
Sudah dua hari Darrel mematikan ponsel. Ia sedang tak mau diganggu, dua hari lamanya ia hanya berbaring di ranjang hotel setelah menenggak berbotol-botol minuman keras.
Pikirannya serba kacau setelah ia menemukan Grey dalam kondisi telah berbadan dua, terlebih terakhir ia meninggalkan wanita itu pasca operasi.
Bayi perempuan terlahir prematur, hanya itu kabar yang ia dengar dari dokter setelah operasi berhasil dilakukan, setelahnya Darrel memilih untuk pergi.
Dalam pikirannya bisa saja disimpulkan jika bayi itu adalah miliknya, mengingat jika dihitung terakhir ia berhubungan badan dengan Grey tujuh bulan yang lalu. Tapi jika iya bayi perempuan itu darah dagingnya kenapa Grey justru tidak langsung saja menemuinya?
Darrel dibuat gila dengan isi pikirannya dan jalan satu-satunya ia ingin mengenyahkan pertanyaan itu dari dalam isi kepala, dan akibatnya ia sendiri terbaring terkapar di kamar hotel seperti sekarang.
Hampir dua hari satu malam terlewati dan kini Darrel terbangun dengan kepala nyeri. Ia berusaha membalikkan badannya yang terasa kaku sambil mulutnya berdesis mengumpat menyebut kata-kata sial sebab kondisinya saat ini.
"Sialan kamu Grey," ujar Darrel yang kemudian menertawakan diri sendiri sebab merasa begitu terbodohi.
***
Di satu sisi Grey masih harus melewati masa-masa pemulihan. Ia sudah bisa melihat putri yang dilahirkannya, hatinya sangat sedih ketika pertama kali tahu kondisi putrinya yang nampak sangat begitu kecil dan rapuh. Bahkan kepala bayinya saja hanya seukuran kepalan tangan orang dewasa.
__ADS_1
Berkali-kali pula Grey menitikan air mata, membayangkan betapa kasihannya bayi tak berdosa yang telah dilahirkannya.
Grey yang sedari tadi termenung kini menoleh ke arah sumber suara, sebab pintu kamar ruang inapnya berderit terbuka. Hatinya tersentak sebab orang yang datang adalah orang yang begitu ditakutinya, Darrel.
"Darrel..." Gumamnya.
Darrel tak langsung menyahuti, namun langkah kaki lelaki itu semakin mendekati ranjang tempat Grey berada. Sedangkan Grey sendiri berusaha keras menyembunyikan ketakutan di dalam hatinya.
Dengan ketakutan yang luar biasa Grey kembali bersuara, "Darrel kenapa kamu kemari?"
"Apa salah aku mencarimu?"
Mendengar permintaan Grey yang penuh harap Darrel menjadi tersinggung. "Apa maksudmu melepaskanmu, setelah aku dengan susah payah mencarimu?"
"Apalagi yang kamu harapkan dari aku? Lihat, kondisiku udah gak seperti dulu. Please, Kumohon. Aku berjanji akan pergi jauh dan aku bersumpah tak akan pernah menggangumu. Bermurah hatilah, kumohon, kuyakin kamu tak akan rugi hanya karena kontrak pernikahan kita yang hanya kurang hitungan bulan. Please, kita akhirnya perjanjian kita..."
Darrel berdecih, "Jangan pernah bermimpi untuk lari dariku setelah kamu melahirkan anakku!"
__ADS_1
Grey tersentak dengan kalimat yang baru saja diucapkan Darrel dan refleks kepalanya menggeleng sebab jelas ia tak yakin anak yang dilahirkan itu milik siapa akibat kejadian mengerikan setelah Darrel meninggalkannya malam itu.
Melihat sikap yang ditunjukkan Grey, Darrel menjadi curiga. Lelaki itu meremas kuat kedua pundak Grey, dan dengan tegas bertanya, "Dia putriku kan?"
Kepala Grey menunduk menghindari sorot tajam Darrel, namun Darrel kembali menegaskan ucapannya, "Grey jawab aku, anak yang kamu lahirkan, anakku kan?"
Grey yang masih bersikeras menghindari tatapan Darrel pun hanya mampu menjawab dengan gelengan lemah. Mengakibatkan cengkraman tangan Darrel serasa mampu meremukkan tulang-tulang di bahunya.
"Jika bukan aku, siapa lelaki yang bersamamu? Apa orang itu, lelaki yang bilang sudah tak ada lagi tanggungjawabnya denganmu lalu melemparkan semuanya padaku setelah aku datang mencarimu!" teriak Darrel dengan penuh amarah.
"Darrel, please kumohon. Ini tak ada sangkut pautnya dengan Danar. Dia orang yang menolongku," sahut Grey takut jika Darrel salah sangka kepada Danar, orang baik yang sudah menolongnya.
"Lalu siapa kalau bukan dia, katakan!" Bentak Darrel dengan keras.
Namun Grey yang berurai air mata justru memilih bungkam. Wanita itu tak menjawab ucapan Darrel menjadikan lelaki itu murka hingga melampiaskan amarahnya dengan melempar barang di sekitarnya sambil mengeluarkan kata umpatan.
Dan Grey dengan usaha kerasnya kali ini memohon, mengabaikan kondisinya ia berusaha turun dari ranjang. Mencabut selang infus di lengannya lalu berlutut di bawah kaki Darrel sambil meminta dengan sangat, "Aku mohon, biarkan aku dan anakku hidup tenang."
__ADS_1
Darrel terkejut dengan tindakan Grey tapi dengan tak mengubah wajah kerasnya lantas lelaki itu menegaskan, "Jangan harap hidupmu bisa tenang sebelum kamu selesaikan perjanjian kontrakmu denganku!"