
"Darrel maaf. Aku minta maaf..." seruan itu terus terngiang di telinga Darrel seiring dengan langkahnya yang semakin menjauh.
Ia bersikap acuh dan bahkan tak memperdulikan Grey meski mati sekali pun. Namun jauh dari dalam lubuk hatinya justru berkata sedemikian lain. Ia membenci dirinya sendiri ketika langkah kakinya berhenti.
Mulutnya terus saja mengumpat saat ia yang kini justru mengambil langkah untuk berbalik ke belakang menghampiri Grey.
"Bangun lah," perintah Darrel dan kehadirannya mengejutkan Grey.
Seketika Grey mendongak. Tertegun dengan air mata merembes turun yang makin membasahi pipinya. Ia menatap tak percaya Darrel yang kembali datang padanya. "Maafin aku," gumamnya yang kali ini tulus memohon.
"Berdiri. Masuk kamarku," ujar Darrel melangkah lebih dulu menuju kamar yang tidak jadi ditinggalkan.
Grey tak menghiraukan sakit di kakinya, dengan sekuat tenaga ia berusaha berdiri dan lekas menyusul Darrel.
Setibanya di kamar, Darrel langsung mencerca Grey dengan pertanyaan. "Kenapa mencariku kemari?"
__ADS_1
Grey yang baru sampai di ambang pintu langsung menghentikan langkahnya. "Aku sudah mengatakannya. Aku cuma ingin penjelasan."
Darrel mengamati pergerakan kaki Grey yang melangkah terpincang, tapi keingintahuan akan tujuan Grey mendatanginya jauh lebih besar mengakibatkannya mengabaikan hal lainnya.
"Apalagi yang perlu diperjelas!" bentak Darrel yang mulai emosi.
"Setidaknya kamu kasih bukti kalau kita memang benar-benar menikah," ucap Grey memotong perkataan Darrel.
"Bukti?" sahut Darrel yang kali ini dengan tatapan memincing. Ia bergegas melangkah lebar mencekal lengan Grey bersamaan dengan geraknya yang kasar membanting pintu hingga tertutup.
"Bukti apa yang kamu mau? Selain pelampiasan hasrat dari suami istri yang sudah saling lama tidak bertemu," gumam Darrel tepat di telinga Grey.
Sekali Grey memalingkan wajahnya ke sisi tengkuk Darrel, sudah pasti wajah mereka akan saling bersentuhan. Grey masih berusaha dengan tangannya yang menghalau dada lebar orang di hadapannya.
"Kumohon jangan lakukan. Bukan seperti ini yang aku inginkan."
__ADS_1
Dengan masih mempertahankan tangan yang membelit pinggang ramping Grey, Darrel menarik wajahnya untuk menatap Grey.
"Kamu sendiri yang datang, memohon dan meminta pembuktian."
Grey dengan masih ketakutan kini memberanikan untuk mengangkat wajahnya demi berbalik menatap Darrel. "Aku... Aku cuma tak tahu siapa orang yang harus kupercayai," ucap Grey dengan gemetaran.
Darrel semakin menunduk menatap ke dalaman mata wanita yang sudah dipenuhi oleh derai air mata.
"Mungkin selama ini aku acuh. Mendatangimu hanya sekedar jika aku butuh. Tapi apa pun yang terlontar dari mulutku, kebohongan bukan lah caraku," jelas Darrel yang menjadikan Grey tak bisa berkata-kata.
Bola mata mereka saling menatap satu sama lain, tatapan itu seperti menghunus tepat di relung hati Grey. Sorotnya layaknya tak asing, ia hendak mengiyakan bahwa bukan kali ini saja menemuinya. Namun di saat ia berusaha mengingat, justru mendadak kepalanya tersentak ke belakang sebab bibirnya sudah terlebih dahulu disambar untuk ditekan dan dicium dengan gerak sedemikian dalam.
Ada tuntutan dan sarat akan kerinduan dari sebuah pertemuan dari ke dua bibir yang saling bersinggungan, Grey mampu merasakannya dan mengakui jika sikap kasar yang ditujukan kemarin sudah tak lagi berlaku, sebab Darrel kali ini berangsur memperlakukannya dengan sebegitu lembut sampai-sampai di saat matanya terpejam air mata di pipinya ikut meluncur turun.
Apa yang akan terjadi???
__ADS_1