Lost Memory

Lost Memory
Empat puluh


__ADS_3

Darrel menekan bel pintu apartemen dengan tak sabaran. Menunggu yang tak hampir lima menit sampai-sampai pada saat pintu terbuka ia langsung mendorong dan mencengkeram kerah baju orang yang berpenampilan berantakan di hadapannya, Andreas.


"Apa maksudmu Grey gak ada di hotel malam itu!" seru Darrel begitu marah. Apalagi perintahnya hanya mendapat jawaban tak jelas, terlebih ia baru bertemu dengan Andreas sekarang terlepas dengan padatnya pekerjaan yang mengharuskannya ke luar kota.


"Kan sudah kukatakan, saat masuk ke kamarmu sudah tak ada siapapun," sahut Andreas seraya menyentak cengkraman Darrel. "Kondisi kamarmu berantakan. Cuma ada secarik kertas alamat rumahmu yang kamu tinggalkan disana."


Wajah Darrel makin serius menatap Andreas, mau tak mau Andreas menjelaskan lebih detail lagi. "Oke kukatakan, aku ke kamarmu pagi harinya. Lagian gak jelas banget kamu ngasih perintah di saat aku tengah bersenang-senang."

__ADS_1


"Brengsek! Aku membayarmu kesana buat bekerja bukan buat mencari kesenangan!" umpat Darrel sulit meredakan amarah, terlebih sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu gemar sekali bersenang-senang terkusus dengan wanita-wanita yang hanya dikencani sekali dua kali lalu berganti dengan wanita yang lainnya, seperti yang dilakukan sekarang. Hingga membuat Darrel berdecih muak.


Namun Andreas justru menertawakannya. "Sayangnya aku bukan robot. Stres, aku juga butuh hiburan. Lagian kenapa musti harus aku yang memastikan Grey ada disana? Harusnya kalau kalian udah disana sama-sama sebelumnya, kenapa kamu tinggalin dia? Apa menyebutkan kalimat ajakan untuk kembali terlalu sulit? Kamu masih mempertahankan gengsimu setelah berada di hadapannya, padahal setahun terakhir kamu sendiri sudah mati-matian mencarinya?"


Andreas geleng kepala tak habis pikir. "Apalagi yang kamu harapin Darrel. Ingat baik-baik, mungkin di waktu itu kamu bertemu dengannya Tuhan telah memberimu kesempatan, tapi jangan harap kesempatan itu bakal hadir lagi kalau cuma kamu sia-siain. Kalau aku jadi kamu sudah kuseret pulang kemari."


Andreas terbahak-bahak. "Nyatanya gak kan sampai sekarang? Sudahlah lupakan kalau begitu!" ucapnya menepuk bahu Darrel. "Cari wanita lain saja atau bila perlu aku carikan," sambung Andreas tertawa mengejek melirik wanita bayarannya yang kini menyaksikan perdebatannya bersama Darrel.

__ADS_1


***


Di satu sisi Grey yang sudah sadar dari kondisi kritis tetap tak ada keinginan untuk melanjutkan hidup. Sudah terhitung dua kali ia dengan sengaja mencabut jarum selang infus di tangan. Padahal cuma itu satu-satunya suplai nutrisi yang bisa masuk di tubuhnya selama tak ada makanan maupun minuman yang masuk dari mulutnya.


Reyno ikut dibuat stres dan bingung dengan keadaan Grey. Ketika ia datang juga Grey sama sekali tak ingin menatapnya dan mau tak mau ia jadi menjaga jarak seperti yang dilakukan sekarang.


Ia hanya bisa mengawasi Grey dari jarak jauh sementara kepercayaannya ia tangguhkan sepenuhnya kepada Lisa, agar setiap saat wanita itu bisa mengawasi Grey dan mencegah tindakan-tindakan buruk yang membahayakan bagi diri Grey.

__ADS_1


Dan kini hanya ada Grey dan Lisa dalam satu ruangan. Ketika Lisa menyadari Grey yang baru terbangun dan membuka mata, ia lekas membisikkan kata-kata tepat di telinga Grey. "Bertahanlah hidup, karena satu kali ini saja kesempatanmu untuk bisa pergi menjauh dari Reyno."


__ADS_2