
Grey menggigit bibir bawahnya kuat, perih di tangannya sakitnya tak tertahan. Darah juga semakin mengucur deras, satu tangannya yang masih memegang pecahan beling gemetar lalu menjatuhkan beling itu ke lantai.
Pedih dengan sakit yang tak terkira perlahan-perlahan membuatnya melemah. Grey pasrah dengan hidupnya, tak sedikit pun menyesali tindakannya jikalau ujungnya ia akan terlepas dari tumpukan kesakitan yang menghimpitnya.
Pelan badan Grey ambruk, darah tak hentinya mengalir dari sayatan di pergelangan tangan. Pandangannya kali ini juga ikut mengabur, semuanya dirasa sakit hingga sampai ia tak lagi sadarkan diri.
Sementara di luar kamar Reyno yang masih marah hendak pergi begitu saja, namun dicegah oleh ucapan Lisa. "Rena, maksudku Grey orang yang nekat. Kamu yakin memerintahkanku meninggalkannya tanpa pengawasan?"
Seketika Reyno tercenung, menolehkan tatapannya pada pintu kamar Grey. Mendadak ia jadi khawatir dengan apa yang dilakukan Grey di dalam sana.
Kini dengan langkah cepat ia menuju arah pintu dan membukanya secara tergesa untuk memastikan bahwa tidak akan terjadi apapun, namun baru satu langkah kaki Reyno masuk, ia begitu terkejut dengan apa yang dilihat. Matanya membeliak mendapati Grey yang sudah bersimbah darah, hingga dengan panik ia memanggil nama Grey dan menghampirinya.
__ADS_1
"Rena, apa yang kamu lakukan!" Ucap Reyno mengangkat dan menopang badan Grey yang melakukan percobaan bunuh diri dengan menyanyat pergelangan tangan. "Bodoh, kamu bodoh Ren!" Gumam Reyno yang geram juga panik sambil memeluk Grey yang sudah tak sadarkan diri.
Lisa yang menyusul juga terkejut dengan apa yang terjadi. Wanita itu terdiam mematung, syok melihat darah yang menggenang banyak di lantai. "Dia bunuh diri," gumamnya.
Reyno yang menyadari badan Grey tanpa pergerakan berubah kalut. Wajah Grey sudah sedemikian pucat, hingga Reyno mencoba untuk menepuk pipi Grey berulang-ulang sambil menyebutkan namanya. "Ren bangun! Kamu gak boleh mati!" teriak Reyno yang frustasi.
Reyno kalang kabut. Ia yang melihat Lisa terdiam di ambang pintu pun, langsung membentaknya. "Apa yang kamu lakukan disana! Cepat bantu aku siap kan mobil!"
Lisa dengan tergesa pun menurut sedangkan Reyno bertindak cepat membopong Grey untuk di bawa ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, keadaan Grey langsung ditangani di unit darurat. Kondisinya diperparah dengan kehilangan darah yang cukup banyak. Goresan yang begitu dalam juga mempengaruhi alat vitalnya. Hingga beberapa jam berlalu ia masih belum melewati masa kritis.
__ADS_1
Reyno menunggu dengan begitu cemas, ketakutan terbesarnya adalah jika Grey tak bisa tertolong. Ia sangat mencintai Grey tak mau kehilangan hingga ia menjadi sosok yang sangat posesif.
Reyno begitu tak sabaran ketika dokter yang menangani Grey keluar dari ruangan, Reyno pun menghampirinya untuk memastikan keadaan Grey yang sekarang.
"Bagaimana kondisi kekasih saya, dokter?" Ucap Reyno tak bisa menyembunyikan kekalutan. Ia yang sebenarnya seorang mahasiswa jurusan kedokteran pun sekarang seperti hilang akal.
"Kondisinya sangat lemah dan baru saja melewati masa kritis. Pasien juga kehilangan banyak darah. Akan dipindahkan nanti ke ruang perawatan kalau kondisinya sudah sedikit stabil."
"Tapi kekasih saya baik-baik saja kan dokter?" tanya Reyno belum sepenuhnya lega dengan penjelasan dokter.
"Pihak kami akan mengeceknya secara berkala. Juga akan mengawasinya sampai sadarkan diri. Dan kami pihak dokter juga perlu keterangan dari orang terdekatnya, karena terkait dengan kondisi yang dialami pasien tadi bukan lah hal yang sembarangan. Mari ikut ke ruangan saya," ujar dokter yang memberi perintah agar Reyno mengikutinya.
__ADS_1
To be continued
Ada yang bisa tebak, bagaimana Grey bisa pergi dari jeratan si Reyno??