
"Gugurkan!" tegas Reyno tak berbelas kasih.
"Kandunganku sudah sembilan belas minggu Rey. Janin dalam kandunganku hampir sempurna, dia bernyawa. Tega kamu mau bunuh darah dagingmu sendiri," ungkap Lisa memohon pengertian pada Reyno.
Namun Reyno seakan tak mau tahu, ia menepis tangan Lisa dari lengannya. "Sudah kukatakan dari awal, aku tak menginginkannya. Kamu sendiri juga setuju untuk melakukan aborsi."
"Aku pikir kamu masih bisa berubah Rey," gumam Lisa yang justru orang di depannya berpaling muka juga berdecih sinis.
"Gak ada yang lebih dari hubungan kita selain cuma kesenangan. Kamu juga menikmati uangku. Fasilitas yang kuberi, apa kamu pikir semua hanya cuma-cuma? Gak. Itu bayaran yang pantas buat kamu, wanita murahan." Reyno mempertegas ucapannya dengan sambil mengejek, lalu dengan tak berperasaannya ia melanjutkan langkah pergi begitu saja dari hadapan Lisa yang hanya mampu menangis menunduk dalam diam.
Tiba di luar gedung Rumah Sakit Reyno kelabakan mencari keberadaan Grey. Ia mengumpat tak habis-habisnya dan kesal sebab ia kebingungan harus dimana lagi bisa menemukan Grey.
__ADS_1
Hendak kembali lagi pada Lisa, hal itu tak kan terjadi sebab sudah pasti wanita itu akan bungkam. Reyno lantas menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk dimintai bantuan lalu ia kemudian berinisiatif dan beralih mencari informasi dari petugas keamanan Rumah Sakit.
Setelah Reyno bersikeras memohon agar diperlihatkan rekaman CCTV di kawasan Rumah Sakit, dalam perkiraan satu jam yang lalu kini telah ditemukan orang yang dicari. Grey nampak berjalan gelisah keluar dari area Rumah sakit dan setelah diselidiki lebih lagi yang terlihat terakhir kali wanita itu menyeberangi jalan untuk menghampiri mobil taksi yang terparkir tak jauh dari kawasan Rumah Sakit.
Bergegas Reyno mencatat nomor taksi itu yang kemudian dengan bantuan orang kepercayaannya ia bisa terhubung dengan mobil taksi yang ditumpangi oleh Grey. Dan dalam waktu satu jam yang sudah lewat, sang supir hanya menginformasikan bila ia sudah mengantarkan penumpangnya ke bandara.
Reyno yang kalut kini memacu mobilnya dengan kecepatan penuh menyusul dimana Grey berada. Bandara dan sudah satu jam berlalu, harapannya hanya satu, pesawat belum berangkat atau ia berharap penerbangan saat ini mengalami delay sebab ia jelas tak ingin kehilangan jejak Grey.
Saat mendengar pengumuman jika seluruh penumpang di persilahkan untuk melakukan pengecekan tiket, Grey buru-buru bangkit dari kursi tunggunya. Sambil menggenggam erat tiket di tangan, Grey juga sengaja menyelinap di antara antrian agar tak dikenali oleh orang yang mungkin mencarinya.
Sampai-sampai di tengah banyaknya orang Grey yang tak bisa tenang menjadi sangat ketakutan hingga badannya kini ikut gemetaran. Lagi dan lagi ia kembali jadi pusat perhatian saat menyadari ada orang yang menoleh kepadanya.
__ADS_1
"Are you okey?"
Grey semakin menunduk, menarik sedikit ke atas syal yang dipakai untuk menutupi separuh wajah. Dan ia menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala, lalu bergeser maju saat pintu antrian yang lain juga dibuka.
sambil ngiklan ya kakak-kakak, karena love not Disscus sudah terbit cetak...
yang mau pinang bukunya bisa chat nomor dibawah
__ADS_1