
Grey kepayahan mengurusi bayinya. Apalagi kini ia berada di tempat umum sedangkan bayinya terus mengeluarkan tangis. Insting keibuannya yang merasa jika anaknya telah merasa lapar adalah cepat-cepat memberi makan, yang tanpa disadari Grey terburu-buru melepas kancing bajunya.
Melihat kejadian itu wajah Darrel mengeras. Sambil menahan geram lelaki itu lekas melepas mantel bajunya kemudian menutup tubuh bagian atas Grey dan bayi yang sudah mulai sedikit tenang sebab mulut mungilnya menghisap rakus sumber makanannya.
"Jaga sikapmu, dan sadar diri kamu dimana?" ucap Darrel diikuti napasnya yang berembus kasar.
Grey terperanjat dengan perlakuan Darrel terhadapnya, dalam situasi terdesak seperti tadi ia mengakui dirinya lupa berada dimana. Ia kemudian mengeratkan mantel yang dipakaikan Darrel terhadapnya.
"Maaf," ucap Grey lirih merasa sangat bersalah.
Darrel lagi-lagi membuang napas, ruangan yang hampir padat membuatnya bertambah emosi dan ia sudah tak sabaran menunggu jam terbang. Ia mengamati jam terbang di kartu tiketnya. Harusnya sebentar lagi, tapi pintu gate tak kunjung dibuka.
Wajah Darrel kemudian berpaling dan di satu sisi kini Grey juga tengah menoleh ke arahnya. Hanya persekian detik mereka saling tatap, sebab seruan dari petugas di bandara menyadarkan mereka kalau penumpang sudah boleh masuk ke dalam pesawat.
__ADS_1
Grey segera berbenah dan menenangkan bayinya, beruntung bayi itu hanya merengek sejenak. Setelahnya Grey beranjak menyusul Darrel yang sedari tadi telah berdiri menunggunya.
Tak ada percakapan lagi di antara mereka. Ke duanya mendapatkan tempat duduk bersebrangan.
Perjalanan yang ditempuh hanya berkisar satu jam saja, dan selama perjalanan itu pula mata Grey terjaga. Rasa lelah sudah tak dihiraukan sebab dalam hatinya hanya diselimuti perasaan was-was.
Bukan apartement lama tujuan mereka, melainkan satu tempat asing yang belum pernah Grey kunjungi.
Mobil yang dikendarai Darrel pun terparkir sembarangan. Sesaat lelaki itu melepas sabuk pengaman, kemudian turun dan hanya menyebutkan kata singkat bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Grey segera menyusul, sambil mendekap erat bayinya wanita itu hanya mampu melirik di sekeliling ketika sudah turun dari mobil. Lalu mengikuti langkah kaki Darrel yang menyeret koper besar.
"Bisa saya bantu Tuan," ujar seorang lelaki yang menghampiri Darrel secara tergesa-gesa. Namun Darrel hanya menyerahkan kunci mobil kemudian pergi melanjutkan langkah.
__ADS_1
Grey tak punya pilihan selain mengikuti Darrel dan ia tak menyangka turut disapa begitu ramah oleh lelaki yang baru saja menawarkan bantuan pada Darrel, lantas Grey membalasnya dengan anggukan singkat.
Sebuah bangunan besar terdapat disana, yang Grey yakini rumah utama namun tujuan mereka bukan lah disana, melainkan sebuah paviliun yang berada di seberangnya.
Mungkin kah Darrel sudah mempersiapkan segalanya, segalanya untuk meminta imbal balik sesuai yang dulu pernah Grey dapatkan? Tapi bila dipikir apa yang lelaki itu harapkan darinya? Sementara di luaran sana tentu masih banyak wanita yang lebih menarik darinya?
"Kenapa kamu lakukan ini?"
Darrel tak menjawab. Hanya menggantungkan tangannya di gagang pintu setelah berhasil membuka kunci.
Lantas Grey berujar berusaha keras mengontrol suaranya, "Jika kamu minta dilayani, setidaknya tolong beri aku waktu sampai jahitan di perutku mengering."
Seperti ada yang menusukan paku di kepala Darrel. Kenapa ia sampai melakukan hal sejauh ini? Dan kini serta merta tubuhnya kaku hingga tanpa disadari tangannya kian kuat mencengkram handle pintu.
__ADS_1