
Grey menggenggam kartu identitasnya usai membaca dengan seksama. Alamat yang tertera disana sangat jauh, parahnya ia masih tak ingat apapun dan kemana tempat yang tepat ia tuju sungguh ia tak tahu.
Menundukkan kepala, Grey begitu kesal. Semakin ia memaksakan kepalanya untuk berfikir tetap saja mustahil menggembalikan ingatannya.
"Sampai kapan aku bisa mengambil keputusan?" gumam Grey dengan sorot sendu yang seolah hidupnya tak ada harapan.
"Kenapa kamu harus hadir, sementara masalahku saja sudah begitu banyak." Grey menatap perutnya. Rasa tak menginginkan jelas sekali ada, bahkan untuk sekedar melihatnya saja hati Grey benar-benar sakit. Apalagi mengelusnya, itu jarang sekali dilakukannya.
"Apa kamu akan bertahan sampai nanti terlahir?" Grey menangkup wajahnya. Tangisannya mungkin tanpa suara tapi ia tak mampu meredam emosi dalam dadanya. Rasanya menyesakkan dan terlampau menyakitkan.
Grey mengunci diri di dalam kamar, beberapa hari sejak ucapan Danar kemarin terngiang-ngiang di kepalanya. Meski lelaki itu tak menyinggung lagi tapi tetap Grey harus tahu diri, secepat mungkin ia harus menentukan solusinya atau memang satu-satunya harus segera pergi dari tempat yang sudah tiga bulan ini ditinggali.
Usai tangisnya reda dan mulai sedikit tenang, kini Grey beranjak dari ranjang dan berbenah diri lalu berkemas. Cepat atau lambat ia juga harus pergi kan? seru batin Grey yang berharap keputusan yang diambil tepat.
__ADS_1
Grey datang memang tak membawa banyak barang, namun selama tinggal disini ada saja yang didapatkannya, termasuk beberapa setel pakaian yang diberi oleh Ibu dari Danar termasuk juga dari Danar sendiri yang prihatin dengan kondisinya.
Karena Grey butuh barang-barang itu maka kini ia ikut mengemasnya, uang yang selama ini dibawa pun juga masih utuh jadi ia yakin bekalnya pasti akan cukup.
Ditengah Grey yang berkemas kini pintu terdengar diketuk, suara dari wanita paruh baya itu memanggilnya dari luar. Memanggil nama Grey agar segera keluar dari kamar.
"Kenapa pintunya dikunci?" tanya Ibu wanita paruh baya itu saat pintu telah terbuka, dan sontak saja terkejut mendapati barang-barang yang dikemasi di dalam tas yang ukurannya tak begitu besar. "Mau kemana? Kenapa barangnya dikemasi?"
"Memang suamimu sudah mau pulang?" tebak Ibu dari Danar dan mendekat pada Grey.
Grey lantas terpaksa menggangguk mengiyakan meski hatinya berbalut perasaan cemas.
"Kapan suamimu ngabarin? Apa Danar sudah tahu?"
__ADS_1
Wajah Grey mendadak berubah pias dan ia tak mampu menutupi nada bicaranya yang tergagap. "Habis selesai ini, rencananya mau ngabari Ibu dan Mas Danar."
Ibu dari Danar hanya menganggukkan kepala. "Ya sudah, berkemasnya ditunda dulu ya. Ibu sudah siapkan makan siang, habis makan Danar anterin kamu ke dokter."
"Ke dokter Bu? Grey gak sakit," sahut Grey serta merta bingung karena kondisinya baik-baik saja.
Ibu dari Danar langsung tersenyum. "Bukan kamu, tapi kandunganmu yang perlu diperiksakan. Semenjak kamu disini kan belum pernah cek kandungan."
"Tapi itu gak perlu Bu. Grey rasa kandungan dalam perut Grey sehat dan gak ada masalah."
Grey masih berupaya menolak tapi Ibu dari Danar justru merangkul dan mengelus perut buncit Grey. "Paling tidak upayakan yang terbaik. Kalau diperiksakan, kita nanti jadi tahu kondisi yang ada di dalam sini. Dokter juga akan memberi saran-saran yang baik bagaimana persiapanmu untuk jadi ibu nanti. Kita juga bisa tahu kan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan nanti. Apalagi sekarang Ibu prihatin, banyak anak lahir dengan macam komplikasi."
Grey tersentak ia yang tak pernah memperhatikan perkembangan kandungannya juga tak bisa membayangkan akan tumbuh seperti apa nanti bayinya .
__ADS_1