
"Agak ke depan, Pak." Danar begitu saja menyahut sedang sang supir tak membantah sedikit pun.
Dari balik spion Danar yang semula melirik tajam kini memalingkan wajah ke arah jalanan. Meyakini wanita yang baru ditemuinya semalam di pesawat dan yang berada di satu mobil dengannya sedang tak baik-baik saja, atau lebih tepatnya depresi.
Harusnya ia abaikan begitu saja, tapi ada rasa mengganjal di hatinya jika ia diam saja. Terlebih wanita itu hanya bawa badan.
"Disini Mas?"
Danar terkejut dengan ucapan supir, wajahnya buru-buru memaling mengecek sekitaran jalanan yang jalanannya keadaan lebih ramai dari sebelumnya sebab tak jauh dari sana nampak sebuah halte pemberhentian kendaraan umum.
Danar menyahut dengan bergumam mengiyakan. Mobil pun perlahan menepi dan sang supir langsung menyebutkan jasa tarif antar sampai di lokasi sekarang ini.
"Delapan ratus ribu, Mbak. Sudah termasuk jasa layanan tol dan satu kali makan siang," sebut sang supir.
Grey dengan ketidaktenangannya membuka tas selempangnya. Lisa memang sempat memberinya uang, tapi baru sekarang Grey mengingat jika uangnya masih dalam bentuk mata uang asing.
__ADS_1
Kini Grey dengan ragu menyodorkan lembaran uang asing itu dan dibalasi supir dengan raut terkejut.
"Waduh. Bayar pake rupiah saja Mbak. Repot pakai uang dolar, lagian nilai tukarnya saya gak tahu."
Danar langsung membalikkan badan, menoleh pada Grey, mengamati uang yang dimaksud dan Danar menyadari tangan yang terulur itu juga gemetaran. Merasa tak beres ia lalu mengeluarkan uang dari dalam tasnya. "Pak, hitung tarif saya dan Mbak yang di belakang," ujarnya.
"Mas mau turun disini ?" sahut supir bingung.
Danar mengangguk mengiyakan. "Saya mau mampir dulu ke tempat saudara," ucapnya beralasan.
"Saya bantu turunkan barang di belakang dulu," ujar supir turun dari mobil lebih dulu dan disusul oleh Danar.
Sebelum supir menuju bagasi belakang, ia sempatkan lebih dulu membuka pintu di sisi kursi tempat Grey berada. "Silahkan turun Mbak," ujarnya.
Grey begitu saja menurut. Ketakutan kembali menyergapnya ketika kakinya menapaki tanah, yang artinya ia harus menentukan kemana arah langkah membawa tubuhnya yang entah mungkin sudah tak lagi berjiwa.
__ADS_1
Harusnya ia dengan mudah menghirup udara dengan bebas, tapi di kondisinya yang tidak sedang baik-baik ini ia seperti tercekik. Dadanya begitu sedemikian sesak, hingga membuatnya terdiam berdiri di tepian jalan menatap kosong kendaraan yang sedari tadi berlalu-lalang.
Air mata yang mengalir dari celah bola matanya seakan juga telah mati rasa. Grey yang memang telah hilang arah, bersama bisikan-bisikan buruk di telinganya, dari anggapan tak ada gunanya hidup di dunia kini menuntun serta menyeret langkah kakinya yang berat untuk melintasi lalu-lalang keramaian di hadapannya.
Langkahnya pelan dengan pikiran yang sudah amat buntu dan tatapan kosong tak menjadikannya sama sekali gentar oleh bising klakson yang menyeru dari tiap kendaraan yang lewat.
Hingga suara pekikan dari arah belakangnya menggema memperingatinya agar Grey bersikap waspada.
"Awaass!" teriak Danar bersamaan ia yang berlari menyusul Grey yang sudah ada di tengah jalan sementara banyak kendaraan yang melintas dengan kecepatan penuh disana.
To be Continued
Novel ketiga ARyanna sudah terbit. Bisa dibeli Lewat Shopee nya Mauza Publishing, atau bila japry ke admin di akun IG Mauza Publishing
__ADS_1