
"Kalau seandainya aku minta tiga kali lipat?"
"Asal kamu bisa melakukan tugasmu dengan baik."
Grey sontak menjatuhkan rahangnya. "Dua tahun jadi istrimu? Lalu setelah dua tahun terlewati apa ada hubungan lagi di antara kita?"
"Terserah. Tidak saling mengenal pun tidak akan jadi masalah kan."
"Tapi kamu baru saja mengenalku dan kenapa harus aku yang kamu beri penawaran?"
"Kupikir karena kita sama-sama butuh. Aku butuh status dan kamu perlu uang."
Grey menganggukkan kepala. "Iya aku memang butuh uang. Tapi apa ini pernikahan sah atau cuma main-main belaka?"
"Sah. Akan terdaftar di pengadilan agama."
Grey masih belum bisa memahami sepenuhnya tawaran Darrel. "Jika dua tahun sudah berlalu itu artinya kita bercerai? Aku punya status janda dan kamu duda? Begitu kah?"
Darrel pun mengangguk sebagai jawaban atas pembenaran ucapan Grey. "Perjanjian pernikahan hanya boleh diketahui dari kita masing-masing."
"Itu artinya orang di luaran sana hanya tahu kita menikah dan hidup berumahtangga baik-baik saja."
__ADS_1
"Bukan."
"Lalu?" sela Grey yang semakin bingung.
"Sebenarnya yang kubutuhkan hanya status tertulis resmi, tanpa melibatkanmu di depan banyak orang. Terserah, kamu bisa melakukan apa pun selama masa kontrak pernikahan, tapi tetap jaga nama baikmu dan jangan berurusan dengan lelaki manapun kecuali aku."
"Apa maksudnya kamu menjadikanku istri rahasia? Kamu tadi bilang aku gak boleh berurusan dengan lelaki manapun, kalau kamu sendiri bagaimana?"
"Aku yang membayarmu, jadi terserah padaku."
Grey sontak mengerucutkan bibir dan bergumam, "Mentang-mentang punya uang."
"Pikirkan, waktuku gak banyak."
"Apa ucapanmu bisa dipegang?"
"Kalau kamu tak setuju aku juga tidak mempermasalahkan."
"Bukan begitu," sahut Grey cepat yang justru jadi was-was sebab kalau lelaki di depannya tak jadi mengajaknya kerjasama, kesempatan emasnya untuk dapat uang dalam jumlah banyak akan lenyap begitu saja. "Aku cuma takut kamu menipuku. Takutnya setelah aku setuju kamu berbohong, uang yang kamu janjikan ternyata cuma iming-iming semata dan aku cuma berakhir sebagai korban yang kamu tipu."
Darrel justru tertawa kecil, Grey yang memperhatikan raut wajah Darrel justru dibuat terkesima. Lekat Grey memperhatikan wajah Darrel yang bila ditebak usianya tak begitu tua, selain itu baginya Darrel cukup tampan.
__ADS_1
"Berapa nomor rekeningmu?"
Sontak Grey gelagapan karena dari tadi menatap dan menikmati wajah tampan di hadapannya. "Rekening..." ucap Grey memeriksa pakaiannya dan ia baru ingat jika semalaman tak membawa ponsel.
"Aku gak hafal. Ponselku, aku juga gak bawa."
Darrel pun merogoh bagian kantong celana yang dipakai lalu mengeluarkan dompet. Di hadapan Grey ia membukanya dan mengeluarkan banyak lembaran uang yang membuat mata Grey seketika membeliak, sebab kali ini Darrel langsung menyerahkan lebaran uang itu kepada Grey.
"Mungkin ini belum cukup, sisanya setelah kita bertemu lagi."
Grey terpaku menatap uang yang diulurkan Darrel, tanpa sadar tangannya justru diraih oleh Darrel untuk menerima uang yang diberi.
"Bawa juga kartu namaku, jika kamu siap hubungi nomorku dan aku akan menjemputmu. Sekarang aku antar kamu pulang," ucap Darrel yang kemudian memutar badan melangkah menuju mobil milik kantor cabangnya.
"Hey, tapi aku belum bilang kalau aku setuju."
"Kamu bisa mempertimbangkan, aku beri waktu semingu. Sekarang aku antar kamu pulang karena aku masih ada urusan."
Grey semakin dibuat bingung mengambil keputusan, lalu ada hal yang muncul di kepalanya sontak ia pun bertanya, "Apa dalam perjanjian nikah nanti aku wajib melakukan tugasku sebagai seorang istri, bukan... maksudku apa aku harus melayanimu?"
Mendengar ucapan Grey, Darrel yang baru membuka pintu mobil terdiam sesaat. Sorot matanya mengarah membalas tatapan Grey lalu berujar, "Iya. Bila kamu tak keberatan."
__ADS_1
Grey sungguh tak bisa mengontrol ekspresinya, sebab tarikan nafasnya mendadak tercekat diiringi dengan kulit wajahnya yang berangsur mengalirkan hawa panas.