Lost Memory

Lost Memory
Empatpuluh Dua


__ADS_3

Grey gelisah meski telah berada di dalam taksi yang ditumpanginya menuju perjalanan ke bandara. Tak hentinya ia menoleh ke belakang memastikan jika tak ada orang yang mengikutinya dan hal itu disadari oleh sang supir.


Supir itu justru menatap dari kaca spion dengan pandangan curiga. Grey yang tak sengaja melirik ke arah depan dan matanya bersiborok dengan sang supir kini dibuat terkejut luar biasa.


"Apa Nona baik-baik saja?" tanya supir di hadapan Grey.


Grey tak bisa berkata apapun dan yang dilakukannya hanya bisa menggeleng kaku bercampur takut.


Tak ingin supir semakin curiga, Grey kali ini memalingkan wajah. Ia makin mengeratkan gulungan syal rajut yang melingkar di lehernya sambil menutupi separuh wajah.


Sedangkan di Rumah Sakit, Reyno yang rutin mendatangi Grey saat jam makan berlangsung begitu tercengang ketika mendapati keadaan kamar yang kosong.

__ADS_1


Begitu pun di ranjang yang biasa dipakai Grey untuk berbaring pun nampak rapi dengan selimut terlipat, bantal dan sprei sudah terganti.


Dimana keberadaan Grey? Reyno dibuat panik padahal tak ada pemberitahuan dari pihak dokter atau Lisa jika Grey dipindahkan. Bergegas Reyno berbalik badan hendak keluar kamar namun Lisa justru sudah berdiri di ambang pintu.


"Dimana Grey? Dia dipindahkan kemana?" tanyanya begitu tak sabaran.


"Grey pergi," sahut Lisa mengunci tatapan mata Reyno.


"Apa maksudmu!" bentak Reyno mencari kejelasan. Alis lelaki itu tertaut menatap tajam Lisa yang dengan santainya melipat tangan di atas dada.


"Brengsek!" umpat Reyno yang hendak melangkah pergi tapi dihalau oleh Lisa.

__ADS_1


"Selama ini aku yang nemenin kamu lebih lama. Kukira kamu bawa Grey dan obati dia sampai sembuh, kamu lakuin semua itu cuma buat menebus rasa bersalahmu karena udah tabrak dia. Aku berkorban buat kamu tuh udah banyak Rey, sampai aku ikuti kamu kesini juga buat kamu. Kamu memintaku buat ada di samping Grey, itu juga karena kamu. Tapi apa balasanmu? Kukira kamu cuma main-main sama Grey, tapi yang gak kutahu dan bikin aku sakit hati, kamu malah perk*sa dia. Jadi selama ini kamu anggap aku apa Rey!" teriak Lisa meluapkan kekesalan yang sudah lama dipendam.


"Aku udah berkorban banyak buat kamu. Kamu suruh aku buat gugurin kandungan juga aku turuti, karena kamu sendiri yang bilang masih harus terusin sekolah. Tapi kayak gini balasan kamu?" Lisa terisak memukuli lemah dada Reyno.


Tapi lelaki itu bergeming, tak ada tanggapan atau rasa bersalah sedikit pun. "Kamu sendiri yang dengan suka rela menyodorkan diri untukku," gumam Reyno mencekal lengan Lisa agar berhenti memukulinya.


Lisa terperangah tak habis pikir, air mata yang tak pernah sekali pun ditujukan di hadapan Reyno kali ini mengalir deras. "Apa lebihnya Grey dibanding aku? Padahal jelas-jelas kamu sendiri tahu kalau Grey, bisa saja dia itu hanya wanita simpanan atau mungkin cuma wanita bayaran dari kakakmu! Rey, buka matamu, apa aku saja masih belum cukup!"


Reyno menyentak lepas cekalannya dari tangan Lisa, masih menatap dengan sorot dingin ia pun berucap, "Kamu wanita mudah."


Lisa dibuat kehabisan kata setelah yang dialaminya sepanjang ia mengenal Reyno, apa yang telah dilakukannya masih saja belum cukup. Justru ia direndahkan dengan semua ketulusannya, dan tanpa punya rasa empati Reyno hendak pergi begitu saja. Kini Lisa yang sudah kehabisan kata kemudian melontarkan kalimat, "Jangan buat kamu menyesali kepergianmu karena sekarang aku masih mengandung anakmu."

__ADS_1


Langkah Reyno seketika terhenti. Ia yang menoleh menatap tajam pada Lisa. "Bukannya kamu sudah menggugurkannya. Jangan main-main denganku!" bentak Reyno pada Lisa dan hal itu hanya dibalasi dengan gelengan kepala dengan sorot mata lelah.


Dan ketika Reyno menurunkan pandangan matanya tepat di perut Lisa, ia sendiri lah yang kini dibuat kehabisan kata.


__ADS_2