.


Semua hancur sehancurnya atau mungkin ia akan gila hingga akhir hidupnya?

__ADS_1


Hari yang berlalu juga semakin membuat Grey terpuruk, ia tak memiliki pilihan lain karena dibenaknya tertanam kata-kata tak ada yang mau menerimanya.


Grey frustasi hanya mengurung diri setelah kembali ke tempat dimana ia tinggal sebab memang tak ada tujuan lain. Keinginannya telah kandas. Mentalnya sudah hancur, kepercayaan dirinya juga telah musnah jadi untuk apa lagi ia terus hidup?


Pikirannya yang kacau menjadikannya terus terpuruk, hari-hari yang dilaluinya dipenuhi dengan tangisan kecewa karena keadaan. Dalam lamunannya yang kosong hanya terbesit satu kata, ia ingin mati demi mengakhiri hidupnya yang sekarang ini.


Sampai-sampai ia yang memang tak ingin melanjutkan hidup sudah tak mau menelan apa pun meski Lisa selalu datang membujuk dan melayani, Grey sama sekali tak peduli. Tubuhnya semakin lemah dan nampak lebih kurus.


Adakah yang bisa mengembalikan waktu? Grey terus menjerit dalam hati sambil menangis terisak-isak. Rasanya bertumbuk sakit dalam dirinya dan suara tangis Grey yang pecah membuat Lisa yang memang berada di apartemen mendatanginya.


"Jangan pukuli dirimu lagi. Ren, hentikan kamu bakalan sakit!" ucap Lisa mencekal kedua pergelangan tangan Grey berusaha menghentikan Grey yg menyakiti diri sendiri.

__ADS_1


Tapi hal itu tak serta merta membuat Grey tenang, ia masih histeris dan dengan sekuat tenaga menepis tangan Lisa.


Tapi Lisa tak menyerah, ia beralih mendekap badan Grey erat yang masih berusaha meronta sambil terus berteriak diiringi dengan tangis frustasinya. "Lepasin! Kamu gak tahu apa yang aku rasakan. Aku benci pada diriku sendiri, aku udah gak berhak buat hidup. Aku ini kotor."


"Aku memang tak tahu apa yang udah terjadi dan Reyno lalukan kepadamu, tapi seenggaknya jangan sakiti dirimu sendiri," ucap Lisa mencoba menenangkan Grey.


"Iya. Iya kamu gak akan pernah ngerti dan kamu gak pernah paham dengan apa yang aku rasakan! Sekarang kamu pergi, gak usah pedulikan aku, karena aku udah gak pantas buat hidup," ucap Grey mendorong Lisa.


Lisa jadi semakin simpatik dan mendesak agar Grey mau berbicara. "Ren memang apa yang sudah Reyno lalukan? Kamu cerita ke aku."


Namun air mata Grey mengalir semakin deras, sakit hingga ia mengakui apa yang sudah diperbuat Reyno kepadanya dengan suara amat tercekat, "Dia perk*sa aku."

__ADS_1


Lisa yang mendengar penuturan Grey seperti tak bisa berkata apa-apa, dengan tangan yang bergerak kaku ia hanya mampu merangkul dan memeluk badan Grey yang rapuh dan putus asa.


__ADS_2