
Sepanjang hari Lisa menunggui Grey. Tugas yang dibebankan kepadanya memang lah tak berat, namun berbeda dengan kata hati yang dirasakan.
Dalam diam dan menuruti semua perintah Reyno, ia menyadari bahwa selama ini ia tak pernah dianggap lebih, selain sebagai teman dan orang yang dipercayai dalam segala hal. Termasuk ia yang juga teman seranjang dari pria itu yang tentu tanpa ikatan apa pun.
Dan ketika menyadari hati Reyno lebih condong kepada Grey, Lisa tak mampu berbuat banyak selain ia yang berusaha keras menutupi perasaannya yang entah datang sejak sedari kapan.
Kini Lisa yang berada dalam satu ruangan memandangi wajah Grey. Mata wanita yang ditatapnya itu terpejam lama usai mengalami keadaan kritis karena tindakan ketololan yang tak mau mempertahankan hidup.
Ada perasaan iba yang perlahan menggerus rasa iri yang pernah bergelayut di hatinya. Iya, Lisa iri kenapa harus Grey, orang baru yang datang di antara kehidupannya bersama Reyno. Lalu seiring waktu berlalu justru lebih dekat dengan Reyno, hingga ia harus mendengar kata memuakkan saat Reyno mengaku jika mencintai Grey.
Ketika Lisa menyadari Grey yang baru terbangun dan membuka mata ada perasaan lega di hatinya sekilas ia tersenyum. Tapi beda halnya dengan Grey yang justru lekas berpaling sambil berpura kembali memejamkan mata.
__ADS_1
Tak mau melewatkan waktu sementara hanya ada dirinya dan Grey di tempat ini, Lisa pun membisikkan kata-kata tepat di telinga Grey. "Bertahanlah hidup, karena satu kali ini saja kesempatanmu untuk bisa pergi menjauh dari Reyno."
Mata Grey perlahan terbuka, masih tetap mempertahankan posisinya yang enggan menatap orang di sampingnya, Lisa pun melanjutkan kalimatnya, "Kamu mencoba untuk mati pun bila belum waktunya kamu mati, Reyno juga akan tetap berusaha menyelamatkanmu. Jadi kuyakin usahamu akan sia-sia."
"Aku udah gak ada tujuan," gumam Grey.
"Ada atau gak nya tujuan apa kamu akan pasrah dengan yang Reyno lalukan kepadamu?"
Grey yang cuma diam membuat Lisa kesal dan hampir hilang kesabaran. "Penawaranku cuma sekali. Jangan sampai aku berubah pikiran dan menuruti kata-kata Reyno untuk mengurungmu seumur hidupmu."
Namun respon yang didapat dari Grey justru membuatnya lega. "Gimana caranya kamu bisa membantu kabur dari sini?"
__ADS_1
Dan dengan antusias Lisa kemudian menjelaskan, membisikkan rencananya agar Grey memahami semua perintahnya.
Perintah Lisa hanya satu, Grey harus pulih. Untuk semua dokumen sebagai syarat meninggalkan negara ini semua akan diatur oleh Lisa.
Sebenarnya ada keraguan dalam hati Grey, ia sulit mempercayai orang lain. Terlebih Lisa adalah orang terdekat dari Reyno, ia bingung kenapa Lisa berpihak padanya. Tapi bila dipikirkan lagi kata-kata Lisa memang ada benarnya, selama ia berada di jangkauan mata Reyno itu artinya lelaki itu akan terus mengatur hidupnya sebagaimana sikap asli Reyno yang begitu prosesif terhadapnya.
Grey kini mengamati luka di tangannya yang sesekali masih terasa sakit, sudah beberapa hari berlalu kondisinya sudah semakin stabil ditambah ia yang sudah mau menelan makanan. Reyno yang mengetahui hal itu begitu senang, meski lelaki itu kerap berkunjung Grey tak pernah sudi memperdulikannya.
"Reyno sudah pergi," ucap Lisa yang mengetahui Grey berpura-pura tidur.
Grey yang sedari tadi berbaring miring membelakangi arah pintu kemudian merubah posisi dengan Lisa yang mendekat kepadanya.
__ADS_1
"Suratmu sudah kuurus," ucap Lisa menyodorkan berkas yang diambil dari dalam tas. "Sore ini bersiaplah, aku tak akan mengantarkanmu tapi sudah ada taksi yang kusiapkan. Tiket keberangkatan dan ada dua berkas yang akan kamu bawa, termasuk identitas aslimu ada di dalam sana. Pergilah yang jauh, jangan sampai Reyno dan aku bertemu lagi denganmu."
Grey menerima berkas itu di tangan dan tak menyangka jika Lisa memegang ucapnya.