Lost Memory

Lost Memory
Tujuh puluh


__ADS_3

"Grey bilang suaminya akan jemput, sudah kasih kabar ke kamu kan Nar?"


Di tengah makan siang yang berlangsung, Ibu dari Danar buka suara dan jelas saja hal itu mengejutkan Danar begitu pula dengan Grey yang justru sikapnya langsung berubah gugup dan takut. Apalagi sorot mata Danar kali ini menatap ke arahnya mencari kejelasan.


Hingga Grey yang tak nyaman dengan situasi ini pun berusaha menutupi kegelisahannya. Keputusannya sepertinya kali ini tak tepat karena nampak dari reaksi Danar yang menatapnya dengan tatapan protes.


Sesegera mungkin Grey kini lebih memilih memalingkan wajah menghindari kontak mata dengan Danar terlebih ia belum siap jika harus dicerca dengan pertanyaan lain lalu berdebat, sungguh kebohongannya sudah pasti akan terbongkar.


"Belum, tapi nanti biar Danar telpon langsung ke orangnya," sahut Danar yang ternyata tak memperpanjang topik bahasan dan langsung melanjutkan makan.


Sedangkan Grey meski sudah sedikit lega tapi ia masih terbawa perasaan tak enak, sampai makan pun tak dilanjutkan.


"Ayo dihabiskan," ujar Ibu dari Danar yang menyadari jika Grey tak lagi meneruskan makan.


"Grey sudah sangat kenyang Bu. Boleh Grey makan nanti sisanya."


"Sudah taruh saja piringnya disini gak apa-apa, nanti Ibu bereskan. Kalau sudah kenyang langsung siap-siap saja ya, biar Danar segera antar kamu periksa ke dokter."


Grey tak bisa menolak, ia kemudian meninggalkan meja makan dan bersiap-siap. Beberapa menit kemudian terdengar deru mesin mobil di pekarangan rumah, Grey pun segera keluar dari kamar.

__ADS_1


Nampak Danar yang sudah berada di dalam mobil ketika Grey keluar rumah, begitu juga Ibunya Danar yang mengantarkannya untuk naik ke samping kemudi mobil.


"Bawa mobilnya hati-hati Nar, gak usah ngebut," ujar Ibunya Danar memberi nasehat. Setelahnya Danar dan Grey berpamit untuk pergi.


Di perjalanan Grey bingung harus memulai pembicaraan dari mana, namun usai mobil yang ditumpanginya keluar dari kampung tempat tinggal Danar justru yang lebih dulu bersuara.


"Sudah kamu pikirkan tujuanmu kemana?"


"Sudah." Grey menyahut dengan kalimat tak yakin.


"Kemana?"


"Kulihat ada dua dari kartu identitasmu. Alamat mana yang kamu tuju?"


Danar tahu hal itu sejak awal ketika membawa Grey ke puskesmas dan memeriksa kartu identitas. Awalnya ia terkejut dan mengasumsikan sendiri kalau Grey bisa pergi ke luar negeri dengan jalur salah lalu pulang membawa masalah, entah yang asli mana ia bukan termasuk orang yang ingin ikut campur urusan orang lain. Syukur orang itu mau bercerita kalau tidak ya Danar tak akan ambil pusing.


Tapi alasannya membawa Grey pulang bersama ke kampung halamannya adalah sebab terpaksa karena wanita yang duduk di samping kemudinya itu sempat memohon-mohon padanya minta diselamatkan hidupnya.


Danar pun membuang napas, dari sikap Grey yang dilihatnya dinilai wanita itu bimbang. Ada ketakutan yang tak bisa tertutupi dari awal ia bertemu hingga sekarang. "Aku bukan bermaksud mengusirmu tempo hari lalu. Tapi ya kamu harus mulai berfikir..."

__ADS_1


"Iya aku tahu, maaf aku sudah membuat keluargamu repot."


Danar berdecak. "Bukan perkara direpotkan. Kamu dalam kondisi hamil, perlu ada yang memperhatikan. Juga harus ada yang mau mendukungmu dan lebih baik itu dari pihak keluarga."


Grey mengangguk kaku, harusnya memang begitu tapi ia tak ingat apapun dan ketakutannya jadi bertambah besar kalau seandainya ia mendatangi salah satu alamat dari kartu identitasnya kemungkinan besar Reyno bisa saja dengan mudah menemukannya.


Memikirkan kemungkinan itu Grey jelas tak sanggup, ada trauma begitu besar dan itu membuatnya tiba-tiba merasakan sesuatu yang sesak di dadanya. Grey tak bisa untuk tak menahannya, dengan menekan dadanya dan menyandarkan punggungnya di jok mobil Grey kesulitan mengatur napas.


Danar sadar dengan apa yang dialami Grey, cepat-cepat lelaki itu menepikan mobil dan panik dengan keadaan yang terjadi pada Grey.


"Grey kamu kenapa?" ucap Danar memeriksa keadaan Grey.


Namun Grey justru menggeleng menahan sakit. "Sesak," sahutnya terbata.


Danar makin bingung tak bisa bertindak apa pun dan ia sadar jika tujuannya sudah tak jauh lagi. "Kamu tahan ya, kita ke tempat dokter," ujarnya panik yang tanpa perhitungan langsung membelokkan stir bersamaan memacu mobil.


Tapi kini hal yang tidak diketahuinya justru dari arah belakang ada mobil yang sedang melaju dan tak dapat dihindari kedua mobil itu kini saling menubruk satu sama lain.


Apa yang terjadi selanjutnya???

__ADS_1


__ADS_2