Lost Memory

Lost Memory
Tujuhpuluh Tiga


__ADS_3

Ini adalah pengalaman pertama Grey berbaur dengan banyaknya orang di pasar. Ia yang terlahir dari keluarga berada tak sekali pun pernah menginjakkan kaki yang di sekelilingnya banyak berjajar lapak, beralas tanah yang beratap terpal.


Ia hanya memandang bingung, terdiam dan mengikuti langkah kaki Ibunya Danar sembari berkeliling. Ada proses tawar-menawar sebelum mendapatkan barang yang diinginkan, bahkan Grey sampai dibuat tegang karena ada perdebatan sebab harga belum sama-sama cocok.


Terlebih ketika harus ada drama meninggalkan lapak hingga akhirnya sang penjual mengalah menuruti harga yang ditawar oleh si pembeli, padahal jelas sekali perbandingan harga hanya lah sedikit.


"Ibu, baju tadi kan cuma selisih lima ribu, kenapa tidak langsung dibayar saja. Kasian dengan penjualnya. Wajahnya nampak sedih saat dia menyerahkan barang," bisik Grey merasa tak enak ketika sudah berjalan menjauhi lapak pedagang.


Ibunya Danar memasukkan barang belanjaan ke dalam tas belanja khas yang terbuat dari anyaman plastik pun menyahut. "Namanya belanja di pasar ya harus ditawar. Gak ditawar kita yang rugi, pedagang itu nawarin harga dua kali lipat dari harga asli."


"Darimana Ibu tahu."


"Ya tahu saja," sahut Ibunya Danar yang kembali berhenti di lapak penjual pakaian, memilah-milih pakaian yang tergantung disana Lalu mengambil salah satunya untuk mematutkan pakaian itu di badan Grey. "Di kulit kamu bagus, cantik. Kamu suka kan?"

__ADS_1


Belum Grey menjawab Ibunya Danar justru menanyakan harga pada penjualnya dan menawarnya dengan angka tergolong sadis, sontak saja hal itu ditolak oleh penjualnya.


"Ya gak boleh segitu lah Bu. Masak delapan puluh ribu ditawar tiga puluh ribu, dari sananya belum dapet."


"Halah biasanya juga segitu, tambah lima ribu ya dibungkus." Ibunya Danar tetap memaksa, masih memegangi baju yang bisa dikatakan model daster bercorak bunga-bunga dengan bahan katun.


"Jamannya sudah beda Bu, harga sudah gak biasa. Bahannya loh sudah mahal, belum tukang jahitnya. Ditambahin lagi lah, jangan segitu."


Ibunya Danar nampak sudah suka dengan pakaian di tangannya, sebab dari tadi dipegang dan tak lepas dari tangan. Juga beberapa kali pakaian itu dipaskan dengan badan Grey. "Saya tambah sepuluh ribu ya kalau gitu, bungkusin buat saya."


"Ini anak saya, belum genap tujuh bulan," sahut ibunya Danar dengan bangga menyebutkan.


Sedangkan Grey menanggapi sang penjual yang menatapnya dengan senyum tipis. Tak menyangka perut Grey justru dielus oleh sang penjual itu dan berujar, "Anaknya kembar ya Mbak, belum tujuh bulan kok sudah kelihatan sebesar ini?"

__ADS_1


Dalam keterkejutan karena sikap orang yang bagi Grey asing, Grey pun menggelengkan kepala. "Tidak kembar, cuma ada satu di dalam," ujar Grey dengan suara amat pelan.


"Oh..." sang pedagang itu pun tertawa sungkan, menertawakan anggapannya yang terlalu berlebihan. "Baru hamil pertama kan Mbak?"


Sedang Grey merasa amat canggung dan cuma menganggukinya sebagai jawaban.


"Suaminya gak ikut nganter belanja? Biasanya hamil pertama itu suaminya suka khawatir dan posesif."


Wajah ibunya Danar seketika berubah kecut dengan bahasan itu, seperti tak ada niat untuk membeli ibunya Danar kini berujar, "Anak saya gak tinggal bareng sama suami. Karena suaminya kerja di luar negeri."


"Oh begitu Bu..."


Belum selesai sang penjual itu menanggapi dengan ekspresi terheran dan bangga jika anak mantu dari pembelinya kerja di luar negeri, justru dengan spontan ibunya Danar berujar, "Boleh gak ini saya beli empat puluh ribu, kalau gak boleh saya gak jadi."

__ADS_1


"Belum dapat Bu," sahut sang penjual menolak dengan halus dan canda, namun yang terjadi Ibunya Danar justru menggandeng tangan Grey dan benar-benar pergi tak jadi beli.


__ADS_2