Lost Memory

Lost Memory
Tujuhpuluh Sembilan


__ADS_3

Enam jam yang lalu


"Bapak Darrel, mohon maaf saya mendapat kabar kalau Bapak Andreas tidak bisa ikut hadir pada meeting hari ini. Beliau meminta agar Bapak yang memimpin. Kebetulan para staf sudah hadir dan menunggu meeting dimulai."


Darrel mengalihkan pandangan yang semula menatap ke arah laptop di hadapannya untuk merespon ucapan dari sekretarisnya.


"Untuk bahan meeting juga sudah saya siapkan," ucap sang sekretaris sambil menyodorkan map.


Darrel pun membuka sekilas map di tangannya, kemudian bangkit meninggalkan ruang kerjanya.


Masih dengan aura dingin lelaki itu memulai meeting. Tak banyak kata yang dikeluarkan, hanya ketika pandangannya berfokus pada sekelebat sosok yang ia kenali dari dalam layar monitor yang muncul di hadapannya lelaki itu refleks membeliakkan mata dan dengan tegas menyela menghentikan presentasi meeting yang tengah berlangsung.


"Siapa penanggung jawab proyek ini!" ucap tegas Darrel yang membuat keterkejutan orang-orang di sekitarnya.


"Saya tanya sekali lagi, siapa orang yang bertanggung jawab di proyek ini!"


Darrel tak mampu menahan amarahnya, membuat karyawan yang berada di ruangan itu takut menghadapi atasannya yang tiba-tiba marah. Dan tak berselang dengan raut ketakutan ada salah satu karyawan yang mengangkat tangan mengakui bila proyek itu merupakan tanggungjawabnya.


"Saya Pak..." ucap seseorang mengakui.

__ADS_1


Darrel tak mengubah sikap kerasnya, lelaki itu kemudian berkata, "Berikan lokasi proyek itu sekarang."


"Pak Darrel apabila ada kesalahan di presentasi saya, saya bisa merevisinya kembali. Atau saya sendiri yang akan meninjau letak kesalahannya."


"Saya tidak butuh penjelasan kamu, yang saya butuhkan lokasi tempat kamu melakukan proyek ini!"


"Baik Pak, tempatnya berada di luar kota. Lebih tepatnya..." Belum selesai menjawab, Darrel lekas merebut berkas yang baru saja dibuka salah seorang karyawannya dan dengan seksama Darrel membacanya, kemungkinan tanpa ucapan sepatah katapun lelaki itu meninggal tempat meeting.


Darrel meninggalkan kantor dengan mengendarai mobil seorang diri. Ia memacu kencang kecepatan mobilnya. Hatinya diliputi kegelisahan, sama sekali ia tak bisa membayangkan pertemuannya nanti dengan orang yang selama ini ia nantikan.


"Grey, aku berjanji takkan pernah melepaskanmu. Kali ini aku akan menyeretmu bagaimana keadaanmu!" Geram Darrel sambil memacu kecepatan mobilnya.


Setelah sampai pada titik lokasi pun Darrel belum bisa bernapas lega, hatinya berdebar diliputi kecemasan dan ketika ia menghentikan laju mobilnya karena titik lokasi dalam layar petunjuk arah telah sampai ia menjadi begitu gelisah dan tak dapat mengontrol emosi di hatinya sebab tempat yang didatangi jauh dari perkiraan.


Ada berapa mata yang memandang ke arahnya ketika Darrell turun dari mobil. Dan ketika lelaki menanyai tujuan kedatangannya mencari wanita dengan nama Grey justru yang didapat ketidaktahuan dari orang-orang di sekitar, hingga membuat lelaki itu tak dapat menahan emosi dan amarahnya.


"Jelas-jelas saya melihat Grey ada di sekitaran tempat ini!"


"Siapa orang yang Bapak maksud, disini tak ada yang bernama Grey," ucap salah seorang yang kemudian kembali berkata, "Atau Bapak bisa tunjukkan muka orangnya, barangkali kami tahu."

__ADS_1


Darrel bergegas membuka ponselnya lalu menunjukkan foto Grey.


"Oh Mbak ini, setahu saya namanya bukan Grey..."


Belum selesai menjawab Darrel lantas menyela, "Dimana dia sekarang."


Orang yang berbicara dengan Darrel pun kemudian menunjuk salah sebuah rumah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Bergegas Darrel melangkah lebar dan meneriaki nama Grey hingga lelaki itu tepat berada di ambang pintu namun langkahnya langsung terhenti.


"Siapa anda berteriak tak sopan di rumah orang," ujar wanita paruh baya yang menghadangnya.


"Ada orang yang saya cari, Grey."


Wanita paruh baya di hadapan Darrel sontak terkejut. "Grey, anda siapanya Nak Grey?"


Darrel yang hendak membuka mulut menjawab pertanyaan itu justru terurung sebab sorot matanya menangkap sosok yang tak asing, wanita yang dikenalnya dan yang dicari-carinya selama ini namun sekarang justru nampak dengan kondisi yang berbeda.


Darrel mengamati lekat perubahan itu, perut wanita itu membuncit. Lelaki itu terheran namun tak lama emosi dalam dirinya kembali bangkit. Ia berubah kesal dan kecewa dengan apa yang dilihatnya.


Kini sorot matanya menatap menjurus tajam ke arah Grey, tanga lelaki itu juga mulai terkepal dan tatapan yang tajam itu pula berubah mencemooh ketika matanya menangkap air mata yang jatuh di pipi Grey.

__ADS_1


Mungkin seketika hatinya yang tadi penuh harap dan kecemasan berubah menjadi perasaan benci dan bahkan matanya menjadi enggan menatap Grey. Sontak badan Darrel berbalik, sebab ia kecewa dengan apa yang terjadi. Dan ketika lelaki itu hendak pergi justru kegaduhan di belakangnya mulai terjadi.


__ADS_2