
"Apa aku nampak di matamu seperti wanita murahan?" sahut wanita yang menatap Darrel kesal menyatakan ketidakterimaan.
Tapi tak berselang lama wanita itu justru berdecak, membuang napas. "Bahkan setelah tahu aku kerja disana, pacarku minta putus," ujarnya dengan nada lelah.
Darrel pun hanya membalas dengan tatapan kepada wanita yang justru mengeluhkan permasalahannya.
"Menyedihkan bukan? Kadang orang kerap menilai cuma berdasarkan sampulnya, tanpa mau tahu dulu tujuanku bisa ada disana."
"Memang apa tujuanmu?" sahut Darrel menyela.
"Uang."
Darrel pun mengangguk-anggukan kepala. Tapi sikap Darrel yang demikian membuat wanita di sampingnya menjelaskan lebih maksudnya.
"Setiap orang pasti juga butuh dengan hal itu. Bisa saja aku bekerja di tempat yang mungkin orang lain bisa sebut layak, tapi hasilnya juga pasti gak sebanding dengan yang aku butuhkan sementara aku cuma lulusan SMA dan kuliah saja terpaksa kutunda. Lalu gak mungkin kan aku pinjam sana-sini sementara gak ada hal yang bisa kujaminkan. Jadi anggapan apa pun tentang orang-orang yang menyebutkan aku wanita gak baik, terserah mereka saja."
"Kamu gak ambil hati?"
"Mau gimana lagi, gak ada pilihan kan?" sahut wanita itu yang terdengar pasrah lalu mengulurkan tangan sambil menyebutkan namanya. "Greysia."
Darrel sejenak menyoroti uluran tangan wanita yang memperkenalkan diri itu, dan ketika mengangkat pandangan ia menemukan wanita itu tengah tersenyum.
"Kamu bisa memanggilku Grey," jelas wanita itu lagi dan Darrel balas menjabat tangan Grey.
"Darrel," sahut Darrel yang menyebutkan nama.
"Rasanya aku udah lama gak ke tempat ini," ucap Grey yang beralih memperhatikan sekitaran.
__ADS_1
"Kamu tinggal dekat dari sini?"
Grey pun menggeleng. "Dua jam perjalanan dari tempat tinggalku. Kamu sendiri?"
"Aku dari Jakarta."
Grey tercengang. "Bagaimana bisa kamu tahu tempat ini?"
"Ada pekerjaan yang mengharuskan aku kesini."
"Bukan, maksudku ini pantai yang gak kerap loh dikunjungi orang-orang," sela Grey yang mengetahui bahwa lokasi tempatnya sekarang bersama Darrel masih terisolir dan jarang didatangi wisatawan.
"Hanya mengikuti insting."
Grey menyipitkan mata, lalu berceletuk mengeluarkan asumsinya. "Oh jadi cuma kebetulan karena belum paham daerah ini kan?"
Grey pun tertawa kecil. "Ya sudahlah. Bagaimana pun untuk yang kemarin aku tetap berterimakasih," ucap Grey tulus.
Darrel membalasi dengan mengangguk singkat. Dan ketika lelaki itu hendak menyalakan mobil, Grey justru berujar, "Mau berjalan-jalan sebentar sebelum pergi? Ayo lah, aku sudah lama gak ke tempat ini."
Grey malah lebih dulu membuka pintu mobil sebelum Darrel menyahuti, lalu dengan menanggalkan baju yang semalam dipakaikan untuknya, Grey bergegas turun dari mobil yang memang terparkir di bahu jalan bersebelahan dengan pantai yang jaraknya tak begitu jauh.
Sejenak Grey berjalan, menaiki pembatas jalan untuk berdiri disana. Angin pun berhembus mengalirkan hawa dingin yang menyentuh kulit hingga masuk ke pori-porinya. Meski mentari telah muncul dan bersinar terang tapi dingin tetap menjalar di tubuh Grey sebab pakaian yang dikenakan cukup minim. Ia lantas menggerak-gerakkan badannya, berulang kali menggosokkan kedua telapak tangan lalu ditempelkan pada pipinya. Mata Grey juga berkilat menatap ombak yang menghantam bebatuan.
"Apa kamu akan kembali ke tempat semalam?"
Dengan badan menggigil menahan dingin Grey menoleh pada Darrel yang sudah berdiri di sampingnya. "Aku gak punya pilihan lain. Sudah banyak yang kupertaruhkan untuk aku bisa bekerja disitu, termasuk mungkin aku harus berhenti untuk tak melanjutkan kuliah."
__ADS_1
"Berapa uang yang kamu perlukan? Apa hanya menuruti kebutuhanmu saja tak cukup sampai harus putus kuliah?"
"Kenyataannya seperti itu, karena aku suka uang jadi banyak yang harus kukorbankan," sahut Grey tertawa datar tanpa ekspresi lalu mengalihkan tatapannya ke arah ombak yang menggulung lalu memecah pada bebatuan.
"Seandainya ada yang menawarimu dengan bayaran sepadan tanpa harus berada di tempat itu, apa kamu bersedia?"
"Bisa dipertimbangkan. Tapi siapa orangnya yang mau berbaik hati ngasih bayaran sebesar itu, rasanya mustahil. Lagi pula pekerjaan apa yang bisa kulakukan?" sahut Grey yang tak mau menanggapi lebih.
"Aku, kebetulan aku sedang perlu seorang wanita."
Grey tercengang, menggeser badannya menatap Darrel berulang-ulang. "Kamu minta buat dilayani, begitu maksudnya?"
"Bukan. Aku butuh seorang istri."
Grey terbahak. "Jangan bercanda, kamu menawariku untuk menikah? Hei, kita gak saling kenal. Please, jangan bercanda berlebihan."
"Aku serius. Aku menawarimu untuk bekerjasama, menjadi istriku dan aku akan membayarmu."
Grey menggeleng, tak habis pikir dengan orang yang baru dikenalnya beberapa jam lalu. "Sepertinya obrolan kita sudah terlalu jauh, aku ingin pulang saja," ujar grey yang merasa telah bertemu dengan orang aneh.
"Kamu menolakku?"
"Jelas aku menolakmu. Kita baru bertemu dan ajakkanmu di luar akal."
"Menikah kontrak, yang kubutuhkan status. Dua tahun dan aku akan membayar sesuai kesepakatan. Berapa yang kamu butuhkan?"
Grey terbengong. Tapi Darrel justru menambahi, "Silahkan kamu sendiri yang memutuskan berapa besar bayarannya."
__ADS_1