
Grey terlelap usai sesi percintaannya berakhir. Dan ia terbangun dalam kondisi tidur tertelungkup dengan punggung terasa begitu berat sebab Darrel tertidur sambil menindihkan separuh badannya di atas Grey.
Grey tahu jika Darrel masih terlelap. Entah sekarang pukul berapa, tapi yang jelas rasanya sudah begitu lama ia tertidur. Juga perutnya sudah mulai lapar.
Kini saat Grey mencoba bergeser justru yang dirasakan sekujur badannya ngilu. Jadi ia memilih pasrah saja, mungkin lebih baik menunggu sampai Darrel terbangun.
Lama Grey terdiam dengan pikiran kosong, tak ada yang perlu dianggap lebih dari kejadian semalam. Semua yang terjadi hanya melibatkan perkara dari imbal balik memberi dan menerima. Tugasnya cuma mengikuti, melayani tentu ia tak wajib memakai perasaan. Meski yang jelas ini akan jadi hal yang tak mudah terlebih saat Darrel...
Gak, ia lekas-lekas memutus anggapan tentang bagaimana sikap dan perlakuan Darrel terhadapnya. Jika memang Darrel baik dan royal, itu semua cuma bonus karena sudah jelas Grey punya batasan. Tak boleh menganggap lebih sebab tak bisa dipungkiri ia berada disini karena tugasnya sebagai teman tidur atau kasarannya pemuas nafsu.
Napas Grey kemudian terhela disusul dengan suara serak yang terdengar di belakangnya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Darrel dengan badan beringsut menjauhi Grey.
"Belum lama," sahut Grey yang kemudian menelantangkan badan dengan gerak hati-hati sambil mengeratkan selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya sebab Darrel beralih posisi menyandarkan punggung pada headboard.
__ADS_1
Grey memalingkan kepala, mendongak ke arah Darrel untuk tersenyum simpul kepada lelaki itu. "Tidurmu nyenyak semalam?"
"Lumayan," sahut Darrel usai mengusap wajah dan berbalas menatap wajah Grey. Tangan lelaki itu kini juga terulur menggapai puncak kepala Grey, mengelusinya sejenak.
Grey sangat menikmati moment ini, sampai saat Darrel berhenti mengusap kepalanya... Grey justru berinisiatif menggenggam tangan Darrel. Menyematkan jemari lelaki itu dan jarin-jariya, digenggamnya erat lalu punggung tangan Darrel di arahkan pada bibirnya untuk dikecup sedemikian dalam.
"Boleh gak sih aku bilang, kalau aku tuh beruntung banget bertemu denganmu," ucap Grey yang bermanja-manja dengan tangan Darrel yang masih digenggam lalu ditempelkan pada pipinya.
"Andai bukan kamu orangnya, aku gak akan tahu nasibku sekarang. Bisa jadi aku masih ada di club dan banyak bertemu dengan pria hidung belang. Terimakasih, karena kamu hidupku jadi terselamatkan dan dengan kebaikanmu juga hidupku jadi lebih terjamin." Grey sebenarnya geli sendiri dengan kata-kata yang diucapkan, namun kembali lagi resikonya memang harus dengan jalan yang seperti ini. Mengesampingkan rasa malu dan memuntir lidahnya dengan kata-katanya penuh rayu.
"Kenapa?" sahut Darrel yang menarik dagu Grey agar mereka saling tatap.
"Cuma tanya, bisa aja kamu setelah bangun langsung pergi gitu aja. Kan kata kamu kalau datang bakal semaumu aja."
"Tiga hari aku berencana menginap."
__ADS_1
Mata Grey langsung membeliak dan membuat bibir Darrel berseringai kecil. "Tiga hari terlalu cepat?"
"Gak, bukan." Grey seketika tergagap tiga hari baginya cukup lama apalagi, asstttt.... rasanya jadi ingin ditinggalkan selama saja oleh Darrel, batin Grey mendadak kesal.
"Kenapa cemberut?" ucap Darrel dengan ekspresi wajah Grey yang mendadak muram. Lantas lelaki itu beringsut membisikkan sesuatu di telinga Grey. "Kalau tiga hari itu singkat, coba mau kulihat seberapa besar upaya dan kerja kerasmu supaya bisa mengulur waktuku untuk betah tinggal bersamamu."
Seketika Grey menjerit. "Ahhh... jangan."
"Kenapa?" sahut Darrel yang tadinya menggigit kecil telinga Grey.
Dengan takut-takut dan ucapan berbisik, Grey mengatakan bahwa, "Yang semalam masih sakit."
Tapi keluhan itu justru dibalasi Darrel dengan ekspresi senyum penuh arti.
Flash back nya 1 part lagi ya pemirsa 😌
__ADS_1