Lost Memory

Lost Memory
Enampuluh


__ADS_3

Grey mengenakan gaun dengan panjang selutut berwarna pastel yang pas di badan. Penampilannya nampak anggun ditambah rambutnya yang panjang setengah dicurly lalu disibakkan ke samping bahu dan dijepit menggunakan aksen mutiara hingga menampilkan leher dan tulang selangka yang nampak mulus.


Berulang kali ia sibuk membenahi tampilannya, memasang dan melepas anting berulang-ulang hingga ketika ada satu notifikasi masuk di ponselnya ia jadi semakin gugup sebab Darrel mengabarkan sudah di perjalanan dan akan menjemputnya.


Sampai saat suara dari kode pin pintu apartemen mulai terdengar, Grey spontan berdiri dari kursi yang didudukinya.


Darrel yang baru tiba dan membuka pintu jadi terdiam sesaat, matanya yang tepat menatap pada Grey yang berdiri dengan tampilan sebegitu anggun dan cantik tak mampu memungkiri jika apa yang ada di depannya begitu berlebihan tapi ia justru tak memprotes. Malah langsung memberi pertanyaan, "Sudah siap?"


Grey mengangguk tapi detik selanjutnya ia kelabakan mencari keberadaan tasnya dan meletakkan begitu saja anting yang tak jadi dipasang.


Ketika sudah menemukan tas selempang yang berada tak jauh dari kursi sofa yang diduduki, ia lantas berjalan tergesa menyusul Darrel. Sepatu haknya bergema dan sedikit berisik sampai-sampai Grey kesal sendiri karena hanya sepatu itu yang ia bawa.

__ADS_1


Grey jadi tak nyaman, sampai di saat mereka sama-sama di dalam lift untuk turun ke lantai basement, Grey pun mengungkapkan keluhannya. "Hanya sepatu ini yang terbawa. Aku bingung menyerasikan baju dengan sepatunya. Maaf kalau gak cocok."


Dari pantulan dinding lift dengan jelas Darrel bisa mengamati penampilan Grey dari atas ke bawah. Dandanan yang menurutnya sudah serasi dengan gaunnya dan ketika pandangannya sudah turun.... Oh, mungkin yang dimaksud adalah sepatu warna hitam yang dikenakan, batin Darrel.


"Tidak terlalu buruk," sahut Darrel bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


Darrel pun melangkah keluar lift, tentu disusul oleh Grey yang tersenyum simpul atas komentar Darrel.


Dalam perjalanan menuju kantor catatan sipil tak banyak yang mereka obrolkan. Justru Grey sibuk dengan isi pikirannya dan berusaha mempersiapkan diri untuk nanti dalam bersikap.


"Pengacaraku sudah ada di dalam. Tidak akan sampai satu jam selesai," sahut Darrel yang justru menggandeng tangan Grey.

__ADS_1


Antara heran dan terkejut, satu jam kan sangat singkat? Batin Grey yang terus bertanya-tanya dengan langkah kakinya mengikuti kemana Darrel menggandengnya pergi.


Benar adanya ketika sudah sampai di dalam kantor, Darrel disambut oleh pengacaranya. Tak perlu menunggu mereka hanya dipersilahkan untuk menandatangi beberapa berkas. Bahkan yang mengherankan hanya beberapa menit saja waktu yang mereka perlukan lalu buku dan akta nikah sudah didapat.


"Akan kuantar pulang, karena aku masih ada urusan." Darrel berucap ketika sudah sama-sama keluar dari kantor catatan sipil. Akta berserta buku nikah dipegang oleh Darrel.


"Hanya begini saja?" tanya Grey merasa begitu heran sebab jauh dari ekspektasinya. Ia menghentikan langkah agak jauh tertinggal dari Darrel yang sudah berjalan di depan. Ia merasa usahanya untuk berpenampilan yang layak seperti sia-sia.


Darrel berbalik badan, tahu jika Grey tak mengikutinya. "Sudah kudapatkan apa yang kumau, lalu apalagi?" sahut Darrel mengangkat berkas di tangannya.


"Bukannya kita masih harus melewati proses pemberkatan?"

__ADS_1


"Tak perlu. Karena dari awal sudah kukatakan tak ada pesta dan orang lain yang hadir."


Di titik ini Grey merasa sangat terbodohi, bukan dengan Darrel melainkan pikirannya sendiri yang sudah jauh berekspektasi.


__ADS_2