Lost Memory

Lost Memory
Duapuluh Delapan


__ADS_3

Grey geram, dengan kesal ia menendang pintu yang justru membuatnya meringis kesakitan.


"Sial!" desisnya sekali lagi memukul pintu sebagai pelampiasan.


Yang dibutuhkan sekarang hanya berfikir waras, gumam hati Grey berusaha tenang. Bagaimana pun ia harus cari cara untuk segera keluar dari tempatnya sekarang.


Ia tak habis pikir dengan tindakan Reyno yang malah mengurungnya.


"Benar-benar psikopat," gumam Grey spontan dan tersentak dengan kalimat yang ia sendiri ucapkan.


Hatinya juga mendadak diselubungi perasaan was-was, jika benar Reyno orang yang demikian ia berarti sudah salah tempat.


Grey pelan membuat sendiri kesimpulan, bagaimana pun ia harus segera bertemu dengan Darrel meminta penjelasan tentang dirinya.


Mengangguk yakin Grey kemudian melanjutkan untuk berkemas. Bukan membawa pakaian melainkan ia memasukkan barang-barang penting ke dalam tasnya untuk berjaga-jaga, sebab seberapa lama ia dikunci di dalam kamar pasti akan ada waktunya pintu itu terbuka dan ia akan mengambil kesempatan untuk bisa pergi dari tempatnya sekarang.

__ADS_1


Dimana waktu berlalu Grey masih menunggui. Bahkan ketika sudah hampir menjelang sore dan sesuai dugaannya pintu yang tadinya terkunci kini dibuka oleh Lisa.


"Reyno menyuruhmu makan," ucap Lisa berdiri tepat di depan pintu dengan membawa nampan berisi makanan.


Grey tak kunjung mengulurkan tangan untuk menerima tapi tiba-tiba ada ide tercetus di kepalanya.


Dengan menahan gugup, Grey pun memasang tampang pura-pura kesal. "Lama sekali kamu mengunciku, kamar mandi di dalam saluran pembuangan airnya mampet lagi sampai-sampai seharian ini aku menahan untuk kencing," ucap Grey mengeluh.


"Kenapa tidak memanggilku."


"Sudah, aku bahkan menggedor pintu tapi kamu tak merespon."


"Ya mungkin," sahut Grey masih menyembunyikan kegelisahan dan mencari cara agar rencananya berhasil keluar dari apartemen sekarang.


"Apa aku perlu panggilkan tukang service pipa?"

__ADS_1


Grey jadi gelagapan, tapi bukankah ini juga jadi kesempatan karena Lisa mempercayainya. "Tentu, tapi coba kamu cek dulu masalah yang di dalam."


"Maksudmu aku harus melihat toiletmu yang tersumbat?"


"Bukan, maksudnya kamu kan yang menelpon tukang service jadi kamu juga harus menyebutkan keluhannya. Aneh saja kalau cuma mengadu toiletnya rusak."


Lisa mendengkus. "Oke aku periksa toiletnya. Ini ambil lah," ucap Lisa menyodorkan nampan yang tak kunjung diambil Grey.


"Ah iya," ucap Grey menerima nampan berisikan makanan dan Lisa melewatinya masuk ke dalam kamar untuk mengecek kamar mandinya.


Dengan jantung yang penuh debar Grey mengamati langkah Lisa yang semakin dekat dengan kamar mandinya, dan Grey tersentak cepat-cepat menaruh nampan di tangannya ke meja untuk segera menyusul Lisa.


"Ren dimana yang tersumbat? Aku tidak menemukan ada masalah di kamar mandimu," ujar Lisa dari dalam kamar mandi.


Grey pun lekas mengambil langkah, buru-buru menuju ke arah kamar mandi, lekas menutup pintu dan menguncinya dari luar. Sementara Lisa baru menyadari kalau dirinya berbalik terjebak disana karena akal-akalan Grey, sontak ia marah dan meneriaki agar pintu dibuka.

__ADS_1


"Rena buka pintunya, jangan macam-macam atau mencoba kabur. Kalau sampai ketahuan Reyno kamu akan menyesal," teriak Lisa yang menggerakkan ganggang pintu sambil menggedor dengan keras.


Grey tak peduli, dengan gelisah dan buru-buru ia lekas mengambil tas yang sudah dipersiapkan lalu dengan yakin ia meninggalkan apartemen saat itu juga.


__ADS_2