Lost Memory

Lost Memory
Limapuluh Satu


__ADS_3

Sudah dua pekan Andreas ditugaskan mengurusi pemutusan kerja yang ada di luar negeri. Kini sebelum kembali dari Jepang, ia berinisiatif mencari keberadaan Grey meski hal itu kemungkinan mustahil tapi ia berusaha keras demi membayar rasa penasarannya untuk tahu minimal informasi dari penyebab Grey yang meninggalkan Darrel.


Seharian ia telah menghabiskan waktu berada di apartemen tempat yang setahunya pernah ditinggali oleh Grey, tapi ia masih belum puas dengan kabar yang didapat dari pemilik aslinya. Sebab dikabarkan sewa tempat sudah tak diperpanjang lagi terlebih kabar yang mengejutkan tempat itu telah kosong dari satu minggu yang lalu.


Andreas sempat mengira telah kehilangan jejak Grey, tapi ketika ia berinisiatif menunjukkan foto Grey dari layar ponselnya pemilik apartement itu pun memberi penjelasan dari orang yang dimaksud.


"Pasti anda mengenal orang difoto ini kan? Dia orang yang menyewa tempat ini." Andreas bertanya dengan menyodorkan ponsel beserta menunjukkan foto Grey.


Pemilik apartemen itu pun mengangguk. "Iya. Tapi dua bulan ini orangnya sudah tak terlihat sejak dibawanya ke Rumah Sakit."


Andreas tercengang. "Dia sakit apa?"


"Kurang begitu tahu tapi saat dibawa keluar terlihat banyak darah di badannya. Kamu siapanya?"

__ADS_1


"Saudaranya," sahutnya asal tak menyembunyikan raut khawatir dan ingin tahu lebih dengan apa yang terjadi pada Grey.


"Dulu sewaktu pertama tinggal disini juga sakit, cukup lama dan kemungkinan baru beberapa bulan bisa berjalan."


Andreas mulai mengingat kaki Grey yang jalan terpincang dan ucapan dari pemilik apartemen itu makin meyakinkannya ada hal lain yang tak beres. "Ceritakan apa yang kamu ketahui tentang dia."


Raut wajah orang itu jadi mulai curiga. Terlebih perbedaan bahasa juga menyulitkan Andreas untuk berbincang dengan lebih detail.


"Siapa namanya?" sahut Andreas cepat.


"Rey. Disini dia sering dipanggil Rey dan wanita difoto ini namanya Rena, kalau wanita satunya lagi...."


Andreas dibuat tak habis pikir, belum selesai orang di hadapannya menenuskan kalimat dan ia sendiri hendak menyangkal jika orang yang difoto bukan Rena justru ponselnya berdering. Ia pun berucap permisi untuk mengangkat telpon sejenak.

__ADS_1


Andreas bagai dihimpit waktu, jadwalnya terulur dan ia telah diminta dari pihak induk perusahaan untuk kembali secepatnya. "Beritahukan Darrel, ada hal penting yang masih kuurus disini. Pokoknya jangan banyak tanya aku kembali kapan, urusan menyangkut perusahaan langsung serahkan ke Darrel!" ujar Andreas pada sekertaris sebelum menutup telpon secara sepihak.


Ia jadi kesal, harusnya apa yang dilakukannya sekarang bukan jadi urusannya. Tapi menyadari bosnya sekaligus sahabatnya yang bodoh itu dalam hal perempuan, menjadikannya harus turun tangan.


Informasi yang didapatnya pun belum memuaskan, terlebih saat ia meminta alamat Rumah Sakit tempat Grey pernah dirawat orang itu tak tahu jelas dimana.


Andreas benar-benar dibuat pusing dan saat ponselnya berdering lagi, nama Darrel yang muncul di layarnya.


"Masih belum selesai urusan yang disana?"


Andreas membuang napas. "Ada informasi yang kudapat dari kabar Grey."


Tak ada jawaban dari seberang sana, tapi Andreas tetap melanjutkan ucapannya. "Harusnya aku tak perduli dengan urusanmu yang satu ini. Tapi entahlah, kakiku menuntunku sampai di tempat ini, tempat yang pernah ditinggali Grey. Aku dapat kabar kalau kakinya yang pincang itu, sempat mengalami lumpuh. Cari tahu dari keluargamu, kemungkinan Grey sampai sini disebabkan ulah tangan mereka."

__ADS_1


__ADS_2