
"Peralihan kepemilikan cabang perusahaan yang ada di luar negeri belum juga kamu persetujui, sementara benefitnya juga semakin menyusut. Kamu gak berniat mau bikin induk perusahaanmu ikutan bangkrut kan?"
Darrel mengetukan jari di meja. Usaha yang dijalankan banyak yang tak sesuai harapan, terdapat perusahaan cabang dan outlet yang mengalami kemacetan.
Persaingan bisnis hingga banyaknya cabang yang dibuka tanpa riset pasar terlebih dahulu menjadikan besar modal yang dikeluarkan tak terkendali. Dalam tiga tahun terakhir ia sangat optimis tapi saat disusul dengan nilai saham yang jeblok banyak investor yang mundur bergabung di perusahaannya. Terlebih satu tahun terakhir waktunya banyak tersita hanya untuk mencari satu orang yakni Grey.
"Jangan karena kamu terus memikirkan satu wanita menjadikan semua bisnismu hancur. Gunakan kepalamu untuk berpikir." Andreas menekankan ucapannya sambil menunjuk kepalanya sendiri.
"Grey menerima tawaranmu bukan dengan alasan cuma-cuma, karena ada uang. Yang dia butuhkan darimu itu cuma uang, makanya dia dengan suka rela memberikan apapun yang dia punya termasuk tubuhnya. Menuruti semua perintahmu itu karena sudah jadi konsekuensinya atas uang yang didapat darimu. Jadi tolonglah, jangan bodoh. Kamu sendiri yang memulai dan menciptakan permainanmu justru dengan begitu bodohnya kamu sendiri yang hanyut dikendalikan perasaanmu." Andreas menutup kalimatnya dengan berdecih tak habis pikir hingga ia sendiri jadi kesal dan jengkel.
__ADS_1
"Darrel..."
Darrel justru tersenyum miring dan mengangkat satu tangannya agar Andreas berhenti mengoceh. Tapi seolah tak digubris sahabatnya itu kini makin memanas-manasi mood Darrel. "Mana ada wanita yang mau diajak hidup kere, kecuali satu orang yang logikanya sudah terlumpuhkan dengan cinta. Kamu gak akan mengikuti jejak Ibumu kan?"
Darrel seketika menajamkan sorot matanya menatap pada Andreas. Tapi Andreas justru menanggapinya dengan raut yang tak kalah serius. Siapa saja tahu kalau Ibu kandung dari Darrel begitu mencintai suaminya, sampai-sampai cinta membuat wanita itu dibutakan dengan banyak hal. Asal bisa hidup di samping suaminya padahal sudah diperlakukan dengan semena-mena. Parahnya saat Ibu kandung Darrel menganggap kehadiran Darrel bisa mengubah kehidupan pernikahan menjadi lebih baik, nyatanya semua hanyalah anggapan sebab tanpa sepengetahuan, suaminya sudah memiliki wanita lain di luaran sana dan Ibu kandung Darrel cuma dijadikan nomor yang sekian atau lebih parahnya cuma dimanfaatkan.
"Bukan tanpa alasan Ayahmu mengulur pemberian harta peninggalan Ibumu, karena memang dari awal Ayahmu sudah menganggap harta itu miliknya. Ingat baik-baik, dulu dia sempat memintamu agar menunggu usiamu cukup, lalu apalagi alasannya setelah usiamu sudah cukup? Meminta kamu menikah dulu kan, tapi hampir tiga tahun berlalu Ayahmu tetap diam saja. Jadi kalau kamu berniat membalasnya, pertahankan apa yang sudah kamu usahakan sekarang tunjukkan kalau kamu mampu berdiri tanpa sepeser pun harta Ibumu yang sudah diakui penuh olehnya," Andreas lagi-lagi memberi pertimbangan pada Darrel. "Pikirkan!" ucapnya mempertegas.
Darrel menghela, menatap ke arah Andreas dan membuat keputusan. "Urus pencabutan kerjasama yang ada di luar negeri. Untuk urusan investor biar sendiri aku yang tangani."
__ADS_1
"Artinya kamu udah gak perlu sembunyi?"
"Gak ada jalan lain. Aku sendiri yang turun tangan."
Andreas melebarkan senyum. "Nah ini baru Darrel yang kukenal," ucapnya membanggakan.
"Tapi aku masih tetap mengandalkanmu."
Andreas tentu saja mengangguk. Ia paham lingkaran orang yang dipercayai Darrel cuma terbatas, termasuk dirinya yang meski tanpa berucap pun Darrel telah menganggapnya lebih dari sekedar rekan kerja, sahabat sekaligus keluarga.
__ADS_1