Lost Memory

Lost Memory
Tigapuluh Satu


__ADS_3

Bibir Grey yang merekah memberi akses lebih pada Darrel untuk mencecap hingga ******* sedemikian dalam. Ia sudah amat begitu merindu dan untuk memastikan jika Grey benar-benar ada di depan mata, ia dengan terpaksa menjeda ciuman itu sejenak.


Terpaan napas yang putus-putus dirasa di kulit wajah saat Darrel menarik jarak, dengan hidung yang saling bersentuhan dan mata yang perlahan terbuka ia mengamati secara lamat orang di hadapannya.


Nyata, Grey yang selama ini menghilang benar-benar nyata tepat di depannya. Perasaan lega menyusupi hati Darrel menimbulkan debaran yang dirasa sudah tak karuan.


Tangan Darrel pun merambat dan mengelus pipi Grey, membuat wanita yang tengah kesulitan mengatur napas itu makin kuat mencengkram pegangan di kemeja Darrel.


Darrel lantas menarik jemari Grey untuk kemudian meremasnya, menjadikan Grey serta merta tersentak dan membuka mata hingga nyaris tak bisa menghindar dari tatapan Darrel yang tajam dan mesra secara bersamaan.


Apa ini gila? Kenapa ia begitu cepat hilang kendali oleh perlakuan yang tak seharusnya terlebih ingatan sama sekali belum kembali. Lebih parahnya dengan jarak yang sebegitu intim ini darah seakan bergejolak dan terasa memanas di sekitaran pipi Grey.

__ADS_1


"Pipimu merona," goda Darrel yang nyatanya menghadirkan debaran di jantung Grey yang sulit dikendali.


Dengan masih sulit menarik oksigen, Grey jadi kepayahan untuk mengeluarkan sepatah kata.


"Darrel kumohon, kita tidak bisa melakukan ini," ucapnya berusaha dengan tangan gemetar menghalau untuk menyingkir.


"Kenapa harus canggung? Biasanya kamu yang menggodaku lebih dulu."


Apa maksud dari kata-kata Darrel sedikit pun Grey tak bisa mencerna, dan dari tatapan yang sulit dihindarkan itu menghadirkan gejolak baru ketika Darrel memiringkan kepala dengan gerak semakin mendekat, dan bisa ditebak apa yang akan terjadi.


Pagutan itu begitu lembut nan memabukkan, dengan retina yang masih menyoroti orang yang memperlakukannya sedemikian Grey hanya terdiam sesaat sebelum ia ikutan hanyut dan memejamkan mata menikmatinya.

__ADS_1


Sungguh sangat gila, kalimat itu menggedor isi pikiran Grey. Tapi gejolak yang sudah sulit dipadamkan kini justru mengerakkan raganya terlena untuk membalas perlakuan Darrel yang semakin sensual.


Tangan Grey yang tadinya mencengkeram kini perlahan mengendur, terulur meraba ke dada bidang Darrel kemudian semakin merambat naik guna meremas pundak kokoh itu. Napasnya sudah tak lagi teratur saat ketidakrelaannya hadir merasai bibirnya yang dilepaskan begitu saja hingga meninggalkan jejak basah.


"Kamu sepertinya sudah tak tahan," ejek Darrel dengan semu bibir bersengai, menatap kilap kemerahan di bibir cantik Grey atas perbuatannya.


Gak? Kalimat itu yang berseru di hati Grey. Gila kah? Kepalanya menggeleng, menampik kalut yang tiba-tiba menyergapnya. Sadarkah tindakan tak tahu malu ini telah menanggalkan harga dirinya hanya demi menuntaskan gejolak yang merongrong di jiwanya yang sudah sulit dipadamkan?


Jawabannya, semakin bola mata itu terus menguncinya justru membuat Grey jadi salah tingkah.


Dan ketika Grey memaling dan hendak mundur untuk sekedar menjauh, usahanya nyatanya tak berhasil. Darrel justru menariknya dalam dekapan yang erat, merendahkan pandangan dengan begitu lembutnya yang justru bermuara pada gairah yang semakin mengelilinginya.

__ADS_1


Darrel membelai pipi Grey dengan sentuhan hangat nan perlahan, dan tak menyia-nyiakan kesempatan lelaki itu kini menekan wajahnya memberikan ciuman yang lebih panas dengan gairah yang melucuti suasana di malam yang hanya diisi mereka berdua.


Yang mau lanjut part-nya, komen biar panas🥴🥴


__ADS_2